Aku dan Sosial Media.

Minggu, 21 Juni 2020

Gimana hubunganku dengan sosial media sekarang, ya?



Sepertinya, di postingan aku yang ini, aku terlihat sangat nethink terhadap sosial media. Kesannya di mataku tuh sosial media terlalu buruk bagi kesehatan mental. Padahal sebenarnya bukan terlalu buruk, hanya buruk saja huahaha, tapi efeknya timbul hanya pada sebagian orang saja kok, yang mungkin dosis bermain sosial medianya terlalu tinggi seperti aku dulu.

Di sisi lain, sebenarnya, sosial media mempunyai pengaruh positif kok, yang setelah aku pikir-pikir kembali, memang positif atau negatifnya sosial media itu, dipengaruhi oleh kita, sebagai pengguna.

Sisi positif dari penggunaan sosial media yang terutama adalah memperlancar kita dalam berkomunikasi. Selain itu, bisa untuk menjalankan usaha, berbagi cerita bahagia, sebagai portofolio, mencari lowongan pekerjaan, mencari inspirasi dekor, belajar hal baru, dsb. Ternyata, banyak juga  hal positif dari sosial media kalau digunakan secara benar dan dalam dosis yang tepat.

Hari-hari ini aku sadar, bahwa dosisku dulu dalam menggunakan sosial media terlalu berlebihan, sehingga informasi yang aku dapatkan terlalu banyak, terlalu banyak yang terserap ke otak sampai akhirnya gumoh sendiri ┻━┻ ︵ヽ(`Π”´)οΎ‰︵ ┻━┻

Sangking ngerasa penuh dan udah gumoh, baru-lah aku memutuskan untuk detox sosial media yang akhirnya keterusan sampai sekarang karena ternyata, enak juga nggak main sosial media ♪\(*^▽^*)/ —begini ekspresiku saat bisa lepas dari sosial media, kayak di iklan Ad*m S*ri. 

Well, sebenarnya, aku ngerasa paling nggak kuat kalau bermain Instagram sih—dulu aku paling aktifnya di sana—karena informasi di sana terlalu luas, banyak, unlimited, non-stop, bisa nggak berhenti scroll, baru bisa stop-nya cuma saat kuota habis atau wi-fi lagi error huahaha.

Lalu, belakangan ini, ketika aku kembali aktif dalam dunia blogging, kehadiran sosial media ternyata dibutuhkan—butuh nggak butuh sih. Salah satu alasan kenapa butuh sosial media adalah untuk bergabung dalam komunitas blogger. Yang kemudian, pada awalnya, membuatku galau apakah aku harus membuat akun sosial media kembali atau tidak (/Ο‰\)

Pada akhirnya sih, aku kembali membuat akun sosial media, karena aku menemukan kembali tujuan penting dalam memilikinya. Aku membuat akun baru di Facebook, tujuan utamanya supaya bisa bergabung di komunitas blogging sih hahaha. Walaupun nggak tahu apakah aku akan aktif di platform tersebut atau tidak.

Untuk Instagram sendiri, aku masih ngerasa galau. Masih ada rasa takut, takut belum bisa memilah informasi yang tepat dan layak untuk aku terima. Hiks. 
Tapi, nggak menutup kemungkinan buat kedepannya akan kembali ke sana. Mungkin kalau ada 100 orang yang suruh aku buka akun Instagram, aku akan kembali—emangnya eke siapa coba LOL.

Jadi, sesungguhnya positif atau negatif-nya segala sesuatu itu berdasarkan diri kita sebagai pengguna, apakah cara kita menggunakannya sudah tepat? Apakah dosis kita juga sudah tepat? 

Well, semoga aku dan kita semua bisa lebih bijak dalam menggunakan sosial media ya (~_^)

Ngomong-ngomong, blog termasuk sosial media nggak ya? πŸ€”


Nah, kalau teman-teman, gimana hubungannya dengan sosial media? Aktif nggak sih di sosial media? Paling aktif di media apa?  



The dreamer.


