Baca di Halaman.

Selasa, 30 Juni 2020

Calling all the book lovers out! 
Terutama Ci Jane!
Dan kalian yang sepaham dengan slogan "cinta tak harus memiliki".




Aku adalah seorang pecinta buku dan sepaham dengan slogan "cinta tak harus memiliki"—khusus untuk buku aja ya, kalau yang lain sih, beda cerita!

Lalu, ada apa dengan slogan "cinta tak harus memiliki"?

Well, kesukaanku terhadap buku, tidak membuatku harus memiliki buku tersebut. Jika aku bisa memiliki, itu sesuatu yang bagus, tetapi jika tidak bisa memiliki, aku tidak masalah. Malahan untuk beberapa buku, lebih baik untuk aku tidak memilikinya karena perkara harga—lagi lagi dompet berbicara (/Ο‰\)

Oh ya, siapa di sini yang setuju kalau baca buku fisik lebih menarik daripada baca buku elektronik? Harap tunjuk tangan! Oke, ternyata 1 juta orang tunjuk tangan *lebay*. Terima kasih.

Aku-pun nggak menyangkal kalau membaca buku fisik itu lebih menyenangkan daripada non-fisik. Entah kenapa, buku fisik itu bikin aku lebih semangat membaca dan tentu sensasinya berbeda dari non-fisik #eaaa.

Maka dari itu, pas aku menemukan solusi atas segala masalahku—suka buku fisik tapi nggak mau beli karena mahal—aku seneng banget! Dan Baca di Halaman ini adalah solusi atas masalahku. Yeay! ~(≧▽≦)/~


Tentang Baca di Halaman

Adalah salah satu perpustakaan indie yang berada di Jakarta Selatan, tepatnya di Cilandak. Di sini, koleksi bukunya lumayan banyak dan cukup up-to-date menurutku. Buku-buku bacaan dari Indonesia klasik, modern hingga Import klasik dan modern ada di sini. Bahkan, buku Norwegian Wood yang kemarin aku baca itu, aku pinjam dari Baca di Halaman lho!

Kalau rumahmu cukup dekat dengan lokasi perpustakaan ini, kamu boleh banget langsung datang dan membaca di tempat. Tapi, buat kamu yang tinggalnya jauh dari lokasi, kayak aku yang tinggal di planet lain, bisa banget nih sewa online. Jadi, buku yang ingin kamu pinjam, bisa dikirim melalui jasa kirim yang sudah ditentukan.



Berikut aku rangkum beberapa hal penting yang harus kalian tahu mengenai Baca di Halaman :

1. Untuk meminjam buku di sini, kalian harus mendaftarkan diri menjadi member. Saat ini, biaya member adalah 50ribu/bulan dan bisa diperpanjang setiap bulannya. Bisa juga menjadi non-member tapi harga sewa buku akan dikenakan biaya per buku.

Untuk non-member, dikenakan deposit 50ribu saat pertama kali meminjam, dan harga sewa bukunya untuk Indonesia klasik 20ribu, Indonesia kontemporer 15ribu, Impor klasik 30ribu, Impor kontemporer 25ribu, hard cover 35ribu—data aku dapatkan dari pustakawan.


2. Maksimal bisa meminjam 2 buku per checkout, dengan durasi peminjaman 10 hari. Bisa 1x extend, namun dikenakan biaya 5ribu per buku/10 hari. Juga akan dikenakan denda jika lewat dari tanggal yang ditentukan.


3. Pengiriman buku menggunakan jasa kirim JNE YES. Pengembalian buku boleh pakai jasa kirim apa saja asal tiba di perpustakaan sesuai waktu yang sudah ditentukan dan ongkos kirim ditanggung penyewa.


4. Jika kalian ingin meminjam, kalian akan diberikan link katalog yang berisikan daftar-daftar buku yang ada di perpustakan. Kalian bisa tanya ketersediaan buku dengan pustakawan yang super ramah (⌒o⌒).



