Membaca Buku Bajakan.

Minggu, 27 September 2020


Photo by Leah Kelley from Pexels


Pada dasarnya, pembajakan itu bersifat ilegal. Baik itu pembajakan CD, tas, buku, semua adalah tindakan melanggar hukum. Kecuali, membajak sawah πŸ€ͺ. Nggak, aku nggak akan membahas soal pembajakan karena itu merupakan suatu tindakan yang mutlak salah. Namun, bagaimana dengan para pembeli barang-barang bajakan? Dalam hal ini, terutama buku.

Aku nggak bisa bilang kontra akan hal ini, juga nggak bisa bilang pro karena banyak alasan seseorang membeli buku bajakan, meskipun biasanya, alasan utama dari tindakan ini adalah keterbatasan biaya.

Yap. Banyak orang yang masih memiliki keterbatasan biaya dalam membeli buku, makanya hal ini dijadikan kesempatan oleh para pembajak dengan menjual buku bajakan dengan harga yang sangat murah. Buku asli yang dibandrol dengan harga 100ribu, maka ketika dibajak, bisa dijual dengan harga 20ribu, bahkan 10ribu. Siapa yang tidak tergiur?

Banyak orang berpikir bahwa harga buku di Indonesia termasuk mahal, sedangkan buku bukan kebutuhan dasar dari hidup. Jadi, kenapa harus membeli yang mahal kalau ada yang murah?

Juga dalam kegiatan akademis, banyak buku-buku pelajaran yang wajib dimiliki oleh para siswa dan harga untuk sebuah buku bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Kalau siswa tersebut termasuk orang mampu, tidak ada masalah untuk membeli buku tersebut. Namun, bagaimana jika siswa tersebut tidak mampu? Haruskah dia nggak makan berhari-hari agar bisa membeli sebuah buku yang diwajibkan untuk dimiliki tersebut? Hal seperti ini yang kemudian menimbulkan banyak argumen yang abu-abu.

Berbeda cerita jika ada orang yang mampu untuk membeli buku asli, tetapi memilih untuk membeli buku bajakan. Aku nggak akan setuju dengan tindakan seperti ini. Big no no πŸ™…πŸ»‍♀️.

Yang perlu diketahui oleh masyarakat adalah dari harga jual sebuah buku asli yang beredar di pasaran, ada banyak orang yang dibiayai dari uang hasil penjualan tersebut. Dari mulai penulis, editor, proof-reader, ilustrator, percetakan, distributor, promotor, sales, hingga para karyawan toko buku. Begitu banyak orang yang menggantungkan hidupnya di balik sebuah buku asli yang beredar di pasaran. Jadi, jika kita memilih untuk membeli buku bajakan, secara tidak langsung, kita udah memangkas apa yang menjadi hak dari orang-orang yang berada di balik sebuah buku.

Bukannya aku sok menggurui, aku pernah berada di posisi menjadi pembaca buku bajakan. Beberapa kali sewaktu kuliah, dosenku menyarankan untuk memfotokopi aja buku panduan yang disediakan. Lalu, aku pernah beberapa kali membaca novel bajakan berbentuk e-book, bahkan novel Midnight Sun, Twilight series karya Stephanie Meyer yang baru banget rilis bulan ini, pernah aku baca versi hard draft-nya yang katanya "bocor" beberapa tahun lalu πŸ˜–. It was my bad, yeah. Dan, semenjak aku tahu juga sadar akan perbuatan salahku ini, aku benar-benar berhenti dan menolak untuk membaca buku bajakan baik versi fisik maupun e-book dan aku berniat untuk membeli buku Midnight Sun yang sebentar lagi akan rilis dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia sebagai permintaan maaf kepada sang pengarang karena aku pernah baca versi bajakannya πŸ˜“.

Hal yang membuatku sadar dan berhenti membeli buku bajakan adalah saat aku mengetahui bahwa penulis buku hanya mendapat bagian sebesar 7-15% dari harga penjualan buku dan akan dibayarkan per 2-3x setahun. Bayangkan aja sebuah buku yang dijual dengan harga 50ribu, berarti penulis akan mendapatkan royalti paling minim Rp 3,500,- yang akan dibayarkan 1x/4 bulan atau 1x/6 bulan.

Kaget. 

Begitu respon pertamaku saat mengetahui kenyataan pahit itu.


Bagaimana cara membedakan buku asli atau bajakan?


Banyak sekali pertanyaan seperti ini yang terlontar di komunitas-komunitas buku. Sebenarnya, sangat mudah untuk mendeteksi apakah buku yang dijual adalah buku asli atau bajakan.

1. Harga jual sangat miring. Ini patut dicurigai. Apalagi iming-iming beli 3 buku "best seller" hanya 100ribu. Kalau ragu, langsung cek harga buku ke website penerbit atau toko buku besar.

2. Perbedaan mencolok pada buku. Dari cover, bahan kertas, font tulisan hingga layout tulisan pasti sangat berbeda. Buku bajakan biasanya bahan cover-nya tidak glossy, cenderung seperti karton biasa. Kertasnya pakai kertas buram dan isi buku seperti hasil fotokopi atau cetakannya miring-miring. Pokoknya, nggak nyaman banget untuk dibaca.

