Hujan Bulan September.

Selasa, 15 September 2020



Photo by Adrianna Calvo from Pexels


Akhirnya! Senin malam ini adalah hari pertama hujan turun di daerahku. Secara resmi, aku ucapkan selamat datang bulan ber ber berrrr~ πŸ₯³

Btw, hujan itu kadang mendatangkan kebahagiaan, kadang mendatangkan kesedihan bagi umat manusia, ya πŸ˜‚

Aku pribadi sangat suka ketika aku sedang di rumah atau sedang tidur siang, lalu turun hujan. Hawanya langsung terasa dingin dan bikin pengin pelukan selimutan gitu πŸ€ͺ. Pokoknya selama sedang di tempat yang aman, aku senang jika hujan turun πŸ₯°. Aku pikir, setiap hujan turun, para petani juga akan merasakan kegembiraan karena tanah-tanah menjadi lebih subur 😍.

Lalu, kalau sedang hujan, otomatis perut akan jadi lapar padahal baru banget selesai makan πŸ˜‚. Misteri apa sebenarnya yang tersimpan dibalik turun hujan lalu perut menjadi lapar? πŸ€”.
Dan, ketika perut sedang lapar saat hujan-hujan, otomatis langsung terbayang makan atau minum yang hangat-hangat. Nggak deh, bohong. Pasti hal pertama yang terbayang tuh makan mie instan rebus deh, apalagi pakai cabai rawit terus dimakan saat panas-panas pakai telur setengah matang 🀀. Yailah, nulis begini aja udah bikin perut keroncongan sama ngiler padahal belum lama selesai makan nasi 😭. Kekuatan hujan + mie instan rebus memang tak terkalahkan~

Di sisi lain, turun hujan yang terus menerus disertai curah hujan yang deras bisa membuat hati tidak tenang karena bisa jadi banjir 😭. Hal ini yang membuatku tidak bisa tidur tenang kalau sedang hujan deras, takut tiba-tiba pas bangun, udah ngambang di atas air πŸ˜….

Ada memori waktu banjir yang sangat aku ingat. Saat itu, kira-kira tahun 2007, saat banjir 5 tahunan itu. Kalau nggak salah, aku baru masuk SMP saat itu dan sekolah dipulangkan lebih cepat karena banjir udah melanda di beberapa daerah perumahan siswa dan ternyata daerah rumahku juga kena πŸ˜‚.

Saat itu, papaku datang menjemput dan papa bilang kalau rumah kebanjiran. Jadi, papa antar aku dan adik yang udah dijemput dari sekolah sampai ke tempat tinggi dekat rumah dan dari tempat itu menuju ke rumah, aku dan adik dinaikkan ke becak tapi kami bukan duduk di bagian bangku, melainkan di bagian becak yang paling tinggi—tempat dimana payung becak biasa dilipat—lalu aku dan adik didorong oleh kang becak dan papa jalan di samping kami. Saat itu, banjir udah mencapai seperut orang dewasa, bahkan lebih πŸ˜‚ dan tentunya kami yang naik becak juga kebasahan tapi setidaknya kami nggak tenggelam πŸ˜‚.

Sesampainya di rumah, listrik udah padam, beberapa barang udah diangkut ke lantai 2 rumahku. Untung aja rumahku ada lantai 2-nya, kalau nggak ada sih, kelelep udah semuanya πŸ˜‚. Selama 2 malam, aku dan keluarga bertahan di lantai 2 rumahku yang nggak begitu luas itu, jadi kami tidurnya mirip pepes ikan yang penting bisa tidur πŸ˜‚ tapi nggak bisa mandi karena pompa air mati dan seingatku, kami makan mie instan beberapa kali dalam sehari deh πŸ˜‚. Banjir saat itu, lama sekali surutnya~

Sampai akhirnya, tiba hari ke-3, banjir baru surut sedikit. Akhirnya, papa dan mama memutuskan untuk membawa aku dan adik-adik mengungsi di rumah saudaraku yang ada di pusat kota. Kami keluar dari rumah menuju tempat yang lebih tinggi dengan menggunakan getek. Literally, getek yang dari bambu itu 🀣. Berasa kayak artis pas lagi di atas getek lalu melewati warga yang sedang jalan-jalan di air. Semua mata tertuju padaqu~

Lalu, setibanya di tempat yang lebih tinggi dan nggak kerendam banjir, kami langsung naik kendaraan menuju rumah saudara kami. Sungguh, pengalaman banjir yang tak terlupakan πŸ˜‚ karena perasaanku campur aduk saat itu. Sedih karena kebanjiran tapi senang juga bisa naik getek πŸ€ͺ.

Sejak saat itu, setiap musim 5 tahunan dan curah hujan tinggi, hatiku langsung berdebar-debar karena khawatir akan kena banjir lagi πŸ˜…. Bersyukurnya, semenjak ada Kanal Banjir Timur yang dibangun, banjir 5 tahunan itu nggak pernah datang kembali sampai akhirnya di awal tahun 2020 kemarin, rumahku kebanjiran lagi sampai 2x tapi tidak sedalam seperti tahun 2007. Fiuh~

Begitulah love & hate relationship-ku dengan hujan. Kadang aku suka hujan dan bau khasnya tapi di satu sisi, hatiku deg-degan takut kebanjiran lagi 😭. Semoga musim hujan kali ini nggak sampai mendatangkan banjir ya πŸ˜­πŸ™πŸ».