19 komentar

  1. cuma aktif di instagram. facebook udh hapus akun. twttr hanya sekadar bikin akun buat lomba doang πŸ˜‚

    BalasHapus
  2. Aku menjalin hate and love relationship dengan medsos nih khususnya Instagram. Sampai hari ini aku masih ragu ingin detox IG tapi maju mundur. Akhirnya aku memilih untuk filter daftar following aku aja supaya yg muncul di feed adalah konten-konten positif dan membangun 😊

    Kalau Twitter sejak pandemi kemarin aku udah sign off (dan minggu lalu udah di-unsintall). Menyita waktu banget Twitter itu, bisa fangirling nggak tau waktu πŸ˜‚ ditambah karena corona banyak yang toxic. Lelah akutu huhu

    Penggunaan medsos memang balik lagi gimana kebijakan kita dalam mengkonsumsinya ya. We can choose who we follow. Jadi sebenarnya jangan menyalahkan platformnya, tapi harus evaluasi diri sendiri kenapa kok bisa sampai berdampak buruk.

    Btw, sepertinya blog itu social media deh. Aku tadi coba googling dan ada pendapat yang berbeda-beda. Soalnya di blog kita juga berinteraksi kan yaa 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belakangan ini, banyak orang yang bilang ke aku kalau udah lelah juga dengan IG tapi nggak bisa lepas jadi mereka melakukan hal yang sama kayak cici, memfilter following list. Gimana hasilnya bagi cici sendiri? Lebih enak kah?

      Banyak banget yang bilang kalau Twitter itu sangat menyita waktu πŸ˜‚
      Kecemplung 1 thread, bisa nggak habis-habis deh bacanya. Apalagi kalau buat fangirling ya, nggak habis-habis juga wkwkw

      Ah bener banget sih ci! Ini yang aku lakukan 1 tahun belakangan ini, aku memikirkan kenapa kok sosial media bisa segitu negatifnya buat aku, dan ternyata memang following list juga salah satu penyebabnya sih. Jadi too much information buat aku 😒
      Ngomong-ngomong, aku sempet ingin bikin IG biar bisa temenan sama cici di IG *fans mode on* πŸ˜†

      Hihihi menurutku juga termasuk sosial media deh tapi di blog itu auranya negatif sekali, auranya putih πŸ˜†

      Hapus
    2. JAUHHH lebih enak. Feed aku diisi dengan hal-hal yang memang ingin aku lihat hihi. Terus belakangan aku baru ngeh kalau Instagram punya fitur di mana kita bisa tau akun mana yang paling sering nongol di feed atau berinteraksi dengan kita. Jadi itu ngebantu sekali untuk proses filter daftar following sih 😊

      Ahahahahaha ngobrol bales-balesan di blog gini aja udah seneng akutu. Malah jauh lebih betah di blog sekarang ini πŸ˜†

      Hapus
    3. Hati lebih adem dan tentram ya kalau feednya udah terfilter dengan baik πŸ˜†

      Wah, seriusan ada fitur kayak gitu? Muncul dimana itu fiturnya? Aku baru tahu nih fitur kayak gini πŸ˜‚

      Ehh aku juga lebih betah di blog, berinteraksi sama orang-orang di blog lebih seru dan nyaman ternyata πŸ˜†

      Hapus
  3. Wow kamu lagi puasa Instagram? aku dulu juga pernah karena patah hati.. haha. Sempat hiatus 3 atau 4 bulan trus kembali lagi karena menurut aku IG itu sesuatu yang positif kalau kita bisa memfilternya. Apalagi aku anak kosan yang ga punya tv, jadi butuh informasi. Dan saat itu belum aktif di twitter, sekarang aktif lagi gara-gara BTS haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih kak dilla, udah 1 tahun nggak main IG sih πŸ˜‚

      Bener sekali, tahun lalu aku nggak bisa filter, pas mau filter itu pusing sendiri karena takut temen A B C marah kalau di unfoll, jadi mending aku delete account aja sekalian πŸ˜‚

      Wkwkw banyak deh yang balik aktif Twitter karena BTS. Harusnya BTS jadi ambasador Twitter nih πŸ™ˆ

      Hapus
    2. Sekarang di IG kita bisa mute postingan ato story orang loh. Jd kamu ga perlu unfol temen. Kalau ga suka lihat postingan org lain krn alasan tertentu, tinggal mute aja. Tp kalau kamu merasa gpp tanpa IG, dan malah bahagia, bagus jg kok. Tetap bisa berkreasi di blog ato di hal lain

      Hapus
    3. Eh iyaa, aku tahu yang ini tapi aku inget ada 1 temenku, dia bahkan bisa tahu kalau ada temen lain yang mute dia terus dia jadi kesel πŸ˜‚
      Ini pelajaran buat aku, sebelum aku kena kayak gini, mending aku cabut duluan wkwkw
      Tapi mungkin suatu saat aku akan kembali.

