Toxic Positivity.

Rabu, 08 Juli 2020

Aku percaya pada dasarnya, 
bahwa segala hal yang dikonsumsi oleh manusia adalah baik adanya, selama tidak berlebihan.

Bahkan meminum vitamin sekalipun tetap ada dosisnya, kan?






Toxic Positivity

Apa kalian pernah dengar tentang hal ini sebelumnya?

Toxic Positivity is the belief that, "if you just stay positive, you will overcome any obstacle," to such a degree that you invalidate natural emotional responses and the person having those feelings. - Urban Dictionary

Yang artinya, toxic positivity adalah sebuah kepercayaan dimana, "jika kamu tetap positif, kamu akan mengatasi rintangan apa pun," Sedemikian rupa sehingga kamu menghapuskan respon natural dari emosi dan orang yang mengalami perasaan tersebut.



I was a bad friend before.

Yap, itu kata-kata pertama yang terlintas di pikiranku setelah mengetahui tentang toxic positivity (っ˘̩╭╮˘̩)っ

Sewaktu aku SMA, saat beberapa temanku curhat ke diriku, aku biasanya akan bicara "tenang aja, ada hikmah di balik ini semua" atau "aku juga pernah ngerasain hal yang sama dan aku bisa melaluinya, ayo kamu juga pasti bisa!" Dsb.

Jujur, saat itu dipikiranku hanya ingin menyemangati dan menguatkan mereka yang bercerita, bukan ingin membanggakan diri. Kadang juga suka mengatakan "sabar ya" sebagai salah satu kalimat andalan ketika tidak tahu harus merespon apa.

Ketika aku tahu bahwa kalimat-kalimat tersebut sebaiknya tidak dilontarkan saat seseorang sedang bercerita tentang masalahnya, aku pun merasa menyesal dan merasa betapa buruknya diriku dulu saat menjadi tempat curhat teman-temanku ಥ╭╮ಥ



Kenapa kalimat positif yang berlebihan malah membahayakan?

Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik adanya, bahkan untuk sesuatu yang baik sekalipun. Dalam hal ini, kalimat-kalimat positif yang kita ucapkan kepada teman yang sedang curhat, malah akan membuat dia jadi mati rasa akan emosi yang sebenarnya sedang dia rasakan saat itu, dan lama-kelamaan, dia akan menjadi tidak sadar akan emosi apa yang sebenarnya sedang ia rasakan pada suatu peristiwa tertentu. Ingat tentang film Joker dan pribadi Joker di film tsb? Kurang lebih seperti itu akibat dari terlalu banyak kalimat positif yang ditelan (ノω\。)

Di sisi lain, ketika kita melontarkan kalimat-kalimat positif seperti di atas, teman kita juga mungkin akan merasa bahwa kita tidak benar-benar peduli dengan perasaannya.



Bagaimana cara merespon yang benar saat seseorang sedang berkeluh kesah akan masalahnya?

Cara yang aku lakukan selama ini adalah :

Berempati ❤️
Berusaha mendengarkan dengan baik saat teman sedang bercerita dan mencoba membayangkan diri berada di posisinya. "Apa yang akan aku rasakan jika mengalami hal yang sama?". Coba lontarkan pertanyaan seperti ini di dalam hati saat mendengar teman sedang berkeluh kesah.

Lalu, kita dapat melontarkan kalimat-kalimat yang membuat teman merasakan bahwa kita benar-benar mengerti akan perasaan yang sedang dialaminya saat ini dan membuat mereka sadar bahwa nggak masalah mempunyai perasaan seperti yang sedang mereka alami saat itu. Kita bisa melontarkan kalimat-kalimat seperti "it must be hard for you", "I'm sorry to hear that, bagaimana perasaanmu sekarang?" Dsb.


Memberi solusi 👨‍🏫
Jika memang teman yang sedang curhat ini meminta solusi, barulah kita memberi solusi tanpa menghakimi dan membanding-bandingkan situasi.

Jika dia hanya ingin didengarkan, maka dengarkanlah setiap ceritanya dengan baik, tanpa memotong pembicaraan yang ada. Benar-benar mendengarkan sampai dia meminta respon kita.


Kedua hal di atas adalah hal-hal utama yang aku lakukan saat ada teman berkeluh kesah padaku.
Aku akan menghindari kalimat-kalimat penyemangat di awal, dan lebih tertuju kepada mendengarkan, berempati dan memberi solusi jika diminta.