3. Bentuk e-book paling sering dijual bajakannya. Untuk itu, beli lah e-book pada toko resmi seperti Google Playbook, Kindle by Amazon dan Kobo. Atau bisa baca gratis di Ipusnas, langganan di Gramedia Digital/Scribd/Bookmate. Kalau ada yang jual e-book selain dari toko-toko yang aku sebutkan di atas, patut dicurigai apakah itu legal/ilegal. Namun biasanya sih, di luar toko-toko yang aku sebutkan di atas, termasuk penjualan ilegal.


Well, kemajuan dan kemudahan teknologi pada zaman sekarang, membuat para pembajak buku semakin mudah untuk melakukan pembajakan. Versi e-book adalah versi yang paling sering dan paling mudah untuk dibajak. Jadi, kalian harus sangat berhati-hati dan sangat harus teliti jika ingin membeli e-book. Oiya, free pdf yang beredar dimana-mana itu, patut dicurigai juga legalitasnya. Kebanyakan sih, itu termasuk bajakan apalagi jika free pdf itu berisikan novel-novel yang baru terbit.


Bagaimana jika udah terlanjur beli bajakan?


Iya, bagi yang baru sadar kalau buku yang dibeli adalah buku bajakan, ada beberapa cara untuk menebus kesalahan kita :

1. Kita membeli versi asli dari buku tersebut jika memang suka dengan karya sang penulis.

2. Berhenti membeli buku bajakan. Kalau perlu, bantu mengingatkan sang penjual/sang pengedar buku bajakan tersebut bahwa tindakannya salah.

3. Berhenti di kamu. Yap! Jangan disebarluaskan lagi buku/link free pdf bajakan yang kamu dapatkan. Cukup berhenti di kamu aja, ya.


Pada intinya, jika kita ingin agar penulis kesayangan kita dapat terus melanjutkan karyanya, apreasiasi lah karyanya dengan membeli buku yang asli. Jika harga bukunya terlalu mahal, beli bekas juga tidak masalah yang penting asli. Kalau beli buku bekas masih terasa berat, kumpulin ovo points hasil belanja sana-sini dan gunakan untuk membeli buku. Masih terasa berat? Pinjam bukunya sama teman yang punya. Kalau nggak ada teman yang punya? Yauda, nabung dulu aja biar bisa beli buku yang asli sambil menunggu, barangkali ada diskon-diskon tak terduga dari sang penerbit atau toko buku atau tunggu 12.12 alias Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional).

Pokoknya, sebisa mungkin, hindari membeli bajakan. Jika, amat sangat terpaksa untuk membeli bajakan, jangan disebarluaskan lagi.

Cukup berhenti di kamu.


Sehabis ini,
enaknya diskusi tentang apa ya?


The dreamer.



74 komentar

  1. Beli buku bajakan memang bisa merugikan orang-orang yang mencari uang dari sana. Kawatir nanti publisher pada gulung tikar dan para penulis pun pada give up menulis. Huuuu. Mana pajak penulis di Indonesia lumayan besar katanya. Semakin susah dong mereka. Sedih bangetttts ~

    Thankfully sekarang ada aplikasi seperti Ispusnas yah, Lia. Menurut kakak itu sangat membantu pembaca yang ingin baca buku gratis dan legal. Semoga stock buku di Ispusnas tambah banyak. Penulis dan publisher bisa makmur dan pembaca bisa bertambah ilmu dari buku yang dibaca 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hal itu juga yang aku khawatirkan akibat dari banyaknya pembajakan di dunia perbukuan πŸ˜–

      Bersyukurnya, sekarang udah banyak apps yang menyediakan ebook baik gratis maupun berbayar. Semoga lebih banyak orang yang bisa merasakan keberadaan iPusnas dan teman-temannya ya, Kak πŸ™πŸ»
      Aminnn! Thank you for sharing, Kak Eno! I will miss you πŸ˜–

      Hapus
  2. sebenernya salah satu cara untuk mendapatkan buku jika tidak mampu adalah ke perpustakaan. namun sayangnya di Indonesia, perpustakaan ini semacam tempat singup dan tidak keren. belum lagi koleksi bukunya jadul dan begitu masuk keluar-keluar bisa asma..

    tapi benar sih, dulu zaman kuliah aku juga sempat melakukan kejahatan tersebut. pinjam buku di perpustakaan, lalu memfotokopinya! πŸ˜…

    alasannya ya itu, bukunya langka, dan meminjam di perpus kan ada jangka waktunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak, setuju banget! Keberadaan perpustakaan di Indonesia bisa dibilang sangat kurang dalam hal kuantitas dan kualitas. Padahal, perpustakaan adalah sumber untuk bisa meningkatkan minat baca masyarakat. Aku berharap semoga lebih banyak lagi perpustakaan yang layak, nyaman, koleksinya update terus di Indonesia.