How about you?
Apa cerita hujan-mu?
Let me know!


The dreamer.

55 komentar

  1. Astaga Liaaa, saya baru ngeh kalau bentar lagi mau hujan, dan baru ngeh kalau saya berjanji mau ngajarin si adik Toilet training saat musim kemarau.
    Astagaaa pelupa banget saya, seharusnya udah sejak beberapa bulan kemaren, biar kalau dia ompol cepat kering :D

    Btw di sini belom hujan sih, tapi memang salah satu hal yang saya kesal saat hujan, atap di dapur bocor, di mana karena pembuangannya kecil, sehingga pas hujan deras itu nggak sanggup menahan rebutan turun airnya, langsung deh byur basah semua.

    Semoga hujan kali ini membawa keberkahan ya, semoga nggak banjir lagi.
    Duh kebayang ya masa-masa banjir itu, sedih rasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mumpung belum datang musim penghujan di sana, ayo segera ajari si adik Toilet Trainingnya kak 😁. Nanti kalau udah keburu datang musim penghujan, itu seprei kalau dijemur bisa 2 hari baru kering kali πŸ˜‚

      Huaaaa airnya bablas semua ke dapur dong, kak? Bisa dibetulin nggak?

      Amin πŸ™πŸ». Kalau banjir itu sedih banget sih, apalagi sesudah air surut, bersihin rumahnya susah sekali πŸ˜”

      Hapus
  2. Kayaknya aku inget deh banjir 2007 itu, biasanya rumah aman tau-tau kebanjiran juga πŸ˜‚ dipulangin juga dari sekolah dan aku pede banget ngajak beberapa temanku ke rumah sambil nunggu mereka dijemput, aku bilang rumahku aman. Ehh nggak berapa lama mati listrik, besoknya kebanjiran 🀣 kalo aku waktu itu ngungsinya naik gerobak, Lii. Dianter sampe jalan raya depan terus naik gojek satu org kena 100rb LOL kami ngungsi deh ke rumah sodara πŸ™ˆ

    Lain cerita kalo di Bogor yang emang kota hujan. Salah satu sisi nggak perlu takut banjir, salah satu sisi mikirin teman dan sodara yang di Jakarta kalo kebetulan hujannya besar banget πŸ˜₯ tapi pada dasarnya aku memang suka hujann. Apalagi pas malem, pasang diffuser, minum hot choco, AC dingin, ulalaaa 😝

    BalasHapus
    Balasan
    1. WKWKWK untung banjirnya datang bukan saat teman-teman cici datang ke rumah ya. Saat itu, banjir di daerah rumah cici sampai setinggi apa?
      Oemji, pasti pengalaman yang berkesan sekali soalnya kapan lagi bisa naik gerobak ya 🀣. Wow, naik ojek aja 100rb/orang, apa nggak mending naik taksi itu 🀣

      Awww cici hatinya baik sekali ♥️ semoga musim hujan kali ini nggak sampai menyebabkan banjir ya πŸ₯Ί.
      Huwaaa~ itu sih asik banget! Bayanginnya aja udah cozy banget nggak sih ci 😍 sambil baca buku atau nonton film juga biar lebih mantap πŸ€ͺ

      Hapus
    2. Inget banget teman-temanku bete karena niat mau ngungsi, malah kepanasan gara-gara mati listrik wkwkwk banjir di rumahnya sekitar semata kaki lebih dikit deh kayaknya. Nahh, kalo di luar rumahnya itu yang agak tinggi. Makanya nggak ada mobil yang mau nganter, Lii. Jalan besar banjir tinggi juga. That's why kita naik ojek, lewat jalan tikus biar cepat sampai πŸ˜‚

      Iyaa, semoga udah nggak banjir-banjir lagi deh. Pusing nih pandemi aja nggak kelar-kelar πŸ˜₯ Nah iya bener! Netflix and chill yaa judulnya πŸ˜†

      Hapus
    3. Nyiahaha kasihan teman-teman ci Jane, kena php πŸ€ͺ
      Oalah~ pantas naik ojek dan pantas harga ojeknya naik berkali-kali lipat πŸ˜‚. Tapi bersyukur juga ya karena abang ojeknya mau antar, entah gimana nasib cici dan keluarga kalau nggak ada abang ojek 😭

      Amin! Iya, pandemi ini lama sekali ya selesainya. Semoga bisa segera diselesaikan penemuan vaksinnya ya ci πŸ˜­πŸ™πŸ»

      Hapus
  3. aaaa, sama. akupun suka hujan dan suka aroma tanah yang terkena air hujan.. alhamdulillah aku nggak pernah kebanjiran, ya gimana ke banjiran rumahku di gunung. wkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aromanya itu khas banget ya, kak Ella 😍
      Bikin hawa jadi sueger aja gitu rasanya.
      Wadaw, kalau rumah kak Ella kebanjiran sih, Jakarta udah tinggal nama, kak 🀣

      Hapus
  4. Di Bali sudah beberapa kali hujan. Kalau di Bali agak random soalnya tengah tahun pun kadang hujan 🀣 hehehehe. Baru seminggu lalu juga hujan bahkan ~ dan memang kakak suka menikmati hujan asal nggak berlebihan apalagi sampai kebanjiran πŸ™ˆ