Aku pribadi sudah mencoba menjadi member Baca di Halaman dan meminjam 2 buku dalam 1x checkout. Kondisi bukunya masih bagus, bisa dibilang cukup terawat, bahkan disampul plastik lho bukunya—kayaknya semua perpustakaan kayak gini deh (•Ο‰•)

Dengan sistem meminjam seperti ini, aku jadi lebih menghemat uang nyaman, karena uang yang dikeluarkan untuk meminjam buku nggak terlalu besar dibanding harus membeli banyak buku. Apalagi, aku ini orangnya jika membaca buku terutama fiksi, pasti hanya 1x membaca. Jadi, metode meminjam seperti ini lebih efektif menurutku. Selain aku jadi bisa baca lebih banyak buku, aku juga jadi tidak perlu menimbun banyak buku di rumah. 

Fyi, for next, aku mau pinjam Kafka on The Shore dan Every Day. Keduanya adalah buku fiksi hasil rekomendasi temanku. Nggak sabar buat baca ≧∇≦


Nah, gimana nih? Apa kalian tertarik buat meminjam buku di Baca di Halaman? 
Kalau tertarik, kalian bisa langsung cek websitenya atau di IG @bacadihalaman.

Kalau ada pertanyaan seputar Baca di Halaman, let me know! Aku akan bantu jawab sebisa-ku ya.




Disclaimer:
Post ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi.



Pict credit by Baca di Halaman.
Edited by me.


The dreamer.




34 komentar

  1. Pengen.. Tapi jauh benget di caladak saya di madiun. Saya juga lebih suka baca buku dalam bentuk fisik dari pada lewat hp. Karena itu kemarin saya beli buku onlen tapi belum nyampe rumah.
    Pengen banget baca buku norwegian wood. Tapi ternyata harganya mahal. Trus saya mau nonton filmnya aja, eh nggak nemu link download yang pas😩 sebel jadinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, kalau dari Cilandak ke Madiun sih bisa berat di ongkos itu kak πŸ˜‚
      Kalau dari Malang, jauh nggak ya? Ada nih tempat rental tapi daerah Malang.
      Memang baca buku fisik lebih ada kenikmatan tersendiri ya hihihi.
      Wah, book haul dong nanti kalau udah dateng bukunya πŸ˜†
      Eh iya, Norwegian Wood coba cari yang bekas aja? Coba cari di Carousell deh kak? Barangkali ada. Aku bahkan baru tahu kalau ada filmnya lho πŸ˜‚
      Tapi lebih baik baca bukunya sih, terlalu banyak adegan erotis, mungkin kalai di film bakal di cut wkwkw

      Hapus
  2. Waah, serunya, sederhana tapi bermanfaat ya mbak, keren euy!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi betul sekali! Terima kasih udah mampir ya πŸ™

      Hapus
  3. Badaaast..langsung kepow deh aku ama perpus ini
    >_____<

    Kupikir tadinya apa dong? πŸ˜‚
    Soalnya judul postnya baca di halaman

    ya kirain semacam habit lia yang suka membaca di halaman rumah

    ternyata oh ternyata perpustakaan onlain...

    tapi jatuhnya rada mahal ga sih li ketimbang beli hehhehehe, soalnya ada ongkir balikinnya segala huahahhaha..

    tapi klo koleksinya banyak sih ga pa pa ya, malah ada bukunya haruki murakami segala yang mana beberapa judul lagi pengen aku baca, dan norwegian wood juga salah satunya selain juga lagi kepo ma bukunya ryu murakami juga 😍

    Btw aku blom bisa menerapkan cinta tak harus memiliki kalau urusan buku

    Soalnya kadang uda nafsu duluan buat belanja buku yang tentunya fisik punya ya, bukan e book... terus terang aku type yang ga gitu menikmati baca e book hahahahha...jadi kadang tau2 uda koleksi aja bertumpuk-tumpuk buku fisik, masalah bacanya ntar ya cincaylah, yang penting tumpk terossss ahahah #nah loh parah amat ya gw πŸ˜‚