Satu hal lagi yang harus diingat bahwa kekuatan mental setiap orang berbeda-beda. ◉‿◉

Maka dari itu, kita tidak boleh membanding-bandingkan atau merasa orang lain lebih payah, karena daya tahan setiap orang akan tekanan itu berbeda. Ini yang perlu ditekankan pada diri kita supaya kita bisa lebih mudah berempati terhadap orang lain.

Waduh, hari ini Lia ngomong apa sih, kok mendadak menjadi bijaksana. Heleh-heleh, ngomong apa juga nggak tahu arahnya mau kemana ( ̄ヘ ̄;)
Tapi aku harap, kalian yang membaca bisa mengerti maksudku dan semoga post singkat ini bermanfaat!


Jadi, gimana sikap kalian saat teman sedang curhat?
Apa kalian pernah melakukan atau mengalami toxic positivity?


The dreamer.





49 komentar

  1. halo mba lia.
    saya setuju bahwa empati itu penting. dengarkan orang curhat ya dengerin aja dulu. tanpa menghakimi. ah elah gitu doang nangis, dll.
    kalau konselor tanya lagi ke kliennya. "jadi menurut Anda gimana? apa solusinya?"

    ya kadang orang cuma minta didengarkan saja. mungkin sebenarnya sudah punya solusi. hanya butuh keyakinan.

    salam kenal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo kak Mirnaaf, salam kenal ya 😊

      Betul sekali, apalagi kalimat seperti "ah elah gitu aja nangis/lemah" itu sebaikanya jangan sampai terlontarkan saat orang lagi curhat deh, nanti orangnya kaburr, nggak mau curhat lagi 😂

      Setuju! Kadang cuma butuh diyakinkan aja ya, tapi kalau curhatnya lewat chat ini nih yang sulit diterka maunya diapain nih si sang pencurhat 😂

      Hapus
  2. Kalau kakak jujur semakin ke sini (maksudnya semakin tambah usia), sudah jarang ada yang curhat dan kakak juga sudah nggak curhat ke orang kecuali pasangan. Jadi persoalan aktif curhat mencurhat hanya dilewati oleh ke kakak di usia 25 tahun ke bawah saat masih muda (seingat kakak) 🙈 hehe. Kecuali sahabat-sahabat sedang ada masalah sangat besar, atau kakak ada masalah sangat besar baru akan curhat tapi saat ini selama bisa diselesaikan sama pasangan, maka option curhat ke sahabat pun di kesampingkan 😂

    Dan pada masa kakak aktif curhat mencurhat, istilah Toxic Positivity ini nggak ada (apa mungkin kakak yang kurang gaul yah hahahaha), tapi as far as I know nggak ada dan nggak pernah dengar 😂 so, saat mendengar teman curhat atau saat kakak curhat ke teman, kami nggak pernah ada masalah kalau responnya adalah kata-kata penguat (yang kesannya Toxic positivity pada istilah jaman sekarang) 😆

    Dan kakak nggak jadi merasa kalau sahabat kakak yang memberikan kata penguat (positif) ke kakak itu seakan-akan nggak peduli dengan perasaan kakak dan sahabat kakak pun berpikir hal yang sama. Karena biasanya kata-kata penguat itu sudah jadi satu rangkaian kalimat seperti, 'Pasti berat yah. Terus bagaimana perasaan kamu sekarang? Semoga kamu sabar dalam menghadapinya. Kamu pasti bisa dan kuat.' Baru setelah itu kasih solusi jika diminta karena kadang sahabat curhat cuma butuh pendengar 😁 dalam bahasa Korea pun kata 힘내라 ini adalah salah satu kata positif yang sering digunakan yang artinya 'kamu harus semangat' -- nggak beda jauh sama 'kamu pasti bisa' 🤭

    Hmmm dan menurut kakak, apapun kata-katanya nggak ada yang toxic selama memang kita katakan dengan tulus untuk teman-teman kita. Semua tergantung dari bagaimana kita mengucapkannya dan bagaimana si penerima menerimanya pada akhirnya. Dan nggak pernah ada yang tau bagaimana isi hati seseorang hehehe bisa jadi kata-kata yang dianggap 'toxic positivity' justru kata-kata yang paling dibutuhkan 😁

    Kakak pribadi nggak masalah diberikan kata-kata penguat ketika kakak ada masalah dan curhat ke sahabat misalnya. Buat kakak, sahabat kakak mau mendengarkan kakak saja sudah lebih dari cukup apalagi kalau sampai sahabat kakak berusaha menguatkan kakak. Waktu dia yang berharga itu nggak akan membuat kakak berpikir kalau dia nggak peduli dengan perasaan kakak 🙈 semoga Lia juga nggak merasa beban dan kawatir kalau kata-kata yang Lia berikan pada teman-teman Lia adalah kata-kata toxic. As far as Lia tulus mengucapkannya, dan nggak berniat memberikan kata toxic maka kata tersebut nggak akan menjadi kata toxic. Berhati-hati dalam berkata boleh dan tentunya wajib, tapi jangan sampai membuat kita jadi terbebani yah.