      HAHAHA sepertinya soal memfotokopi buku kuliah ini persoalan yang turun temurun ya πŸ˜‚

      Hapus
  3. Ya ampun saya dulu sering banget baca bajakan dong. Jadi jaman masih smk. Nggak ada perpus di sekolah dan saat itu saya pengen banget baca buku, secara nggak sengaja saya nemu novel pdf di internet trus kecanduan download novel pdf deh. Harry potter sama twilight aja juga bacanya lewat pdf. Tapi dulu saya beneran nggak ngeh kalau itu bajakan, saya mikirnya, canggih banget novel bisa dibaca lewat hp. Kebetulan saya juga baru punya android waktu itu.
    Trus beberapa waktu lalu temen saya kirim artikel yang membahas soal buku bajakan dan royalti para penulis. Persis seperti kata mbk lia. Saya jadi merasa bersalah. Padahal banyak yang menggantungkan nasibnya dari buku asli itu ya. Sekali saya beli di gramedia langsung dan rasanya tuh beda, seneng banget. Dan karena harganya mahal jadi udah pasti harus dibacaπŸ˜‚ kalau bajakan, karena murah kadang males baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebanyakan orang nggak sadar bahwa yang didapat secara gratis di internet itu termasuk golongan bajakan, Kak. Aku juga dulu nggak ngerti kalau itu bajakan dan ngerasa senang karena bisa baca novel gratis. Weleh-weleh πŸ˜‚
      Bersyukur akhirnya kita tercerahkan sebelum kecemplung terlalu dalam ya, Kak Tria πŸ˜‚
      Memang rasanya beda kalau punya buku asli sama bajakan. Pastinya lebih semangat baca karena udah beli mahal. Wkwkw. I feel you, Kak~

      Hapus
  4. Aku merasa bersalah banget ketika ternyata buku yang ku beli adalah buku bajakan, Kak Lia. Akhirnya buku bajakan itu nggak pernah ku pinjamkan ke orang lain, karena aku menyadari bahwa tindakan itu benar-benar salah, huhu. Membayangkan kisah di balik penjualan buku dan royalti yang didapat oleh penulis yang nggak seberapa itu membuatku pedih :'))

    Waktu kuliah dulu terpaksa download PDF dan fotokopi buku diktat karena bukunya langka, sedangkan tugas-tugas semakin numpuk dan butuh banget buku itu :'))

    Kali ini ku bulatkan tekadku untuk tidak membeli lagi buku-buku bajakan dan tidak meminjamkan buku bajakan ke siapapuuuuunnn :'))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur karena kamu udah sadar duluan bahwa itu buku bajakan ya, jadi nggak sampai disebarluaskan. Good job, Dhir! πŸ‘πŸ»
      Iya, ternyata hidup menjadi seorang penulis itu susah apalagi debut author, pendapatannya kecil sekali padahal effort yang dikeluarkan sangat besar 😭. Ayo kita sama-sama untuk terus mendukung para penulis dengan membeli buku asli ya 😁

      Kalau masalah akademis, aku juga pernah ngalamin, tapi mau bagaimana ya, bingung juga πŸ˜‚ karena banyak faktor yang membuat kita akhirnya memilih memfotokopi buku kuliah πŸ˜‚ that's why, dalam hal ini, abu-abu sekali.

      Hapus
  5. Wah jadi inget masa-masa nakal dimana buku fotocopy-an dan free ebook adalah jalan untuk membaca buku. Emang sih harga buku tuh mahal banget. Meskipun aku tau proses untuk membuat sebuah buku itu gak mudah dan butuh effort yang banyak tapi kadang namanya manusia pasti tergoda yang murah aja atau kalau bisa gratis.

    Persoalan buku bajakan ini berat sih emang, harga yang mahal atau kadang susah dicari di pasaran. Mau pinjam gak ada yang punya dan gak semua wilayah punya perpustakaan. Aku selalu suka sama perpustakaan. Sejak SMP sampe kuliah hobby nya ke perpustakaan kalo lagi bosen di rumah. Sayangnya di domisili ku sekarang gatau perpustakaan ada dimana :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak memungkiri memang manusia akan cenderung memilih buku gratisan daripada harus beli puluhan bahkan ratusan ribu untuk sebuah buku πŸ˜‚ tapi sekarang, udah taubat dong, Kak? 🀭

      Nah, itu dia problem lainnya. Minim sekali perpustakan di daerah-daerah dan koleksi buku di perpustakaan itu kurang update 😣 di daerahku aja, aku nggak tahu dimana ada perpustakaan selain Perpus Nasional dan perpus sekolahan ya πŸ˜‚ too bad, semoga bagian ini bisa diberi perhatian lebih, nggak cuma dari pemerintah, tapi juga dari masyarakat.

      Hapus
  6. Udah sejak lama aku sadar akan begitu merugikannya beli buku bajakan, Li. Enak sih, kita beli buku bajakan, kan murah. Tapi di sisi lain dengan kita membeli buku bajakan, kita berkontribusi merugikan semua pihak yang terlibat dalam pembuatan buku aslinya, seperti penulis, editor, ilustrator, penerbit, dan lain sebagainya. Kan kasihan mereka...