    Itulah kenapa di masa depan andai ada space kosong di rumah pengenku adalah bikin perpus mini khusus buat majang koleksi buku dan majalah serta komik2ku yang uda ngalah2i rental bacaan huahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh lah mbak mbul pinjamin aku bukunya daripada tidak dibaca karena nganggur.😁

      Hapus
    2. Nyiahahahah aku sih ngarepnya demikian, bisa baca santuy di halaman rumah tapi sayang halaman rumahku nggak mendukung buat baca santuy kak πŸ˜‚

      Emang agak berat di ongkir tapi tetep hitungannya lebih murah (menurutku) karena kurang lebih butuh 200rb tapi bisa baca 8 buku gitu kak, kalau beli kan 200rb dapet 1 tuh πŸ˜†

      Koleksinya cukup banyak yang hits-hits makanya aku tertarik buat nyoba jadi membernya hahaha.

      Btw, kak mbull lagi mau baca buku Murakami yang judulnya apa aja? Selain Norwegian Wood ya.

      Tapi kalau posesip sama buku sih beda cerita, nggak mungkin bisa kalau tidak memiliki ya! Persis kayak temenku huahahaha. Udah masuk kategori penimbun nih yaaa! Waduh, banyak sarang laba-labanya nggak tuh ditumpukan bukunya? πŸ˜†

      Aku juga tim buku fisik sih tapi kadang beli pdf di Playstore tuh murah banget deh, jadi kadang tergiur juga buat beli 😭

      Ihhhh sumpah ya pasti keren abiesss kalau jadiin perpus gitu! Aku suka banget lihat yang kayak begitu soalnya πŸ˜†

      Book tour dong kak! Book tour! *udah 2x nih ngomong kayak gini* wkwkw

      Hapus
  4. Waaah makasih banyak kak infonyaaa... udah lama pengen nyari perpus online gini... sekali nemu adanya di malang :(

    bener banget, baca buku fisik jauh lbh enak dibanding ebook. nyoba langganan ebook gramedia tapi capek karena harus baca dari HP. Infonya bermanfaaatttt banget! Makasih banyakkk kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiii! Sama-sama. Semoga bermanfaat ya πŸ™
      Sepertinya aku tahu nih maksud kamu yang di Malang itu perpus apa hahaha.

      Aku baca di iPusnas aja pusing kalau kelamaan terus mata jadi berembun πŸ˜‚
      Memang buku fisik nggak ada yang ngalahin ya! Semoga kamu nemuin buku yang kamu suka di perpus ini yaaa. Terima kasih udah mampir ke sini ❤

      Hapus
  5. Saya hadirrrrr! Gawaaaat, ini racun gimana dong 😱

    Besok langsung aku japri ah tanya-tanya tentang peminjaman bukunya. Biaya sewanya sih nggak terlalu mahal ya, cuma memang sepertinya agak berat di ongkir. Soalnya kalau pengalaman pinjam online dulu biaya ongkir ditanggung si perpusnya gitu, jadi kita benar-benar hanya keluar biaya langganan aja. Tapi ini worth to try yaa. Dari hasil kepo di IG, mereka kayaknya punya koleksi buku non fiksi yang oke-oke. Akutu kadang-kadang masih suka keberatan dompet kalau beli buku non fiksi apalagi impor πŸ˜†

    THANK YOU BIG MUCH INFONYA YAA LIA πŸ’œ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiii ci! Gimana racunnya? Nikmat? #ehh

      Buruan japri sama pustakawannya hihihi, baik sekali pustawakannya lho.
      Memang sih perkara ongkir ini lumayan jadi beban ya, aku pun juga ngerasa agak berat di awal tapi setelah aku pikir kembali, sepertinya cukup worth it ci. Apalagi aku sama kayak cici, masih nggak rela kalau beli buku non fiksi impor karena harganya πŸ˜‚
      Dan di sini, dia sediain cukup banyak koleksi buku non fiksi impor bahkan ada buku yang tersedia versi english atau indo-nya.