    Untungnya selama di Bali belum pernah merasa banjir, Liaaa. By the way, kalau hujan buat kakak enaknya langsung masuk ke bawah selimut hahaha. Kadang duduk di pinggir jendela sambil lihat air turun juga seru, apalagi sambil dengan lagu-lagu syahdu 😍 dan makanannya ada dua yang kakak suka, jaman dulu mie kuah instan persis kayak Lia. Tapi sekarang karena mengurangi mie, akhirnya makan panjeon hehehe. Di Korea kalau hujan pasti pada makan panjeon soalnya, jadi si kesayangan yang hobi request panjeon membuat kakak ingin makan ugha πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, di Bali lebih random cuacanya ya huahaha. Berarti kalau pertengahan tahun ke Bali, harus waspada karena bisa sewaktu-waktu hujan ya πŸ˜‚

      Iya yaa, aku belum pernah dengar di Bali ke banjiran juga kak~ mungkin karena sistem pengairannya bagus dan masih banyak lahan kosong untuk pembuangan air jadi nggak menyebabkan banjir πŸ™ˆ
      Huwaaa~ selimutan saat hujan-hujan emang enak banget sih kak! Aku juga suka memantau air hujan dari balik jendela, rasanya hidup seperti sedang slow down kalau lagi seperti itu 😍.
      Panjeon isian apa yang menjadi favorit kak Eno? 😍
      Aku baru-baru ini tahu panjeon karena melihat postingan dari kak Fanny 🀭

      Hapus
    2. Random bangettt Liaaa πŸ˜‚ beberapa kali hujan tengah tahun apalagi di area dataran tinggi. Mana dingin banget karena kena hembusan angin winter dari Aussie. Hehehehe.

      Sebetulnya di beberapa area ada yang banjir seperti tahun lalu saat hujan sedang deras-derasnya, Seminyak dan Kuta sempat banjir tapi nggak sampai berhari-hari seperti Jakarta. Meski begitu ada saja yang sial kemasukan air rumahnya walau sebentar πŸ™ˆ jadi harus tetap waspada hehehehe.

      Kakak paling suka seafood jeon dan daun kucai jeon πŸ˜‚ tapi kakak jeon-nya prefer full telur less gluten while di Korea pasti pakai tepuuung dan oily parah hahahaha. Kimchi jeon juga enak cuma jarang buat karena nggak punya stock kimchi-nya 🀣 kalau Lia suka masak, coba buat jeon saja, lumayan gampang πŸ˜†

      Hapus
    3. Wih~ aku baru tahu mengenai fakta cuaca di Bali ini lho kak 😯 dan ternyata di Bali pernah kebanjiran juga. Aku baru tahu! terima kasih untuk pengetahuannya, kak Eno πŸ™πŸ»

      Coba nanti aku cek di Youtube untuk resepnya 🀭 sepertinya kemarin-marin pernah lihat video panjeon ini bersliweran di Youtube hihihi. Lalu sekarang aku jadi ngiler kimchi jeon 😝.

      Kak Eno, kimchi di Indonesia ada nggak sih yang rasanya authentic Korean flavour? Yang di supermarket gitu mungkin. Ada yang pernah kak Eno coba dan rasanya sama seperti di Korea?

      Hapus
    4. Sini ke Bogor.. hujannya juga random kok. Maksudnya, pas musim kemarau saja bisa hujan deras.. wakakakaka..

      Tapi belakangan di Bogor juga cuaca sedang aneh.. kadang hujan, kadang panas banget.. Pagi hujan, siang panas banget.. Yang lebih aneh sekarang, di kompleksku bisa setengah hujan, setengah tidak..

      Sering malu karena dari rumah pakai jas hujan lengkap, sampai titik di tengah jalan kering kerontang.. atau sebaliknya..

      Hadeuh.. cuaca lagi nggak tentu banget dah

      Hapus
  5. Baru aja semalam hujan deras, tapi bedanya aku tidak sampai makan mie instan+telur mbak. Hujan dan dan mie instan adalah konpirasi paling nyata dalam kehidupan...hahhahaa

    Awal tahun 2020 daerah di kantorku juga terkena banjir mbak lia. Kantorku aman, tapi lingkungannya tidak. Saat itu banjir sudah sepaha orang dewasa. Saat masih banjir, aku pergi ke indomaret untuk stok makanan. Berjalan kaki sambil memakai boot dan melihat lingkungan sudah digenangi air banjir yang berasala dari air sungai yang meluap. Katanya baru kali ini banjir. Biasanya aman.
    Sepertinya mbak lia orang jaktim :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya, aku juga nggak sampai buat mie instan+telur, kak Rivai. Cuma sampai dibayangan aja soalnya udah malam dan baru makan jadi takut tambah melar nanti πŸ˜‚. Memang mie instan rebus+hawa dingin hujan itu konspirasi paling nyata yang bisa dirasakan semua umat manusia ya huahaha

      Udah sepaha orang dewasa itu termasuk tinggi juga kak 😱 dan kalau udah seperti ini, pasti minimarket jadi sasaran ya hahaha. Daerah rumahku juga katanya banjir karena ada tanggul jebol, entah benar atau nggak karena aku udah sibuk mengambang di atas air πŸ˜‚
      Hahaha kak Rivai tahu aja πŸ™ˆ

      Hapus
  6. Hubungan saya dengan hujan baik-baik saja selama ini.

    hahahaha...