    Semangatttt, Lia! (Semoga ini bukan toxic) 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Eno!! Terima kasih atas sharingnya 🙏

      Sejujurnya aku juga merasakan hal yang sama. Maksudku, dulu waktu aku sekolah, jaman dimana temen-temen banyak yang suka curhat dan begitu sebaliknya, aku pun nggak ngerasa kalau kata-kata penguat itu sebagai toxic, dan semoga temen-temenku dulu juga nggak ngerasa itu toxic ya.

      Aku pikir soal toxic atau nggak-nya suatu ucapan, kembali lagi tergantung dengan asumsi orang yang menerimanya ya. Selama ini, aku nggak ngerasa itu toxic tapi kok setelah tahu ada istilah ini, aku malah berpikir apa jangan-jangan aku pernah jadi toxic buat teman-teman dulu ya? 😣
      Tapi semoga nggak! Harusnya sih nggak ya, soalnya temen-temen dulu masih sering curhat ke aku #pede

      Dengan ada istilah kayak gini, aku jadi ngerasa harus lebih berhati-hati untuk bersikap saat orang sedang curhat. Walaupun udah makin jarang juga yang curhat karena rata-rata udah pada punya pasangan, jadi biasanya kalau lagi ada masalah besar aja baru pada cerita. Dan aku sendiri bukan tipikal yang suka curhat sih sebenarnya jadi berkurang nih kesempatan untuk melakukan toxic ini 😂

      Terima kasih kak Eno! Nggak toxic sama sekali wkwkw
      Aku malah senang disemangatin, rasanya tingkat motivasi jadi bertambah 🤭

      Hapus
  3. waa masih fresh banget nihh postingannya wkwk
    iyaa, kita emang harus sebisa mungkin menghindari kalimat "sabar yaa" atau "kamu masih mending, aku lebih parah dari kamu" dsb nya itu karna yaa pasti dong orang itu harus sabar tapi butuh kata-kata yang lebih 'ngena' di org tersebut iya ngga?
    solusi yg kamu terapin juga lagi berusaha aku terapin lohh,
    semoga orang-orang yg curhat ke kita bisa tambah senang yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Presh prom di oven nih postingannya 🤭

      Iya, kadang dia beneran butuh solusi lain selain disuruh sabar deh 😂
      Cuma kadang respon pertama kita cenderung ingin mengeluarkan kata-kata "sabar ya" dulu, iya nggak sih? *Nanya balik*

      Semoga! Semangatt untuk berusaha menjadi lebih baikk 💕

      Hapus
    2. wkwkw bener bangett *jawabbalik

      Hapus
  4. Aku juga pernah ada di fase itu. Bahkan nggak cuman ke temen, tapi ke diri sendiri juga. Nggak boleh sedih, nggak boleh kecewa. Harus happy dan selalu positif. Padahal setiap emosi yang dateng ke kita itu normal. Sedih, kecewa, marah, takut, happy semuanya adalah perasaan yang kalau dipikir-pikir ada manfaatnya juga buat kita.

    Dan bener, mental state orang itu beda-beda. Kadang masalah yang kita anggep sepele aja, di orang lain jadi berat banget, dan sebaliknya. Sekarang lebih belajar aja sih, kalau setiap perasaan orang itu valid.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua perasaan yang timbul pasti ada tujuannya masing-masing. Kamu perlu menerima dan mencari solusi jika dibutuhkan. Jangan ditutup-tutupi, justru hal ini yang ditakutkan. Demikian menurut artikel yang aku pernah baca hahaha 🙂

      Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik ya! Amiin.