      Kalau pinjam di sini, sekitar pinjam 8 buku = harga 1 buku non fiksi impor yang 200rb-an. Jauh kan harganyaa tapi balik lagi ke preferensi masing-masing πŸ˜†

      Sama-sama Ci Jane πŸ’œ

      Hapus
  6. Jaman SMP-SMA saya pelanggan tetap taman bacaan dekat sekolah, sampai sudah akrab sama semua pegawainya. taman bacaannya minjemin segala macam, mulai dari komik, majalah, sampai novel. Terakhir saya ke sana pas sudah bekerja, katanya peminjam semakin lama semakin sedikit karena orang sudah beralih membaca komik online kayak webtoon, atau baca novel online saja.

    Tapi kalau lihat dari contoh Baca di Halaman ini, yang sampai punya jasa kirim, termasuk inovasi juga ya. Kayaknya yang dibutuhkan taman bacaan dekat sekolah itu cuma revitalisasi dan rebranding, biar bisa masuk kembali ke pasar pembaca buku. Soalnya pembaca buku masih banyak, menurut saya. cuma harus pinter kurasi buku dan mempromosikan koleksinya, ngga bisa sembarang beli asal yang terbaru...

    sekilas adanya ongkos kirim bikin mahal, padahal bermanfaat banget ya buat baca buku tanpa harus beli, apalagi lebih ramah lingkungan hehehe. semoga perpustakaan indie gini bisa bertahan lama. tapi saya si orang yang sok edgy ini, sekarang lebih beralih ke buku digital aja, meskipun masih belum terbiasa :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Kak Mega 😊

      Wah, sayang sekali kalau taman bacaan seperti itu harus hilang dimakan jaman. Aku setuju sama Kak Mega! Taman bacaan itu butuh revitalisasi dan rebranding. Koleksi bukunya bisa diperbaharui, dipilih dengan lebih baik, terus mulai sounding di medsos juga, aku yakin seandainya mereka melakukannya, taman baca itu bisa bangkit lagi. Sayang banget soalnya kalau harus hilang 😒
      Semoga mereka bisa sadar dan segera bangkit ya.

      Mikirnya berat karena ada ongkos kirim tapi sebenarnya kalau dihitung kembali, tetep nggak mahal kok jatuhnya. Tapi kalau peminjam berasal dari luar Jabodetabek sih berasa mahalnya πŸ˜‚

      Huahaha aku pun juga sedikit-sedikit ada lah baca versi digital, awalnya gaya-gayaan juga mau bacanya versi digital aja tapi lama-lama luluh lagi setelah megang buku fisik πŸ˜‚ #lemah

      Semangat terus dalam membaca ya kak πŸ’•

      Hapus
  7. Yap, aku juga lebih suka baca buku fisik. Tapi karena keterbatasan ruang dan waktu. Aku juga baca buku non fisik yang aku dapat di ipusnas.

    Gak nyangka dong, aku tamat baca novel tereliye 500an halaman yg judulnya kau, aku dan angpau merah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iPusnas ini memang penyelamat segala umat ya πŸ˜‚
      Aku pun merasakan manfaat yang baik dari app ini.

      Wihh! Keren bangettt! Itu tamat dalam berapa hari? πŸ˜†
      Lumayan kan jadi hemat uang soalnya bisa pinjam di iPusnas hihihi.
      Semoga koleksi iPusnas makin banyak ya πŸ˜†

      Hapus
  8. Oh ternyata baca di halaman itu perpustakaan online ya, kirain aku apa.πŸ˜…

    Menurutku kalo harga sewanya segitu ditambah dengan ongkos kirimnya bolak balik mending sekalian aku beli bukunya, apalagi aku itu tipe orang yang kalo baca tidak cukup sekali, bisa berkali-kali biar paham atau puas menikmati jalan ceritanya.