    Banjir bukan salah hujan. Jadi saya tidak merasa benci pada hujan.

    Waktu dulu kerja di Tangerang, hujan terasa menyusahkan, karena naik motor, helm dibuka air hujan jadi kayak kerikil menghantam wajah. Kalau tidak dibuka, tidak bisa lihat jalan.

    Serba salah.

    Tapi saya tidak mau menyalahkan hujan, karena memang bukan salah dia. Salah saya sendiri tidak mau bawa mobil ke kantor, jadinya pusing sendiri.

    Tidak beda juga dengan banjir, karena bukan salah hujan banjir itu datang, tetapi salah manusianya yang tidak mau sadar lingkungan.

    Buat saya hujan itu berkah. Tidak bedanya dengan cuaca panas.

    Soal banjir sendiri mah bukan barang baru. Dulu pertama kali kerja di tahun 1996, banjir bandang di Jakarta. Karena sebagai karyawan baru saya tidak mau mengecewakan yang mempekerjakan, saya tetap menembus banjir menuju ke kantor.

    Di Sabang/Jalan Abdul Salim, air menggenang setinggi dada dan saya terus memaksa datang... Hahahaha.. nekat dan sesampai di kantor cuma 3 orang saja yang datang.

    Basah kuyup, tapi saya merasa sudah berbuat yang terbaik sebagai karyawan, meski akhirnya terpaksa pulang karena tidak ada listrik di gedung..#wakakakaka..

    Tahun 2007, yah saya sudah di Tangerang, jadi nggak kerasa, selain basah kuyup.. hahaha

    Hujan dan saya masih terus menjalin hubungan. Semua baik baik saja, apalagi sebagai penghuni Kota Hujan, saya tidak mengharapkan hujan menghilang.. bisa berabe kalau itu terjadi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun 1996 pernah banjir bandang? Wah, aku baru tahu dan salut sekali sama perjuangan kak Anton πŸ˜‚
      Kalau udah setinggi dada kan berarti baju udah basah kuyup sampai ke dalam-dalam ya dan masih aja ditrobos demi tidak mengecewakan perusahaan. Sungguh sebuah dedikasi πŸ˜±πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ». Sepertinya dari 1000 pegawai kantoran yang ada, hanya 1 yang berdedikasi tinggi + nekat kayak kak Anton gini hahaha. Btw, sambil melewati air yang udah setinggi dada, kak Anton menembusnya dengan berjalan atau berenang? πŸ˜‚

      Aku juga tidak mengharapakan hujan menghilang karena aku suka jika hujan turun dan menganggapnya berkah, hanya banjir aja yang aku harapkan bisa menghilang namun nampaknya sulit kecuali aku pindah rumah #lho

      Hapus
    2. Nggak usah salut.. saya sih setelah itu merasa "bego" hahaha nekat menembus banjir seperti itu. Padahal waktu itu ada yang terkena sengatan listrik dan meninggal.. hahahaha sayangnya baru tahu setelah lewat itu banjir.

      Jalan Lia.. nggak bisa berenang. Tas diangkat ke atas. Kalau berenang bisa nabrak tiang listrik.

      Beberapa tahun kemudian ada banjir bandang lagi di Jakarta, dan saat itu saya sudah tidak sebego waktu itu dan memilih pulang saja.. hahahaha Karena saya sudah lebih pinteran dikit dan tahu bahwa perusahaan juga memahami situasi force majeur seperti itu mah...

      Hahaha..

      Jangan ditiru yah

      Hapus
  7. Tahun lalu di kotaku, hujan sangatlah ditunggu tunggu. Sebab adanya kabut asap yang betul-betul menyesakkan dada.

    Jadi, Udah dari tahun lalu kami biasa pake masker kemana mana. Kabut asap hilang, skrng ada corona, tetap pake masker lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. *jleb bacanya*

      Tahun ini, tidak ada kebakaran hutan kan kak Dodo? Semoga hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi ke depannya 😭
      Aku turut prihatin atas kejadian ini :(
      Kabut asap itu selain menyesakkan dada, membuat mata perih juga jadi pasti masa-masa itu tersiksa sekali ya πŸ˜₯

      Hapus
    2. Yaa, tidak ada kebakaran hutan, mbak Alhamdulillah.




      Eh, tapi katanya itu bukan kebakaran hutan. Tapi, hutan yang sengaja dibakar
      *kabooor

      Hapus
  8. Di Batam akhir Agustus udah di guyur hujan Lii, ini aja udah tiga hari berturut-turut hujan mulu.

    Kalau hujan aku suka mau mandi hujan Liii atau cium petrichor-nya hmmmm..... khas banget hahaha. Kadang -kadang kesel jugaa, karena nggak bisa kemana-mana.