      Hapus
  5. Wah iya ternyata selama ini aku adalah teman yang buruk. Sadar atau tidak ketika orang lain cerita ke kita atau kita yang cerita ke orang lain, mungkin tujuanya bukan untuk mencari solusi tapi lebih untuk meyakinkan diri bahwa keputusan yg akan diambil adalah yang tepat. Eh tapi kadang2 bukan malah keyakinan yg didapat melainkan tambah ragu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehhhh sama 😂
      Kadang ingin dibikin tambah yakin dengan keputusan yang diambil tapi malah dibikin jadi bimbang ya, jadi semacam nggak guna juga kalau curhat 😂

      That's why sebenernya mendengarkan orang curhat itu berat karena kita nggak tahu maksud dia sebenarnya gimana apalagi kalau curhatnya lewat chat. Apakah minta dikuatkan, didengarkan atau diberi solusi? Kadang bingung 😣

      Hapus
  6. Saya mah.. kalau ada yang curhat, muka saya arahkan ke yang ngomong, biar dia nggak tahu pikiran saya ada dimana.. hahahahahaha...

    Saya bukan orang yang baik untuk tempat curhat. Respon saya cenderung mengatakan apa adanya dan berdasarkan fakta. Kalau dia curhat tapi menurut saya salah, bukan empati yang saya berikan, tapi justru malah teguran.. wkwkwwkwk

    Kenyataan loh.

    Buat saya curhat itu tidak selalu benar. Banyak yg curhat sesuatu yang sebenarnya salah dan hanya karena merasa dizholimi saja di curhat.

    Berlaku buat siapapun.. termasuk adik sendiri.

    Bagi saya mah, tempatkan isi cerita pada posisi dan porsinya dulu, baru komentar. Kalau perlu getok, ya getok.. bukan dibelai.

    Makanya pada malas curhat ke saya, karena biasanya takut bukan dihibur, malah dijitak...

    Bahkan adik sendiri pun gitu.. wakakakaka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya ini pengalaman pribadi dengan yayank-nya kak Anton ya? Tolong kak Hesti, baca komentar di atas! Besok-besok kalau lagi curhat harus dikasih ujian ditengah pembicaraan, biar tahu sebenernya daritadi tuh dengerin atau nggak 🤣

      Apakah kebanyakan laki-laki seperti ini? Karena laki-laki sekitarku juga begini sikapnya kalau diajak curhat. Langsung diskak-mat dengan jawaban yang apa adanya dan sesuai fakta 😂
      Nggak bisa tuh menye-menye kayak cewek dengan cewek wkwkw. Kalau bener ya bener, salah ya salah.

      Tapi justru sikap seperti ini yang dibutuhkan. Sikap menyadarkan ya.
      Soalnya kalau nggak ada yang nyadarin, ya yang curhat bisa halu terus 😂

      Tapi aku juga sepertinya takut kalau curhat sama kak Anton, takut dijitaknya!! Wkwkwkw

      Hapus
    2. Haahahaha.. maybe karena kita terbiasa mengandalkan logika Li. Bukan perasaan.

      Saya nggak bisa terlalu banyak basa basi.. Juga ga biasa juga menghibur.

      Paling kalau lagi males komentar, ya dengerin saja sambi.. "Oya", "oh gitu", "terus".. wakakaka.. paling setelah beberapa lama yang curhat bete sendiri karena tanggapannnya ga banyak.

      Mungkin seperti yang Lia sebut tadi, saya tidak terbiasa memberikan "toxic". Saya pilih memberi obat yang seringkali pait, tapi jadi sembuh. Bukan cuma sekedar ngasih hiburan yang sering menyesatkan.

      Mudah-mudahan sih takut beneran.. jadi saya ga repot... wkwkwkwkw...

      Hapus
    3. Benar sih kak, justru karena laki-laki begitu makanya perempuan dan laki-laki saling bisa membantu ya.

      Wkwkw duh laki banget sih emang nih, kalau dicurhatin jawabnya kayak gitu bikin emosi 🤣

      Beneran takut, daripada dijitak mending aku kabur aja wkwkw

      Hapus
  7. Baru tahu istilah ini beneran. Wah terima kasih tulisannya sangat bermanfaat. Biar bisa jadi tempat yang baik buat curhat wkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi kak! Terima kasih udah mampir 😁🙏

      Semoga habis ini bisa menjadi pribadi yang lebih baik ya wkwk

      Hapus
  8. Kalau ada temen yang curhat bakal aku dengerin aja, menanggapi seperlunya, kalau mereka tanya solusi baru aku coba kasih saran sesuatu. Menurutku sedih itu gakpapa, marah gakpapa, nangis juga gakpapa, tapi jangan lama-lama. Hidup masih panjang, masalah lain di depan masih ada. Jadi walaupun sedih ataupun marah, kita harus tetap bergerak, harus cepat move on.🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kak Roem! Setidaknya tidak menyangkal emosi yang sedang dirasakan ya. Sepertinya kak Roem orang yang asik kalau diajak curhat 🤭