    Soalnya ongkos sekali kirim 16 ribu, bolak balik udah 32 ribu,belum ditambah harga sewa bukunya.πŸ˜ƒ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apakah Kak Agus juga mengira ini kisahku membaca di halaman rumahku? Wkwkwk

      Nah, kalau kirimnya jauh sih berasa ya kak πŸ˜‚
      Tapi kalau masih di Jabodetabek sih, ongkos kirimnya masih okay lah.
      Apalagi kalau posesip sama buku! Wah, nggak bisa deh sewa-sewa kayak gini karena ujung-ujungnya pasti bakal beli juga kan? Wkwkwk

      Hapus
  9. Setuju sih sebenarnya kalau baca buku fisik ada manis-manisnya gimana gitu^^. Terus kalau buku fisik, ada orang mau pinjam bisa kita pinjemin, nah kalau e-book.

    Tapi aku pribadi udah mulai lebih memilih baca ebookπŸ˜„ tinggal bawa hp aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manis-manis gimana gitu? Kayak merk air mineral dong? πŸ˜†πŸ˜†

      Ah, bener banget! Aku juga kadang pingin kasih pinjem ebook ke orang tapi gimana caranya ya, masa harus oper email sama password dulu biar bisa akses πŸ˜‚

      Memang lebih praktis kalau ebook yah. Aku pun mix kok, kadang baca fisik, kadang ebook.

      Tetap semangat dalam membaca ya πŸ’•

      Hapus
  10. Seru banget kalau ada tempat persewaan begituuuu 😍 di Bali sayangnya nggak ada, di Jeju juga nggak ada 🀣 semisal mau coba di tempat yang Lia rekomendasikan, mungkin ongkirnya bakal lebih mahal dari harga buku barunya 🀭

    Wish one day, mereka bisa buka cabang di berbagai kota yah. Karena idenya menarik dan pastinya akan membantu banyak pecinta buku yang ingin saving budget πŸ˜† hehehehehe. Happy reading, Lia 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana kalau Kak Eno pencetusnya di Jeju dan Bali? πŸ˜†

      Kalau kirim dari Jakarta ke Bali sih, tekor banget ongkirnya kak, mending beli buku baru wkwkw

      Aminn! Semoga bisa buka cabang atau bisa ada owner-owner baru yang terinspirasi akan ide mereka. Membantu banget sih buat kaum-kaum seperti diriku yang mau baca buku import tapi tetep mau hemat wkwkw

      Thank you Kak Eno ❤

      Hapus
  11. Nama tokonya "baca dihalaman"? unik ya πŸ˜… kalau kopdar disana kayaknya asik nih. Cilandak juga gak terlalu jauh dari rumahku..

    baca berita kayak gini aja udah bisa naikkin mood 😍. Makasih ya lia, Informasinya sangat bermanfaatπŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, lucu ya namanya soalnya dia ada konsep outdoornya juga sih jadi mungkin namanya terinspirasi dari sana 😁

      Wih, enak dong bisa main-main ke sini! Rumahku lumayan jauh kalau ke Cilandak tapi kapan-kapan kopdar boleh lah πŸ˜†

      Wah, senangnya! Sama-sama Kak Reka! Terima kasih juga udah membaca πŸ₯°

      Hapus
  12. Cinta tak harus memiliki πŸ˜‚ waaah jujur aku baru tauu ada tempat kayak gini, lumayan dekat pula sama rumah!

    Kalo aku sebenarnya sama, lebih suka buku yang ada fisiknya gitu. Tapi karena aku sejak lulus kuliah jarang ketemu toko buku dan jarang banget beli buku (kecuali kalo ada BBW), aku jadi udah terbiasa juga baca versi e-book. Lebih cocok juga dengan lifestyle aku yang suka baca di manapun aku berada hahaha karena lebih mudah dibawa.

    Btw Kafka on The Shore emang worth to read!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seriuss deket sama rumah kakak? Ih asik banget! Bisa sering mampir ke sini nih. Boleh coba dikepo-in itu akun IGnya πŸ˜‰

      Memang ebook itu praktis dan simple sih ya kak, bisa dibawa kemana-mana dan nggak makan banyak tempat kayak buku fisik πŸ˜‚
      Kadang aku juga baca ebook, kadang fisik. Ganti-gantian biar tak saling iri huahahaha.