    Oleh karena itu daripada beli buku bajakan, aku lebih memilih pinjam aja ke perpus. Kalau lagi pandemi gini karena males keluar rumah, aku lebih suka baca lewat ipusnas πŸ™ˆ

    Tapi pernah sekali aku melanggar prinsipku untuk gak beli buku bajakan. Waktu itu ada satu matkul yang mewajibkan mahasiswanya untuk punya buku SAK. Karena buku aslinya harganya muahal banget, sedangkan mau pinjam ke perpus juga buku itu gak diperpinjamkan, akhirnya aku beli fotokopiannya 😭. Mau gimana lagi, kalau gak bawa si SAK ini aku gak bisa ikut matkul itu. Kalau gak menempuh matkul itu, aku gak bisa lulus.. 😭😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, Kak Roem! Membeli bajakan itu murah, bahkan ada yang kasih dengan cuma-cuma, tapi dengan membeli bajakan, sama aja kita memotong rejeki orang-orang yang ada di balik sebuah buku kan 😭

      Nah, untungnya sekarang udah ada iPusnas atau Gramedia Digital. Meminjam dan membaca jadi lebih mudah dan terjangkau. Semoga banyak orang bisa lebih merasakan manfaat dari kedua app ini ya, Kak πŸ₯ΊπŸ™πŸ»

      Wkwk memang ya, kenapa buku pelajaran itu mahal-mahal sekali. Aku juga bingung dan ngerasa serbasalah πŸ˜‚ di satu sisi, kalau nggak punya bukunya, bisa terancam dapat nilai buruk dll. Di satu sisi, harga buku mahal banget/susah didapat jadi harus memfotokopi 😭 sungguh pelik~

      Hapus
  7. Karena saya belum pernah beli e-book, jadi terus terang nggak begitu ngerti soal buku bajakan atau tidak. Biasanya kalau beli buku cetak, saya dan Kribo ke toko buku resmi.. Karena kebiasaan.

    Kalau dulu saya gemar berburu buku bekas di Pasar Senen atau dimanapun, jadi nggak ngerti apakah itu buku bajakan atau tidak.

    Tapi setuju banget dengan pandangan Lia soal kita harus menghargai hak kekayaan intelektual orang lain dengan membeli sesuai harga.

    Secara tidak sengaja mungkin saya sudah melakukannya, walau nggak tahu juga karena masih ada sisi abu-abu dimana saya membeli buku bekas (yang mungkin juga pembeli sebelumnya membeli secara bajakan)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau buku bekas, susah sekali dilihat bajakan atau nggak sih πŸ˜‚ apalagi kalau kertasnya udah menguning. Paling bisa dikira-kira aja kemungkinan buku tersebut bajakan kalau layout tulisannya mencong-mencong πŸ˜‚ selebihnya, sulit dideteksi~

      Lebih aman memang beli di toko buku resmi karena memang udah terjamin keasliannya sih, Kak. *nggak usah dibilang juga udah tahu keleus* 🀣

      Hapus
  8. Aku pernah baca buku bajakan seorang komika tanah air, punya teman aku. Kertasnya jelek banget, ada halaman-halaman yang tulisannya kabur. Awalnya aku nggak sadar, pasa masa kuliah dulu pengetahuanku tentang buku bajakan masih minim hehe. Terus lama-lama ngerasa aneh...ternyata beneran bajakan.
    Aku pernah baca buku pdf penulis terkenal yang menulis buku tentang dunia sihir, dan lagi-lagi pada masa itu aku belum terlalu aware dengan bajakan-bajakan dan seberapa banyak orang yang hidupnya tergantung pada penjualan buku. Waktu sadar beberapa waktu kemudian...aku langsung hm oke nggak akan aku baca ulang lagi. Untungnya filenya juga udah kehapus dari kapan waktu.
    Buku-buku klasik tuh banyak banget bajakan pdfnya. Oh iya dan kalau waktu masih sekolah dulu karena keterbatasan biaya ya gitu suka fotokopi buku mata pelajaranπŸ˜… pas kuliah juga tapi nggak sesering pas sekolah karena kalo pas kuliah banyakan baca jurnal yang emang open access dari penerbitnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Kak Endah~ buku-buku karya penulis terkenal itu memang paling sering dibajak sih 😭 apalagi penulis luar, wah itu free pdfnya bertebaran dimana-mana. Kasihan ya penulisnya 😭
      Syukur akhirnya Kak Endah mendapat Wahyu bahwa ternyata buku yang kakak baca itu bajakan ya πŸ˜‚. Kalau sekarang, lebih baik beli fisiknya di toko buku resmi biar lebih aman hihihi.
      Nah, kalau masalah fotokopi pas sekolah, ini problem kebanyakan siswa yang sulit dihindari ya 🀣
      Oiya, perihal buku klasik, setahuku memang banyak buku klasik yang masa copyrightnya udah habis dan jadi public domain, kalau seperti itu maka boleh dikatakan udah nggak masalah lagi untuk disebarluaskan. Kecuali masih ads copyrightnya ya, itu beda cerita πŸ˜‚

