Senin, 17 Februari 2020

100x lipat,
60x lipat,
30x lipat,
Jika diminta untuk memilih, berapa berkat yang ingin kamu dapatkan?







Hampir semua orang pasti akan memilih berkat yang terbanyak yaitu 100x lipat. Suatu hal lumrah yang merupakan bagian dari pribadi manusia untuk memilih mendapatkan sesuatu yang lebih banyak dan memberi sesuatu lebih sedikit. Bukan hal yang heran bahwa lebih banyak tangan di bawah daripada tangan di atas.

Tapi, jika kamu diberikan berkat 100x lipat, berapa banyak yang akan kamu berikan kembali kepada Tuhan? Berapa banyak yang akan kamu berikan kepada orang yang membutuhkan? Seberapa banyak tanggung jawab yang mau kamu pikul demi mendapat berkat 100x lipat tersebut?

Kebanyakan orang akan mulai berpikir dan mulai merasa tidak rela untuk membagi-bagikan apa yang didapatkan tersebut, dan pasti kebanyakan orang lebih ingin memikul tanggung jawab yang sedikit tapi mendapat hasil yang banyak. Manusiawi kah? Sungguh sangat manusiawi.

Tapi, kita harus menjadi pribadi yang berbeda. Kita harus merevolusi mental kita, sebab bagaimana bisa kita diberikan berkat yang besar sedangkan baru berkhayal saja, kita sudah merasa tidak rela untuk berbagi setelah mendapat berkat 100x lipat?
Dalam hal ini, revolusi mental sangat diperlukan. Kita harus belajar bahwa ketika Tuhan memberikan kita berkat yang lebih, itu artinya kita harus siap untuk lebih berbagi dan lebih siap menerima tanggung jawab yang lebih besar.


The dreamer

Kamis, 06 Februari 2020

Seringkali kita, manusia, lupa untuk bersyukur atas berkat-berkat yang kita terima dalam hidup. Kita lebih banyak mengeluh atas apa yang kita hadapi karena mengeluh terasa lebih mudah dilakukan daripada mengucap syukur.





Mengucap syukur ketika menerima berkah pasti sangat mudah dilakukan, tapi bagaimana jika kita mengucap syukur ketika terkena musibah? Pasti akan terasa sangat sulit. Jujur saja, berapa kali dalam sehari kita mengucap syukur atas hidup kita? Mungkin dalam sehari bisa lupa sama sekali.

Ada satu kejadian sederhana yang mengubah pemikiranku, bahkan menamparku, untuk lebih mengucap syukur dalam hal terkecil sekalipun.

Suatu hari, aku pergi ke tempat laundry untuk menitipkan pakaian mamaku yang terendam banjir sewaktu malam tahun baru kemarin. Di tempat laundry, aku melihat banyak pakaian-pakaian kering yang bertumpuk-tumpuk di dalam keranjang yang siap untuk disetrika, dan di sana aku melihat seorang pegawai yang berdiri di depan meja, siap untuk menyetrika semua pakaian-pakaian kering yang bertumpuk-tumpuk itu. Seketika itu aku merasa tertampar, bagaimana bisa dia melakukan pekerjaan seperti itu? Apa dia nggak pusing melihat banyaknya pakaian yang harus dia setrika? Aku sendiri merasa kesal kalau melihat banyak pakaian yang harus disetrika, dan menurutku, menyetrika itu adalah pekerjaan yang paling membosankan, padahal aku sehari-hari paling hanya menghabiskan waktu 15-30 menit untuk melakukannya, sedangkan dia harus menyetrika banyak pakaian dengan durasi berjam-jam, sepanjang hari bahkan sepanjang waktu selama dia bekerja di tempat itu! Astaga, dengan membayangkannya saja sudah terasa bosannya, apalagi dia yang mengalaminya?!

Seketika itu juga aku tersadar, bahwa aku kurang bersyukur dalam hidupku. Seharusnya, aku lebih bisa bersyukur karena hanya menghabiskan sedikit waktu untuk menyetrika pakaian. Seharusnya, aku nggak mengeluh ketika melihat banyak pakaian yang harus disetrika, karena pegawai tersebut harus menyetrika lebih banyak pakaian, nggak sebanding sama apa yang harus aku kerjakan.

Sungguh ini kejadian sederhana yang membuka mataku, bahwa aku harus lebih menghargai dan mensyukuri apa yang sehari-hari aku lalui, karena banyak di luar sana yang melalukan pekerjaan yang lebih berat daripada yang aku lakukan.

Memang benar pernyataan yang menyuruh kita untuk lebih sering melihat ke sekitar kita, melihat orang-orang yang hidupnya lebih berat dari kita, karena dengan itu kita lebih bisa bersyukur atas hidup kita. Kalau kita hanya terus melihat ke atas, kita nggak akan pernah merasa puas dan bersyukur atas hidup kita saat ini.

Jadi, mari kita sama-sama belajar untuk lebih mensyukuri hidup kita ini dalam hal terkecil sekalipun.


Jangan lupa bersyukur! :)


The dreamer.
Words of The Dreamer. Theme by STS.