      Really? Aku baru baca 10 halaman ini πŸ˜‚
      Temenku juga bilang bagus, makanya aku pinjam hahaha.

      Hapus
  13. Cuss langsung masuk list nih! Eh tapi ini pengirimannya gak terbatas kan ya mba? Karena aku dom Bandung, takutnya cuma sebatas Jabodetabek:(( soalnya kalo peminjaman buku semacam itu di Bandung aku cuma tau satu, itupun rasanya masih belum puas karena ada beberapa buku yang dicari tapi gak tersedia😟

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, untuk hal itu, mungkin kamu bisa langsung hubungi aja ke pustakawannya? Aku takut salah kasih info πŸ˜…

      Di Bandung ada ya? Aku baru tahu lho! Di sana sistemnya membership juga kah?

      Hapus
    2. Hohoho okedehh nanti aku tanyain langsung via medsosnya😁

      Ada beberapa sih sebetulnya, tp yg aku tau cuma satu ini dan itupu. lupa namanya apa wkwk. Di sana sistemnya bisa membership bisa nggak, tapi kayaknya gak kalau join membership pun gak akan ngaruh banyak jd aku prefer pinjem bukunya aja. Kalo terikat gitu kan agak gimana juga gituπŸ€”πŸ˜‚

      Hapus
  14. Wah, oke juga ya. Lumayan murah juga cuma Rp 50rb saja per bulan untuk jadi member. Tapi bisa dibaca di sana juga kan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, lumayan kan kak. Bisa baca sebanyak-banyaknya juga kalau emang mampu.
      Bisaa, baca di tempat bisa banget. Malah setahu aku kalau baca di tempat bisa dapat free ice cream lho 🀭
      Kalau rumah kakak deket sama Cilandak mah, mampir aja kaaak hihihi.

      Hapus
  15. Aku tuh ttp paling sukaaaaa baca buku fisik drpd e-book mba. Bedaaaa ya sensasi baca buku beneran yg kertasnya bisa dipegang dan dicium :p. Aroma kertas itu paling enaaak loh :D. Makanya aku slalu suka ke toko buku. Mau buku baru ato bekas, aroma kertas ga ada yg bisa bandingin :D.

    Tp memang bbrp bulan ini aku udh lama ga beli buku fisik, Krn perpustakaan ku LG penuuh . Blm bikin rak baru utk menampung buku2 lain. Makany aku semnetara baca buku online.

    BACA DI HALAMAN ini lumayan jauh dr tempatku. Tp kalo diitung2 kayaknya jatuh LBH mahal juga, secara ada onkir balikin, dan sewa bukunya sama dengan hrg buku bekas di langgananku .. jd kalo di aku kayaknya tetep lebih murah kalo beli buku bekas ato baca ebook mba :D.

    Dulu zaman msh sekolah aku member juga di perpustakaan ato tempat penyewaan buku gini. Dan paling semangat nunggu Selasa,waktunya utk meminjam buku soalnya :D. Dulu aku sempet kepikiran utk buku tempat penyewaan buku, tp dipikir2 aku takut bukuku ga balik. Mereka ini udh kayak anak2ku soalnya :p. Kayak ga rela dipinjemin kecuali aku kenal baik Ama orangnya :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget kak! Aku setuju! Aroma kertas itu enak banget *lho, buku bekas juga ada aromanya tersendiri yang bikin para pembaca jadi rileks (lho, ini buku atau ganja)

      Waaah! Koleksi buku kak Fany sebanyak apa ini, jadi penasaran hihihi.

      Kalau dibanding dengan beli buku bekas, memang sistem seperti baca di halaman ini lebih mahal sih kak. Kak Fany suka beli buku bekas dimana? Bisikin dong!!

      Hapus
  16. kren sih tempanya , pingin bisa juga buka perpus spt ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai kak! kalau koleksi buku kakak banyak, sepertinya bisa nih buka perpus kayak gini. aku pun juga pengin buka kayak gini πŸ˜‚

      Hapus