      Hapus
  9. bener banget sih! mungkin aku juga dulu temen yang bad karna setiap ada temen yang curhat aku kasih hal - hal positif. hhehe. tapi setelah baca ini kayaknya nggak bakal gitu lagi deh! makasih sudah berbagi kak:))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga temen-temenmu tidak berasumsi bahwa hal tsb buruk ya. Dan selama mereka fine-fine aja, menurutku kata-kata positif itu nggak masalah sih. Iya nggak sih? 😂

      Sama-sama! Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya! 💕

      Hapus

  10. Jujur lia, aku malah setuju banget dengan postingan ini 😁😁😊

    Ga tau ya....aku juga beberapa kali pernah rasan-rasan (dalam hati doang sih, ga pernah diungkapkan)...

    jadi gini, pernah di suatu masa akutuh kenal dengan seorang sohib yang kok selalu tampak perfect ya, maksudnya dari segi manner bener-bener harus selalu positiiiiif sesuai dengan quote-quote bijaknya (tapi kebanyakan sih ngutip dari tokoh terpandang 😁), dan gemar pula menyebarkan kata-kata yang bagus, baik, bijak....

    tapi ada kalanya, kalau kuhayati terus-menerus, loh kok jatohnya malah bosen ya, kadang pingin gumoh karena ku merasa overdosed waktu melihatnya huhuhu....#jadi tampak seperti bukan manusia..

    Maksudnya dia tampak seperti : apa segala sesuatunya harus like an angel terus ya, ga boleh salah sedikitpun....kok kalau kita-kita ngeluh depan dia nanti jatohnya malah langsung dikasih nasihat jebret-jebret-jebret lewat quote-quote bijaknya, hiyahahhaha...

    jadinya seperti diceramahin bin dinasihatin terus-menerus. Iya ga sih? Padahal ga pa pa banget kok sometimes kita menampakkan wujud emosi lain selain harus nunjukin yang positiiiiiif terus...iya ga sih liii,....huahahhaha...

    Jadinya karena kayak gitu aku ngerasa, aduh jangan sampai ketahuan deh klo aku lagi posisi ngeluh depan dia, tar yang ada malah diceramahin ahhahahhaha #e ngomong opo toh aku ini loh

    Tapi salut, lia yang gen z ini bisa bijak juga yaaak 😀😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai kak mbul!! Terima kasih banget atas sharingnya! Kali ini dapat perspektif berbeda berkat kak mbul dimana posisinya kak mbul sebagai korban ya 🙈

      Semoga kita jadi orang yang normal dan waras ya kak, yang nggak berlebihan dalam mengkonsumsi sesuatu. Nggak enak juga kalau punya temen kayak yang kak mbul ceritain, dan aku nggak mau juga sih jadi orang seperti itu. Jangan sampai berlebihan pokoknya 😂

      Hapus
  11. Waduh.. Kayaknya saya pernah😁. Walaupun nggak ada maksud buruk tapi ternyata bisa berdampak buruk ya. Malah kadang saya kasih saran sambil bercanda. Atau saya dengerin dan temenin dia sampai capek. Jangan-jangan temen saya jadi sebel. Padahal niatnya pengen jadi temen yang baik.

    Emang cara yang paling tepat itu dengan membayangkan diri kita berada di posisinya ya.jadi bisa menerka-nerka apa yang sekiranya membuat kita tenang....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kasih saran sambil bercanda, kayaknya masih okay sih 🙈
      Semoga temen kak Astria nggak jadi sebel sama kakak wkwkw

      Iya empati itu penting tapi kalau terlalu berlebihan juga jadi beban buat kita sendiri, jadi serba salah nanti 🤣

      Hapus
  12. Kayaknya kita semua pernah toxic positivity ya ke orang-orang yg curhat sama kita😂 Gapapa kalo menyesal, asal jangan merasa bersalah sampe berlarut-larut aja, toh saat itu kita gak tau ada istilah yg menamakan toxic positivity, dan akupun jujur emang seringkali gak tau harus merespon apa:') Mungkin karena kesehatan mental belum seurgent sekarang pembahasannya.

    Tapi karena sekarang kita udah tau, bener2 harus dipake nih tips-tips yg mba kasih. Aku pribadi sama sebenernya kayak mba Lia, berusaha empati dan bantu cari solusi, di samping itu aku juga berusaha untuk menekankan ke mereka bahwa "it's okay not to be okay", "you're not alone","kita coba lagi di lain waktu", "aku akan temenin km sampe semangat lagi" ke siapapun sahabat yg curhat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener! Setuju banget sama kamu Awl! Dulu kesehatan mental nggak sedarurat sekarang, dan nggak se-sensitif sekarang sih, jadi dulu tuh dikasih kata-kata penyemangat saat lagi curhat ya beneran ngerasa disemangatin aja.