      Hapus
  9. Keterbatasan nggak adanya toko buku di daerah kecil atau desa-desa gitu juga bisa jadi pemicu maraknya buku bajakan. Aku contohnya dari SD suka banget baca. Cuma ada satu toko buku di sana. Harganya murah, tapi kertasnya buram. Aku ga tahu apa itu ori atau nggak yang penting bisa baca. Tapi setelah pindah ke kota yang ada gramedianya baru tahu kalau yang selama ini aku baca itu nggak ori. Terus langsung shock dengan harganya yang beda jauh. Kalau sekarang sih sudah kerja dan sudah paham, jadi mending kalau minim budget aku langganan gramedia digital, atau beli yang ori tapi second.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi kak! Ah iya, benar juga! Minimnya fasilitas untuk mengakses buku menjadi celah untuk para pembajak ya 😭 hal seperti ini yang harus diperbaiki nih.
      Hahaha emang harga buku bajakan sama original itu jauh banget harganya ya πŸ˜‚. Mungkin ini juga yang membuat orang lebih memilih beli buku bajakan. Hiks.
      Betul sekaliii! Aku pun sekarang jadi sering beli buku second tapi ori, yang penting bisa baca dan tetap bisa support penulis dengan tidak membeli bajakan hihihi.

      Hapus
  10. Aku juga pernah nulis tntng tipe2 orang dalam pembajakan buku. Dan memang ada tipe terpaksa, yg klo ikut contoh Lia di atas itu misalnya para mahasiswa yg harus belajar dg text book yg harga selangit. Huhu..
    Semoga makin banyak yaa orang2 sadar dg betapa merugikannya buku bajakan itu yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih abu-abu ya kalau membajak dalam urusan akademis gini, Kak πŸ˜‚
      Aminnn. Semoga banyak yang melek juga soal buku bajakan ini, jadi lebih bisa membedakan mana yang asli dan bajakan.

      Hapus
  11. Aku juga lagi belajar buat gak baca buku bajakan dan juga e-booknya kak. Kemarin di tawarin novel apa gitu judulnya aku lupa lagi e-booknya tapi aku tolak. Aku gak bisa bayangin kalau posisi aku jadi si penulisnya. Udah capek-capek mikir, riset sana-sini, mengorbankan segala hal demi satu buku yaa perjuangannya juga layak bahkan harus di apresiasi salah satunya dengan membeli buku yang asli bukan bajakan atau e-book gratisan. Terima kasih sudah menulis ini kak sebagai pengingat juga penguat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zaman sekarang, bentuk ebook memang yang paling sering dibajak deh, Kak 😭
      Membayangkan dana dan jerih payah yang dikeluarkan penulis untuk sebuah buku, lalu bukunya dibajak itu bikin hati miris ya. Hiks.
      Terima kasih juga udah membaca tulisanku ini, Kak! Semoga kita bisa terus mempertahankan sikap menolak buku bajakan ini ya 😊

      Hapus
  12. Alhamdulillah aku nggak pernah beli buku bajakan! Paling nggak ya buku pas lagi diskon2 baru dibeli. Sedih sih emang kalau ada yg bisa kayak gitu. Tapi mau dikata apa lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah! Aku senang banget bacanya 😍
      Lebih baik seperti itu, Cha. Membeli saat sedang diskon daripada membeli bajakan πŸ˜‚

      Hapus
  13. Saya nggak tega beli buku bajakan. Cuma saat kuliah suka dikasih buku bacaan yang setelah diterima baru sadar ternyata bajakan. Alasannya buku aslinya udah susah dicari atau nggak diterbitkan lagi. Bingung juga.

    Cuma kalau ada aslinya ya mending beli aslinya atau minimal yang versi reader...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang setelah aku tahu, aku-pun nggak tega kalau beli bajakan, Kak 😭
      Kalau waktu kuliah memang sering seperti itu karena terhalang dana atau sulit menemukan aslinya πŸ˜‚
      Betul sekaliii. Sekarang juga udah banyak diskon-diskonan atau beli versi ebook karena harganya jauh lebih murah dari fisik 🀣

      Hapus
  14. Aku pernah beli komik bajakan (karena memang ngga terlalu hobi baca buku.) dan memang kualitasnya jauh dari komik asli. Dari kualitas kertas yang jelek sampai gambar yang buram.

    Akhirnya aku beli yang asli saja biarpun beda jauh. Kalo yang bajakan cuma 10 ribu bahkan 7 ribu tapi kalo yang asli 25 ribu.

    Tapi sekarang jarang beli sih. Soalnya udah malas baca komik. Enakan menulis di blog

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak nyaman kan kalau baca buku bajakan, Kak πŸ˜‚. Buku asli itu mahal karena menjual kenyamanan membaca juga, sih 🀭

      Hahaha sekarang kalau mau baca komik, baca webtoon aja. Gratis dan berwarna πŸ˜‰ wkwkw

      Hapus
  15. "belilah buku asli!! karena dengan begitu kalian telah membantu dapur para penulis, editor, tukang cetak, penerbit, dan penjual buku untuk tetap ngebul." ucap salah satu penulis.
    bener juga apa yang dikatakan penulis dan apa yang mbak lia tulis. Sebuah buku telah membantu banyak orang untuk terus melanjutkan hidup.

    Aku belum pernah beli buku bajakan. aku terbiasa beli di toko buku. Kalau beli online, aku pastikan harganya wajar dan sesuai dengan aslinya. Tidak mau jika harga murah. Kemudian aku pastikan dimana aku membelinya. Olshop itu jelas atau tidak. Kalau ga jelas yaa mendingan ga usah beli buku di sana. Cari penjual buku yang jelas dan pasti saja.