    Kalau ngomongin banjir aku belum pernah ada pengalaman sama banjir Lii that's why aku enjoy-enjoy aja kalau hujan turun lama, kalau di Jakarta beda cerita yaa. Samangat Liaaaa jangan lupa bawa-bawa payung kalau mau keluar kali aja di tengah jalan turun hujan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiih, di Batam malah udah hujan duluan ya! Kok nggak bareng-bareng sama Jabodetabek sih? Nggak kompak nih 😝

      Nyiahaha aku juga suka ingin main hujan tapi nanti takut dimarahin mama 🀣. Aroma khas hujan itu menyenangkan sekaliii ya kak 😍. Nah, berbeda kalau sedang ada planning pergi kemana gitu apalagi kalau udah direncanakan dari jauh-jauh hari terus tiba-tiba hujan, bete juga sih πŸ˜‚

      Jangan ngalamin kak. Semoga nggak akan pernah ngalamin yang namanya banjir selama kak Sovia hidup karena nggak enak πŸ˜‚ terutama kalau udah masuk rumah. Hiks.

      Awww, kak Sovia sweet sekali 😍♥️. Siaaap! Aku selalu sedia payung jadi barangkali nanti ada hujan duit, aku udah siap nadangin. Wkwk.
      Kak Sovia juga jangan lupa bawa payung dan jaga kesehatan selalu ya πŸ€—

      Hapus
  9. Masuk bulan ber ber ber tandanya emang hujan yaa. Dulu tuh kalau uda bulan akhirnya ber pasti juga musim married. Paling ribet kalo mau kondangan eh malah hujan. Lagi pandemi gini, uda ga musim deh married huhuhu...

    Rumah orangtua aku itu persis depan kali yg mengarah ke sungai ciliwung. Kami tinggal disana uda lebih dr usia aku dan ga pernah satu kali pun banjir. Kalau airnya tinggi pas hujan deras atau kiriman dari bogor itu pernah. Semoga ga pernah banjir dan jangan sampai banjir πŸ™

    Hati hati liaaa, semogaa ga terulang lagi banjir di rumahmu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya, benar banget ci! Kalau udah ber-ber-ber selain musim hujan juga musim married huahaha. Semenjak pandemi ini, orang-orang malah nikahnya random aja sih waktunya ya tapi jadi nggak musim kondangan karena nggak boleh berkerumun πŸ˜₯ padahal ingin makan enak ya #lho

      Huaa, you are so lucky ci! Semoga nggak pernah ngalamin yang namanya banjir ya ci πŸ™πŸ» dan nggak sampai banjir lagi di Jakarta. Aminnn! Terima kasih doanya ci Devina πŸ€—πŸ’ž

      Hapus
  10. Kak Lia kebanjiran tahun 2007 ya, kalo aku malah tahun ini kak. Selama merantau disini 18 tahun baru kali ini ada hujan sampai masuk kedalam rumah, biasanya sih cuma di depan saja atau kalaupun masuk tidak sampai tinggi, paling sampai mata kaki. Lha kemarin sampai pinggang. Kasur, kursi, dan lainnya pada basah semua.πŸ˜‚

    Ngomong ngomong bulan September ini tumben turun hujan ya, biasanya bulan November atau Desember. Tapi lumayan sih jadi hawa ngga panas.πŸ™‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh! Aku turut sedih bacanya kak πŸ˜₯
      Kalau udah masuk rumah seperti itu, pening dah kepala apalagi kalau sampai merendam barang-barang elektronik seperti kulkas, rasanya ingin menangis πŸ˜₯. Lalu, kak Agus ngungsi nggak? Lama nggak surutnya?

      Eh iya ya, biasanya menjelang akhir tahun baru turun hujan ya! Lumayan kan tanah jadi nggak kering-kering banget karena turun hujan hahaha.

      Hapus
    2. Ngga ngungsi kak, dalam rumah saja sih nongkrong diatas kursi dan meja saja. Ngga terlalu lama sih, paling hanya empat jam saja, tapi biarpun empat jam ya tetap saja kebanjiran.

      Hapus
  11. enaknya disana udah ujan
    di tempat saya masih panas banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nih aku dorongin awan hujannya ke tempat kak Rezky biar kebagian hujan 🀭

      Hapus
  12. aku juga suka hujan kak, tapi jangan lama-lama, setengah jam aja, dan di kasih jeda 2 - 3 kali gitu, apalagi kalo hujannya malem, tidur malem bakalan nynyak plus adem-adem gimanaa gitu..

    Tapi sayangnya, di Bali belum pernah dateng hujan, huhu.. Ada yang bilang karena banyak upacara gitu, jadi ya di halangi hujannya dateng.

    Tetep bersyukur tapi ya, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, setuju-setuju. Kalau hujan pas malam-malam, tidurnya jadi makin adem dan nyaman sekali 😍😴

      Kakak tinggal di Bali bagian mana? Di beberapa bagian Bali udah ada yang kena hujan nih katanya. Semoga tempat kakak bisa segera turun hujan ya πŸ™πŸ»

      Hapus
  13. Wiiiiii, udah mulai hujan ya, Li? Kalau di sini masih belum ada tanda-tanda musim penghujan sudah dekat nih, Li. Cuaca masih aja panas dan berangin 🀭.