      Semangat dalam menerapkannya ya! Aku pun masih terus berusaha, setidaknya aku bisa menjadi teman yang baik di lingkungan teman-teman yang tinggal sedikit ini 😂

      Hapus
  13. Kebetulan saya tergolong orang yg jarang curhat, karena takutnya yg di curhatin juga punya masalah, dan blom tentu bisa bantuin, kebanyakan malahan temen yg suka curhat ke saya, tpi sy juga blom tentu bisa nyelesain masalah mereka, sekwdar jadi pendengar aja, kayaknya mereka udah lega, barangkali hanya butuh di dengar aja, terutama ciwi"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha ciwik-ciwik emang kadang cuma butuh orang sebagai tempat menghabiskan kuota kata harian ya kak 🤣
      Jadi cuma pengen ngomong aja, pengen didengerin aja gitu.

      Hapus
  14. yawla, istilah jaman now. Baru tau ada istilah toxic positivity. Aku pribadi sih ga gitu sering curhat. Seringnya temen yang curhat rame2 gituu...Saat sesi curhat berlangsung itu, ya kami semua mendengarkan dulu apa yang diomongin sama si pembicara (yg lagi curhat). Nah baru deh setelah selesai dia ngomong, kami kasih respon. Salah satunya ya kalimat penyemangat juga seperti: Tuhan nanti buka jalan, ada rencana indah dari Tuhan, yang sabar ya. Tapi ya kalimat penyemangat yang dilontarkan sepertinya bukan toxic positivity karena memang baik si orang yang disemangatin, maupun yang nyemangatin tu bener-bener tulus. Jadi agak aneh juga ya memang kalau disebut toxic positivity hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Istilah jaman now makin banyak yang baru dan aneh-aneh ya ci 😂
      Memang menurutku toxic atau nggak-nya tergantung sama asumsi sang penerima sih. Dulu pun aku ngerasa hal kayak gitu biasa aja, sekarang aja nih karena ada istilah kayak gini jadi takut kalau mau ngomong 😂

      Hapus
  15. Makanya, saya sering bilang pada beberapa kesempatan bahwa kita bukan harus simpati pada orang lain, tapi empati. Simpati itu bagi saya sifatnya maya, sedangkan empati lebih nyata.

    Misalnya ada teman yang kena musibah, alih-alih meng-upload fotonya dengan caption "semoga cepat sembuh", saya lebih memilih untuk menjenguknya. Ini juga berlaku pada hal yang lain semacam ulang tahun, graduate, atau hal-hal yang menggembirakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar. Kalau dulu, lebih ditekankan mengenai simpati tapi nyatanya lebih tepat empati yang harus diperbesar ya.

      Kamu sudah melakukan hal yang benar Rahul, terus berlaku seperti itu ya! Semangat!

      Hapus
  16. at least kalau kita enggak tau cara kasih solusi dari masalah orang cukup bilang "I am sorry to hear that" itu udah cukup banget. jangan jadi sok tau atau bahkan nyama-nyamain masalah orang lain sama kita.

    thank you for sharing. nice article :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali! Terima kasih sarannya kak 😄
      Terima kasih udah mampir juga yaa.

      Hapus
  17. Kalau saya jarang dicurhatin tapi saya sukanya curhat ke mana-mana kwkwk,, tapi emang sih kata-kata positif itu baik kalau digunakan sebagaimana mestinya kayak Mario Teguh Golden Ways gitu hehe.. dalam berkomentar pun juga sekarang saya pikir-pikir dulu kalau mau komen. Saya mengikuti salah satu forum aplikasi yang isinya curhatan rumah tangga emak2 semua hahaha dari situ bisa kelihatan banyak sekali toxic positivity di komentar-komentar si penanya. Ya saya tim nyimak atau kalau mau komen pun ya semacam yang kakak tuliskan itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Kak Anggi! Kalau gitu, boleh nih cerita kesannya kalau sering curhat, senengnya diperlakukan seperti apa biar jadi ada perspektif baru 🤭

      Hapus
  18. Mbak Li, I was a bad friend too.