    Aku pernah baca buku bajakan di sebuah kios buku. rasanya memang beda dengan buku asli. Belum ada satu halaman, langsung merasa tidak nyaman untuk membacanya.

    Makasih untuk infonya mbak lia:D
    eeh, ada yang punya ava baru...hahahhahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mencetak buku ibarat masak di dapur ya, "biar ngebul" hahaha. Benar juga sih, Kak xD

      Kueren banget! Terus pertahankan sikap seperti itu ya, Kak πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ» semoga sikap Kak Rivai juga bisa menginspirasi teman-teman pembaca lainnya.

      Memang nggak ada nyaman-nyamannya baca buku fisik bajakan, Kak πŸ˜‚
      Belum lagi layoutnya miring-miring atau hurufnya hilang-hilang πŸ˜‚

      Hiahahaha Kak Rivai notice aja! Jadi malu πŸ™ˆ
      Berbahagialah yang menjadi pasangan Kak Rivai karena Kak Rivai termasuk orang yang peka πŸ€ͺ

      Hapus
  16. Di sekolah-sekolah banyak itu yang murid-muridnya pake buku fotokopian.. eh, fotokopian juga termasuk buku ilegal kan ya?

    Btw, salam kenal mbak :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, termasuk ilegal itu πŸ˜‚
      Perkara buku akademis yang bajakan ini memang sulit diberantas πŸ˜‚

      Hapus
  17. hmm kalau novel dsb, daripada beli yang bajakan, aku mending pinjem sih... biasanya pinjem ke perpustakaan

    gak papa kan kalau pinjam?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pinjam jelas nggak masalah, Kak :D
      Asal setelah pinjam, jangan lupa dibalikin ya! Wkwk

      Hapus
  18. Sejak tau royalti penulis dan pajak yang harus ditanggung, aku mencoba untuk "royal" dalam membeli buku lokal. Tentunya aku membeli buku yang benar-benar kusuka yaa. Walau memang usahaku nggak seberapa, setidaknya ini caraku untuk menghargai karya para penulis 😊

    Dulu waktu masih sekolah, aku juga suka tergoda free PDF, Lii. Apalagi buku-buku import yang tebal dan mahal, kepengen baca gratisan aja πŸ˜… tapi sejak kerja, aku bertobat dan komitmen mau beli buku asli saja. Bener yg kamu bilang Lia, selalu ada caranya untuk beli buku halal. Kalau nggak ada uangnya, nabung. Atau bisa minjam or beli second (:

    Soal perpus nasional di sini aku setuju dengan komentar Zam di atas. Masih identik dengan sesuatu yg nggak keren, ke perpus ngapain? Cari bahan skripsi? πŸ˜‚ Makanya sekarang bersyukur yaa sudah lebih banyak perpus indie yg bertebaran. Di Bogor juga ada beberapa, bahkan coffee shop juga ada spot membaca dengan koleksi yang oke-oke :D

    Thank youu udah menyebarkan awareness soal ini, Liaa! ❤️ Btw, iya yaa profpic mu ternyata yang baru wkwkwk cancik cekali cih 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cara yang cici lakukan udah tepat menurutku. Setidaknya dengan terus membeli buku yang asli, dengan begitu kita udah mendukung para penulis dan tim penerbit ya~

      Sama banget, Ci! Aku juga demikian pas zaman sekolah. Maklum, uang jajan pas-pasan jadi mudah tergiur untuk membaca yang gratisan πŸ˜‚ sekarang semenjak udah kerja, aku udah nggak pernah download free pdf bajakan lagi, selalu berusaha beli yang asli atau preloved. Banyak cara menuju Roma πŸ™ˆ

      Oh yaaa? Glad to hear that! Pasti akan makin betah untuk berlama-lama di coffee shop kalau begitu caranya 🀣. Di daerahku masih jarang yang seperti ini, Ci. Aku inginnya menjadi insiator sih, tapi dana untuk modalnya belum ada πŸ˜‚

      Thank you for sharing too, Ci Jane πŸ₯°
      Hiahahah aku jadi malu πŸ™ˆ terima kasih atas pujiannya, Ci hihihi

      Hapus
  19. Aku punya beberapa teman yang udah nerbitin beberapa buku dan aku sempat menjadi bagian dari perjuangannya "menghasilkan" buku tersebut. Panjang dan susah banget... apalagi diterbitkan sekelas penerbit besar.

    Dia suka curhat, dia sedih banget kalau masih ada yang membajak. Ngga banyak penulis buku yang berani "ngesidak" orang-orang yang ngebajak bukunya, tapi dia berani. Dia negur-negur toko offline maupun online yang suka ngebajak buku. Dari dia, aku nggak mau ngebajak buku.