    Ngomong-ngomong aku selalu menanti-nanti kedatangan hujan, Li. Entah kenapa hujan bikin aku gampang ngantuk dan bisa tidur nyenyak. Padahal biasanya aku punya gangguan susah tidur. Makanya aku suka banget kalau hujan turun, terutama pas aku lagi di rumahπŸ™ˆ

    Oh iya, moga-moga banjir gak bakal ada lagi di muka bumi ya, Liiiiii 😭😭😭. Aku tuh selalu ikut sedih pas lihat atau denger cerita orang-orang yang kena banjir..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Puas-puasin menikmati cuaca cerahnya kak Roem. Nanti kalau udah musim hujan datang, jemuran baju jadi lama keringnya 🀣

      Eee, kalau gitu aku doakan biar bisa segera turun hujan supaya kak Roem bisa tidur nyenyak 😚. Kak Roem udah pernah cek ke dokter soal gangguan susah tidurnya, belum?

      Aminnn aminnn. Terima kasih doanya kak Roem πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»
      Aku juga suka sedih kalau lihat berita tentang banjir apalagi kalau rumahnya sampai kelelep πŸ˜₯

      Hapus
  14. Kalo disini sebenernya masih panas terus Lia, tapi hari ini hujan dan hujannya laen, deres banget. Pertanda musim hujan akan segera tiba, meskipun saya masih curiga kalo ini ujan buatan, soalnya kalo tahun-tahun kemaren biasanya sekitaran november atau desember yang dingin dan beceknya beneran natural πŸ˜‚

    Ternyata saya juga senasib sama lia, disini juga dulu sempet ada banjir 5 tahunan. Dimana dulu bener-bener kaget waktu baru pindah beberapa bulan. Karena rasanya itu mirip banget kayak kita lagi PSBB kayak sekarang karena banjirnya awet sampe 2 mingguan waktu itu. Udahlah gak bisa kemana-mana, ke depan rumah pun pemandangannya air semua (untunglah kemaren dulu rumah bentuknya masih setengah panggung dan tertinggi disekitar gang, jadi hanya rumah kami yang dikiiiiit lagi gak kemasukan air.

    Banjir 5 tahunan kalo versi disini, adalah air sungai yang meluap menuju pemukiman warga karena adanya arus pasang surut yang memang terjadi 5 tahun sekali. Karena banyak tanah rawa dtimbun untuk pembangunan baru, sehingga hilanglah tanah resapan dan akhir air mendatangi rumah-rumah di sekitar sungai dan semakin jauh menuju daratan. Tapi sejak kemaren itu gak ada lagi banjir 5 tahunan itu disini lia, seperti sudah dibangun kanal banjir juga oleh Pemerintah disini. Alhamdulillahnya hingga sekarang udah gak pernah lagi ngerasain banjir rasa lockdown kayak kemaren itu. 😩

    Oh ya Lia, dulu saya emang pernah nulis juga tentang banjir 5 tahunan ini tapi sayang postingannya ikutan ngilang jadi gak bisa direpost lagi πŸ˜‚

    Hujan memang memiliki banyak kenangan yah Lia 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eee, memang kalau hujan natural dan buatan terasa bedanya ya kak? Aku nggak ngeh πŸ˜‚. Bagaimana cara bedainnya?

      Aku turut sedih dengarnya kak πŸ˜₯ banjir sampai 2 minggu itu lama sekali lho! Gimana dengan pasokan makanan pada saat itu? Ada bantuan atau kak Rini cari sendiri?
      Kalau bentuk rumah panggung udah kemasukan air berarti air cukup tinggi ya 😱
      Syukurnya sekarang udah dibangun kanal ya! Aku lega dengarnya~ Hati jadi lebih tenang tiap kali hujan datang ya kak. Kalau nggak, bisa was-was terus takut kebanjiran rasa lockdown seperti itu πŸ˜₯

      Post tentang banjirnya udah hilang bersama banjirnya ya kak πŸ˜‚ it's okay! Mungkin kak Rini bisa menulis ulang dari memori yang ada di kepala kak Rini 🀭

      Hapus
  15. wah di tempatnya mBak Lia sudah huja
    di tempatku masih panas aja

    aku kalau hujan juga minum anget dan bikin yg anget2
    paling paling YTan atau baca buku
    tapi ya sedih juga mbak kalau banjir
    lebih tepatnya riweh soalnya pasti banyak barang yg harus diselamatkan huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini aku bantu tiupin awan mendung dari Jakarta ke arah rumah kak Ikrom ya 🌬️☁️

      Asik ya kak kalau bisa bersantai-ria ketika hujan. Rasanya rileks banget kan 🀩

      Betul. Riweh karena harus cepat-cepat menyelamatkan barang-barang sama sedih mengingat lantai dan lemari-lemari yang berlumpur yang harus dibersihkan setelah banjiran, kak 😭

      Hapus
  16. Aku juga benci tapi rindu kalo udah menyangkut hujan wkwkwkwkwk. Benci kalo sampe bikin banjir. Tapi kangen kalo udh musimm kemarau yg puanaaaas beuuuuut :p

    Selama di JKT untungnya rumahku ga kebanjiran. Slalu aman. Aku ngerasain banjir pas msh di Banda Aceh. Ya ampuuun itu stress sih, hahahaha. Awalnya kebangun, jam 4 pagi, trus msh blm 100% sadar ku kok melihat sendal kamarku jalan2 sendiri, trus aku turun dr tempat tidur, kaki lgs basah, ternyata air udh masuk wkwkwkwkk.itu baru surut 3 hari :(. Aku takut kalo banjir Krn prnh liat ada ular lewat kalo udh banjir gitu. Kan shock yaaa. Mana gede bnget. Sejak itu takut lah.