    Aku dulu pernah ada di posisi Mbak Lia. Banyak teman yang curhat terus aku cuma bisa bilang, "Sabar yaa" atau kalau nggak gitu, "Udah, nggak usah dipikirin deh, nanti bakal berlalu kok"

    Ya memang ceritanya ku dengerin sih, tapi solusi yang kuberikan beneran jelek banget hahaha. Duh kalau inget pernah ngasih solusi 'toxic positivity' tuh jadi ngerasa bersalah banget sama mereka.

    Sejak mengenal 'Its okay not t be okay' jadi menyadari bahwa segala emosi itu harus tersalurkan. Bahwa menjadi nggak baik-baik saja itu baik dan sah-sah aja.

    Pada akhirnya aku memosisikan diri menjadi pendengar saja daripada menasihati atau memberi solusi (kecuali kalau diminta). Karena menurutku, teman-tgeman yang curhat itu sebenarnya cuma butuh telinga untuk mendengarkan. Apalagi usia-usiaku tuh bukan usia dengan curhatan masalah yang receh-receh lagi, haha.

    Bahkan biasanya malah aku yang manas-manasin (emangnya sayur kok butuh dipanasin segala?! Hahahah) buat ngeluapin semua emosinya dia, tanpa aku ngasih solusi. Justru biasanya gitu aja dia udah plong hahaha.

    Duh kenapa aku malah yang curhat yak?! ~XD

    Terima kasih atas tulisan pengingatnya ini, Mbak Lia! Sebagai pengingat pribadi kalau-kalau masih sering ngasih 'toxic positivity' ke temen dan orang-orang dekat huhuhu.

    Luv luvvv <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii Andhira! Terima kasih sharingnya ❤️

      Kok sama banget sih sama aku? Aku juga semenjak belajar harus berempati, aku jadi suka manas-manasin #lho
      Maksudnya sih lebih ke-mengungkapkan kalau kita di posisi dia, mungkin kita juga rasain hal yang sama tapi abis itu diberi solusi, jangan dipanas-panasin doang terus ditinggal ya 🤣

      Sama-sama! Semoga kita bisa menjadi seorang teman yang lebih baik ya 🙏🔥

      Ngomong-ngomong, it's okay to be not okay, apa kamu nonton drakornya juga? #salfok #OOT

      Hapus
  19. Aduh, I used to be that kind of friend too deh ): duluuu suka banyak yang curhat ke aku, bukannya didengerin baik-baik, malah sok nasehatin hahaha nyesel banget sih kalau mengingat sikapku ke orang yang sedang berusaha mengungkapkan perasaan mereka ke aku. Mungkin karena dulu aku suka merasa ada "tanggung jawab" untuk memberikan jawaban yang oke ke mereka yang curhat. Dan sekarang aku baru paham rasanya kalo lagi curhat, malah dibilangin kalo aku tuh kurang bersyukur lah, ini itu lah. Hadehh, gue curhat doang, bukan minta nasehat hahaha *jadi emosik*

    Jadi sekarang kalau ada yang curhat, aku berusaha untuk diam dan mendengarkan sampai akhir tanpa menyela (menerapkan hal yang sama kalo curhatnya lewat WA, nggak akan ngetik apapun sebelum yang curhat selesai "typing..." hahahaha). Kalau dia tanya solusi, aku coba berikan yang terbaik tanpa sotoy hihi

    Thank youu Lia udah nulis tentang ini ya! (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama banget ci! Apa yang cici tulis, itu juga yang aku rasain dulu. Ngerasa ada tanggung jawab kalau dicurhatin padahal mah belum tentu orang yang curhat itu ingin minta nasihat, siapa tahu ingin didenger aja 😂
      Kadang udah dikasih nasihat bagus juga nggak didenger, kesel juga nyiahaha.

      Ahiya! Bener tuh, bisa juga diterapin cara cici dengan nunggu sampai dia selesai typing kalau lagi chat di WA.

      Sama-sama ci. Thank you for sharing juga ya 💕

      Hapus
  20. Saya pernah banget!
    Dulunya, sebelum saya kualat hahahaha.

    Dan kece kalau Lia di usia segini udah lebih memahami.

    That's why saya suka berteman dengan teman blogger, karena biasanya pengetahuannya lebih luas dan berkembang, sehingga rata-rata selalu open minded setiap harinya.

    Betul sekali Lia, kadang, eh bahkan sebenarnya KEBANYAKAN orang tuh cuman pengen didengarkan.
    Itu saja.