    Hal terburuk yang pernah aku lakukan dengan pembajakan ya cuma pas kuliah sih. Ada saat-saat tertentu dimana aku gakuat beli bukunya karena bilingual dan impor, jadi mahal. Cuma itupun dengan sangat berat hati dan aku ngga mau ngulang lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Woaaaa, keren! Pasti pengalaman yang tak terlupakan sekali bisa bergabung dibalik penerbitan sebuah buku 😍

      Teman Kak Ibel keren banget! Aku tahu memang nggak banyak yang berani untuk sidak seperti itu, tapi aku harap dengan adanya 1 orang yang berlaku seperti itu, bisa ada perubahan yang terjadi. Sedih melihat perjuangan para penulis yang nggak main-main sulitnya 😭

      Banyak teman-teman yang mengalaminya juga, Kak. Terpaksa membajak buku pelajaran, aku juga pernah mengalaminya πŸ˜“ tapi, kalau udah begitu, jalan satu-satunya adalah dengan tidak menyebarluaskannya lagi supaya nggak semakin banyak pembajakan yang ada.

      Hapus
  20. Betool sekali. Masalah yang sering kita hadapi adalah pembajakan. Terkadang, banyak dari kita yang sebenarnya tidak tahu kalau barang yang kita pake adalah bajakan. Terutama sofftware. OS di laptop, kebanyakan dari kita pake Windows yang bajakan. Untuk ngetik, pake Word yang bajakan, sampe untuk jurnal-jurnal ilmiah bagi mahasiswa yang skripsian, carinya juga yang bajakan di sci-hub, wqkwk

    Yaa balik lagi, banyak yg ga tau n ga sadar, kalo yg dilakukan itu adalah pembajakan. (Walaupun di sisi lain, kalau mau pake Ms. Word dkk yang ori harga nya memang cukup mahal, apalagi bagi kantong mahasiswa)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngomongin Windows... Laptop di rumahku juga pakai Windows bajakan, Kak 😭😭😭 *langsung malu*
      Beli CD Windows yang ori itu muahal banget sih 😭😭😭
      Tapi, aku nggak menyebarluaskan hasil bajakannya lagi kok, cukup berhenti di rumahku aja πŸ˜‚ *membela diri* #plakk

      Hapus
    2. Wkwkk. Tapii katanya kalo OS windows skrng bnyak yg udah terinstall langsung di laptopnya ketika beli. Tahun 2015, aku beli laptop dapat OS windows 8 ori dong..
      Temen2 ku jg yg baru2 ini beli laptop, dapat OS windows 10 yg ori juga πŸ˜€πŸ˜…

      Hapus
    3. Oh yaaa? Berarti laptop keluaran sekarang, harganya udah termasuk OS dong🀣
      Anyway, thank you buat infonya, Kak Dodo! Kalau nggak dikasih tahu sama kakak, aku nggak akan tahu soal hal ini sih πŸ˜‚

      Hapus
  21. Dulu pas jaman-jaman kuliah, malah gak tau sebenernya lagi make buku bajakan lia, saking lugunya πŸ˜‚. Karena dulu kan diajakin aja sama temen-temen belinya di toko buku yang campur sama toko buku bekas. Karena emang gak pernah ngeliat versi aslinya, dan emang gak nemu di tempat lain, tapi disana lengkap banget. Alhasil temen-temen pada borong buku disana semua. πŸ˜…

    Cara saya dulu, kalo pengen baca buku bagus dan bisa terus baca buku lain, saya belinya buku bekas, abis itu dijual lagi trus duitnya dibeliin buku bekas lain lagi πŸ˜‚πŸ˜ atau yah nongkrong di perpus tiap hari 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah, kalau nyampur sama toko buku bekas itu kadang sulit dibedakan, Kak. Mana yang bajakan, mana yang asli tapi bekas πŸ˜‚ apalagi harganya sama-sama miring banget sampai kalap ingin bawa pulang semua buku rasanya 🀣

      Kak Rini, caranya mantul banget! Memang lebih baik seperti itu daripada beli bajakan. Aku juga sekarang jadi sering beli buku bekas terus dijual lagi terus beli bekas yang lain lagi 🀣 yang penting bisa baca dan bukan beli bekas bajakan aja hahaha.

      Hapus
  22. Keingetan dulu semasa kuliah aku sering beli buku bajakan di terminal Senen dan pasar Jatinegara.
    Maklum,saat itu harus pinter ngatur uang saku, hihihi.

    Selain kualitas cetakannya buruk, lembar perhalamannya juga mudah copot.
    Jadinya sering sibuk nambal pakai selotip.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakkk, di daerah sana memang banyak buku bajakan ya? Aku baru tahu! Aku pikir mereka jualan buku bekas aja πŸ˜‚

      Jadi ahli tambal-menambal dong Kak Himawan 🀭

      Hapus
  23. Kalau saya jarang beli buku sih (gitu kok bangga!) *plak, hahahaha.

    Tapi, saya biasanya sombong sih orangnya, kalau mau ngoleksi sesuatu kudu yang bagus *astagaaaa ampunilah kesombongan mahluk narsis ini, hahahaha.

    Tapi serius, saya kalau beli buku, kalau online di penerbit atau di penulisnya langsung, dulu paling sering ngeborong bukunya Asma Nadia, pesan langsung di FBnya Mba Asma :D

    Trus lainnya ya beli di Gramedia, biar kata lumayan mihil sih dibandingkan toko buku lain, hahaha.
    Abisnya saya seringnya ke Gramed ketimbang di tempat lain.