    Alhamdulillah rumah skr ga kena.

    Dulu pas msh kerja, aku benci kalo hujannya pagi. Krn nyusahin mau ke kantor. Apalagi kalo turunnya pertengahan udh jalan. Ga baw jas hujan pula hahahhaa. Basahlaaaah semua. Aku pernah sampe kantor terpaksa pake sarung solat Krn celana kantor buasaaah. Akhirnya dijemur dulu Ama OB ku. Untung aku ga harus ketemu nasabah waktu itu.

    Tapi klo hujan mau turun pas sore ato malam, bodoamatlah :p. Udah mau pulang soalnya. Jd ga terlalu peduli bakal basah :D

    Skr udh resign, aku ga peduli hujan mau turun kapan :D. Udah ga ngaruh. Tapi kali ini aku seneng, Krn udara udh mulai sejuk :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung melek ya kak pas kaki nyemplung ke air banjir 🀣. Wah, kalau sampai ada ular lewat-lewat sih, aku juga takut 🀣. Lihat kecoak ngambang aja bikin parno apalagi ular! Pfft

      Huahahaha pengalaman berkesan banget ya kak Fanny, sampai pakai sarung gara-gara celana basah πŸ™ˆ. Tapi sekarang semua udah berlalu dan rumah juga aman tentram ya. Semoga kak Fanny bisa lebih menikmati hujan sekarang πŸ˜†

      Hapus
  17. Wah.. Disana udah ujan aja ya mbk, di sini masih panas kalau siang. Tapi kalau malem dingin..
    Dulu di daerah tempat saya kerja juga pernah banjir. Saya sampai heran kok kota ini bisa banjir juga. Penyebabnya karena sungai yang kecil sementara air dari gunung banyaknya luar biasa. Rumah-rumah yang ada di deket sungai atau lebih rendah dari sungainya sampai hampir kelelep. Untungnya setelah sungainya diperlebar nggak ada banjir lagi walaupun hujan deras😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di tempat kak Tria kalau malam memang selalu dingin ya? Asik dong, nggak ada nyamuk 🀭

      Itu dia yang masalah. Kadang pembuatan sungai dan perumahan tidak sesuai jadi rumah-rumah pinggir sungai suka terendam duluan πŸ˜‚
      Syukurlah kalau sekarang udah nggak banjir lagi, jadi tenang kan kalau hujannya malam-malam kak 🀭

      Hapus
  18. Ya ampun Lia masih imyut banget ya, 2007 masih SMP hehehe

    Iya eh, bbrp kota di Indonesia sudah mulai hujan ya, dann di surabaya belom dong πŸ˜… udah kangen sama hujan. Hujan itu emang banyak sentimentilnya sih. Bikin pengen kruntelan di rumah sama keluarga, minum milo anget dan mie instan pedes huaaa pengen hahaha
    Untungnya di sby gak pernah kebanjiran sih Lia. Sedih juga ya kalau sampe kena musibah banjir, barang dan rumah rusak. Semoga jangan banjir dl lah ya. Mana masih ada corona begini, gak kebayang sedihnya kalau ditambah lg dengan bencana alam banjir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiahahahaha kak Tika, aku jadi mayu πŸ™ˆ #sokimut

      Daerah Jawa Tengah dan Timur sepertinya memang belum turun hujan ya. Teman-teman di komentar atas juga bilang belum turun hujan. Semoga bisa segera merasakan hujan ya, kak Tika πŸ€—

      Huaaa milo anget sama mie instan pedes! Suatu perpaduan yang luar biasa 🀀. Bahkan sekarang walaupun lagi nggak hujan, aku ngiler dong bayanginnya huahaha.
      Amin-amin!! Semoga nggak banjir-banjir lagi kali ini ya kak πŸ™πŸ» dan jangan sampai ngalamin banjir kak karena nggak enak banget 😭

      Hapus
  19. Jadi ingat, saya punya banyak pengalaman dengan banjir. Meski hampir beberapa tahun ini sudah aman. Dulu, saat selokan belum dibersihkan dan diperluas, rumah belum direnovasi, setiap kali hujan bareng dengan naiknya air laut menuju selokan, pasti ujung-ujung banjir.

    Kalau sudah begini, satu rumah jadi kerja bakti untuk membersihkan seisi rumah dari air yang masih tersisa, mengepel, dan mencuci barang yang terkena banjir.

    Satu waktu, saat rumah sedang direnovasi dan saya tidur di rumah Om yang letaknya percis di samping rumah, saya kaget saat tiba-tiba dibangunkan tengah malam sekali. Ternyata kasur saya sudah terendam dan hampir mengenai laptop saya. Banjir dan saya juga punya hubungan yang tidak bisa saya lupakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau banjir memang udahannya yang nggak enak ya. Bersihin rumahnya itu, peer banget karena harus berkali-kali di pel untuk membuang lumpurnya :( *jadi curhat*

      Waduh, untung aja dibangunin tepat waktu. Kalau saat bangun, laptop udah kena air, bisa bahaya sekali :( Tapi untung semua udah berlalu, sekarang benar-benar udah aman kan daerah rumah Rahul? Meskipun air laut pasang, nggak berdampak ke daerah perumahan kan?