    Kenyataannya, masalah orang itu hanya di dengarkan saja.
    Orang-orang lebih suka berbicara ketimbang mendengarkan, bahkan pasanganpun seperti itu.
    Makanya, sekarang banyak yang suka ke psikolog, karena hanya mereka yang tahu bagaimana menghadapi orang curhat.

    curhat ya buat didengarkan, bukan buat dinasihatin, meski baik, apalagi dibanding-bandingkan.
    Lebih parah lagi lawan bicara malah numpang pamer, misal,
    "Aku sebal, suami nggak mau dengarkan saya bicara"

    Eh dijawab,
    "Alhamdulillah suamiku selalu dengarkan saya bicara, selalu jadi pendengar yang baik"

    Banyak loh yang kayak gini, saya pun kadang-kadang masih keceplosan, astagaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun belajar banyak hal baru lewat teman-teman blogger termasuk dari kak Rey, aku merasa bersyukur juga bisa kenal dengan teman-teman baru yang cara pandangnya baru juga 🥰

      Dan aku setuju sama yang kak Rey bilang. Bahkan ketika seseorang curhat dan dia tidak minta solusi tapi kita beri solusi, solusi itu juga bakal nggak ditanggepin sama dia karena sesungguhnya dia hanya ingin didengar ya. Duh, seandainya aku ngeh tentang hal ini lebih cepat 😭

      Maklum kak, namanya manusia jadi suka keceplosan 🤭

      Hapus
    2. Nah iyaaa Lia, makanya sekarang psikolog laris, meskipun sebenarnya udah jadi semacam karakter perempuan sebenarnya, sulit mendengarkan, selalu ingin didengarkan.
      Bahkan psikolog kadang masih ada yang keceplosan lebih suka berbicara ketimbang mendengar :D

      Hapus
  21. kadang kalau ada temen yang curhat dalem dan aku nggak ngikuti perkembangan ceritanya dari awal, suka bingung mau komen apa, palingan cuman menenangkan dan "yang sabar ya"
    karena kalau banyak komen ngasih masukan atau arahan takut salah juga, mungkin maksudku begini dan ternyata dia nangkepnya begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih ke-mendengarkan ya kak, memang kadang orang lebih butuh didengarkan daripada dinasehati ya :)

      Hapus
  22. Haloo Mba Lia..
    Wah aku jatuh cinta banget sama tampilan blognya Mba, simple dan soft bangeet, di wordpress bisa gini juga ngga siii huhu

    Ngomongin soal toxic positivity, kayanya dulu aku juga pernah memberikan banyak toxic positivity ke teman2ku, dan banyak juga teman2 yang memberi toxic poritivity ke aku. Tapi makin ke sini makin menyadari kalau yang kaya gitu malah membuat si empunya masalah merasa ngga dirangkul, merasa apa yang dia rasanya itu salah dan ngga valid, malah bisa bikin depresi karena kebanyakan memendam karena merasa dia ngga boleh merasa demikian..

    Semoga kedepannya banyak yang aware dengan toxic poaitivity, karena sebetulnya orang yang cerita itu hanya butuh didengarkan, ngga butuh di kasi advice atau bahkan diceramahi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo kak Lutfiah!
      Wah, terima kasih banyak pujiannya 🤭
      Sepertinya bisa kalau di wordpress, mungkin harus cari tema yang berbayar ya.

      Karena sekarang udah banyak artikel tentang kesehatan mental bertebaran dimana-mana, kita jadi sadar ya bahwa apa yang dulu dilakukan itu sebaiknya tidak dilakukan lagi.
      Betul, jadi kita sebaiknya belajar menjadi pendengar yang baik ya 😁

      Hapus
  23. Wah menarik banget blognya, bakalan sering mampir kesini. Hihihi

    Wah kalo toxic positiv gini aku yang lebih sering dijadiin tempat curhat sih, tapi kalau aku yang curhat agak susah kalo sama temen-temen karena jawaban mereka pasti gitu "yang sabar" "tenang aja pasti ada solusinya".
    Saat mereka mau curhat aku pasti nanya dulu, mereka maunya aku dengerin aja atau mau kasih komentar dan masukan, karena jujur aku kalo komen atau ngasih masukan agak beda dan ga sesuai dengan jawabannya yang mereka harapin sih *kata temen-temen* tapi ya beda kalau aku yang curhat, saat aku bilang butuh solusi atau saran, malah dibilang yang sabar, pasti bakalan ada jalan keluarnya, sampai hafal sama jawaban-jawaban mereka huhuhu. Akhirnya aku kalau curhat ujung-ujungnya cuma nulis dibuku doang. hahaha

    BalasHapus