      Terima kasih supportnya Kak Dhilla ❤

      Hapus
  4. Hm..dari awal tahun 2020 caraku memberi jarak dengan sosmed salah satunya adalah deactivate akun instagram setiap akhir bulan. Entah bisa sampe berapa lama, kadang bisa sampe sebulan. Dan itu memberi efek yg cukup bagus buat pikiran ku sih jadi lebih terkontrol dan jadi gak sering multitasking kalo lagi ngerjain sesuatu :D. Memang sosial media perlu dibendung, suatu saat kita pasti ngerasa jenuh dan gumoh spt yg mba bilang, manusia butuh istirahat dari dunia maya walau hanya beberapa jam ✌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo! Terima kasih sudah mampir dan berbagi cerita πŸ€—
      Sepertinya cara ini bisa dipraktekan, kurang lebih sama kayak detox di akhir bulan gitu ya hahaha.
      Terima kasih lho, ini ide yang cukup bagus buat dipraktekan 😁

      Hapus
  5. nahh setuju nih kalau yang tau kadar sosmed itu baik atau buruk adalah diri kita sendiri
    kalau tujuannya sosmedan buat cari bahan nyinyiran atau hal hal yang nggak penting bisa dibilang itu adalah hak dia, berarti hidupnya diisi sama hal hal yang nggak guna gitu hehehe
    btw, oke kok buat akun fb untuk join di komunitas blogging, banyak informasi yang bisa didapet meskipun nggak terlalu aktif juga. sosmed buat cari duit juga oke, asal tergantung individunya juga, kalau memanfaatkan dengan baik, hasilnya juga baik hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, ada orang yang kayak gitu, di satu sisi ada juga orang yang bener-bener bisa membatasi penggunaan sosmed dan aku sih salut banget sama orang yang bisa kayak gitu hahaha.

      Aaah terima kasih kak supportnya πŸ€—
      Semoga kita bisa bijak dalam bersosmed ya hihihi

      Hapus
  6. Bukan cuma sosial media, segala sesuatu juga seperti itu. Kadang-kadang kita hanya melihat dsri perspektif yang buruk saja, sehingga perspektif baiknya luput dari mata kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, karena lebih mudah melihat keburukan daripada kebaikkan, kan? πŸ˜‚

      Hapus
  7. Aktifin lagiii mba IG nya :D. Aku sendiri aktif di IG , blog dan FB. Lainnya udh ga. 3 medsos ini doang yg masih bikin aku nyaman sampe skr.

    Kalo masalah browsing ya, aku juga atur kok, jgn sampe mabok sendiri ato ga inget yg lain :p. Dan aku bener2 perhatiin isi timeline ku. Sedikit aja aku Nemu yg postingannya ngajak berantem ato provokatif, aku delete ato block sekalian :p. Ga sehat buat kesehatan jiwa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat! Kakak orang pertama yang minta aku aktif ke IG lagi, berarti masih kurang 99 orang lagi huahahaha.

      Keren banget kalau bisa kayak kakak! Tapi kalau postingan yang provokatif itu dibuat oleh teman kakak sendiri, apa yang akan kakak lakukan? Tetap delete? πŸ˜‚
      Aku kadang mau hapus temen sendiri dari friendlist tuh nggak enak hati deh hiks

      Hapus
  8. Bener mbak, sosmed bagus tergantung yang pakai juga. Tapi kadang kalau aku merasa timeline aku gak bener, aku suka rombak followingku biar lebih enak aja liat timeline. Kecuali aktor/aktris/penyanyi favorit, itu pengecualian wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkw justru bikin akun medsos kan buat stalking-in artis kesukaan ya πŸ˜†
      Tapi berarti kakak rajin dong bersihin following list ya hahaha

      Hapus