      Hapus
  20. Di tempatku selama 2 hari ini udah turun hujan, Kak Lia. Malah ini kayaknya hujan mulu kalau tiap malam, hahaha. Jadi nggak bisa ngopi lagi, deh ~XD

    Aku juga ngerasain love-hate relesyenship sama hujan. Paling sebel kalau hujan waktu lagi sibuk-sibuknya ngerjain garapan yang memerlukan harus ke luar rumah, tapi tiba-tiba hujan mak bressssss. Duh mangkelnya setengah hidup. Tapi ya mau dikatakan apalagiiii~~~~~~ :'DDD

    Kalau di kotaku sendiri sih jarang banget banjir sih, tapi di kecamatan lain tuh pernah juga banjir gede sampai masuk berita, udah bertahun-tahun lalu. Waktu aku masih SD, kayaknya, huehehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eee, kalau hujan sambil ngopi bukannya lebih enak? πŸ™ˆ

      Huahahah sepertinya kalau problem kayak gitu, siapapun akan ikut kesal juga mengalaminya 🀭

      Syukurlah kalau daerah tempat tinggal Andhira aman sentosa. Semoga nggak pernah banjir-banjir ya tempatmu πŸ™πŸ»

      Hapus
  21. samaan nih Lia, baru minggu kemarin di kotaku juga turun hujan dan lumayan deras.
    selama ini panas panas aja tiap harinya
    dannnn kalau udah hujan, biasanya bau tanah akan keluar, ciri khas deh yang ini

    namanya manusia kadang ada puas dan enggaknya, giliran panas bilang kok kepanasen tapi enaknya jemuran cepet kering. giliran ujan berhari hari, kok ga reda reda, hahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya hujan juga ya, Kak! Senang nggak akhirnya bisa cium aroma tanah basah setelah sekian lama nggak cium? 🀭

      Hiahaha namanya manusia, keinginannya selalu terbalik-balik ya πŸ˜‚

      Hapus
  22. hujan di Jakarta ini memang yang paling ngga enak adalah efek setelahnya.. πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget, Kak 😭
      Efeknya bahkan bisa lebih awet daripada hujannya wkwkwk

      Hapus
  23. Kalo ngomongin soal hujan mah saya banget ini hehehe. Gatau kenapa selalu suka sama yang namanya hujan. Dibilang pluviophile sih ngga terlalu ya, karens masih ada momen momen tertentu yang membuat saya menggerutu ketika hujan turun. Tapi saya selalu suka hujan.

    Saya suka hujan, terlebih ketika hujan itu di malam hari. Hujan akan membawa kesejukan tersendiri di malam hari, walau hujannya diluar tapi dinginnya sampai terasa ke dalam rumah. Mau tidur itu nyaman banget karena kasur, bantal, dan guling jadi rada rada dingin, kaya pakai ac walau nyatanya cuma ada kipas wkwkwkw.

    Saya pun punya momen momen romansa ketika hujan turun, dimana saya pernah kehujanan bareng sama orang yg disayang *tsahhh keren ngga tuh, kaya di pelem pelem gitu wkwkw.

    Saya adalah tipikal orang yg bisa duduk berlama-lama menatap hujan di teras rumah. Bengong aja gitu.

    Oh ya kalo urusan banjir sih, yg awal tahun itu paling parah sih. Karena saya sempat nolongin almarhum mbah saya yg rumahnya kebanjiran. Seumur umur itu rumah banjir paling parah semata kaki, karena kan posisi rumah mbah saya tuh diatas dan biasanya daerah bawah yg kebanjiran. Eh ini awal tahun tingginya se dada dong airnya, untung rumah mbah saya ada tingkatnya, jadi semalaman beliau di tingkat dulu baru paginya ngungsi kerumah saya.

    Oh ya rumah mbah saya di Jakarta dan saya di Bekasi, jadi pagi-pgi saya dateng kesana dengan mobil. Itu aja banyak banget kendala mba karena selama di jalan tuh jalanan banyak yang terendam air jadi ngga bisa dilewatin. Ke jalan ini banjir ke jalan itu banjir untung aja ada satu jalan yang banjirnya ngga terlalu parah, kalo ngga saya gatau lagi deh gimana caranya kerumah mbah saya saat itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Ilham, thank you for sharing! :D

      Hujan memang asik apalagi ketika malam datang. Kalau rumah aman, nggak kebanjiran, kedatangan hujan akan lebih membuat senang daripada perasaan was-was. Bengong saat hujan atau sambil minum teh panas, itu asik banget sih. Nggak ada yang bisa ngalahin rasa damain tentramnya itu :')

      Wow! Aku kaget bacanya. Karena jika rumah simbah yang udah di atas saja terkena banjir sampai sedada berarti yang di bawah, rumahnya pada tenggelam dong? Kalau boleh tahu, daerah Jakarta mana itu, Kak?

      Pasti sulit kalau ingin berpergian saat banjir karena jalanan sulit dilewati dan biasanya jalanan yang kering akan sangat macet. Untung akhirnya bisa sampai ke rumah simbah dengan selamat ya, Kak. Semoga nggak ada lagi banjir seperti itu di masa depan >.< serammm.

      Hapus
  24. Senangnya sudah hujan dari September, tempat saya baru tadi mulai hujan, tapi belum tentu rutin.

    Hujan itu punya banyak makna kalau dilamunin .. ..

    BalasHapus