    Dulu tuh sebelum nikah saya sering beli buku, setelah nikah dan punya anak, palingan beli komik, tapi ujung-ujungnya ya beli di Gramed wakakakaka.
    Bahkan online pun, tetep beli di gramed online, ckckckck

    Tapi serius ya, jadi penulis itu nggak mudah loh, nggak tahu kalau udah sekelas Tere Liye ya.
    Tapi yang penulis masih merangkak, royaltinya ya segitu deehhh...

    Kalau nulis buku antologi lebih parah.
    Semacam kita bayar dengan wajib beli beberapa buku hahaha.
    Udah gitu nggak dapat royalti.

    Makanya sekarang banyak yang memilih nerbitkan secara indie, jualan sendiri.
    Dengan rajin branding sih, biar laku :D

    Nah dengan keadaan seperti itu, masih juga dibajak, itu mirip banget dengan tukang plagiat, huhuhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha Kak Rey kan sekarang prioritasnya udah berbeda, jadi aku maklum kalau kakak udah jarang beli buku sekarang. It's okay, Kak!

      Widih~ mantul abiess! Begini nih yang aku suka, kalau sombong jangan malu-malu, pamerin aja semua kesombongan Kak Rey 🀣
      Mantaap. Udah pelanggan setia Gramed banget nih kakak! Semoga ada orang Gramed yang notice, siapa tahu Kak Rey bisa dapat potongan harga karena kesetiaannya terhadap Gramedia 🀭

      Kak, sekelas Tere Liye aja pernah demo ke pemerintah karena pajak royalti yang besar, sampai beliau mogok menulis *begitu seingatku*. Apalagi penulis yang masih pemula, udah nyungsep-nyungsep kali kalau ngomongin royalti 😭

      Astaga, beneran itu? Aku baru tahu soal buku antalogi itu. Jadi udah nulis, disuruh beli juga gitu? Waduh, tekor dong para penulis 😭

      Nah, betul sekali, sekarang aku lihat banyak penulis yang terbitin indie dan mulai bangun branding sekencang-kencangnya sebelum rilis buku. Setidaknya dengan cara seperti ini, mereka bisa lebih hidup. Semoga para pembajak itu bisa dapat pencerahan, sehingga berhenti membajak buku. Kasihan atuh para penulis 😭

      Hapus
  24. btw tos dulu yuk mbak, aku pun pernah berada di posisi menjadi pembaca buku bajakan pas kuliah. wkwkwkkw
    sekarang rasanya berdosa banget tp nggak ada yang terlambat untuk mulai mengoleksi buku ori :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 🀚🏻 *toss* *kok kayak bangga ya* πŸ˜‚
      Betul sekali. Sekarang karena udah paham, pastinya akan lebih memilih membeli buku ori ya :D

      Hapus
  25. Aku tuh bener2 ga mood lanjutin baca kalo udh liat buku bajakan. Dr kualitas kertas aja udh bikin sakit mata. Cetakannya kdg kacau. Diksh gratis aku jg nolak.

    GPP deh beli bekas, yg ptg asli. Sebagai pecinta buku dr kecil, aku bener2 menghargai buku2 yg aku punya.

    Tapi memang Li, harga buku di Indonesia itu msh mahal. Pas msh di Malaysia, aku seneng bgt ke toko buku mereka Popular, namanya. Itu surga siih. Krn buku2 novel berbahasa Inggris aja muraaaaaahhhhhh, jauh bgt Ama hrg di toko buku indo. Makanya pas selesai kuliah, 1 koper ukuran gede, itu isinya buku semua wkwkwkwkwk. Kdg kalo balik ke Penang, aku seneng tuh mampir ke popular, cari novel yg aku tau di indo mahal. Sekalian traveling, sekalian jajan buku :D

    Intinya, kalo aku yaaa, beli buku bajakan, aku anggab sama dgn nyuri. Mencuri hak para penulis, para editor dll. Dan mencuri mau apapun alasannya, udh pasti dosa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai pecinta buku, aku yakin Kak Fanny adalah orang yang anti mengkonsumsi buku bajakan 😁 aku setuju. Lebih baik beli buku bekas tapi original daripada bajakan.

      Banyak banget yang bilang kalau harga buku di Indonesia termasuk mahal Kak πŸ˜‚ apalagi buku-buku import, harganya di atas 100rb semua. Bisa terbilang pricey, jadi bagaimana tidak dibajak ya :(

      Betul Kak Fanny. Aah, semoga lebih banyak orang yang sadar akan buku bajakan ini ya 😒

      Hapus
  26. Tulisan ini sekaligus utk menegur yg suka pake/beli buku bajakanπŸ˜‡

    Jika kita suka beli buku bajakan, maka ada banyak org yg dirugikan, seperti uraian Lia di atas. Bayangkan si penulis dengan susah payah menulis sebuah buku, lalu blm lagi jika didukung dg berbagai penelitian...

    Ada rentetan panjang ke belakang. [butuh proses hingga jadi sebuah buku].

    Bagaimanapun, buku bajakan n buku asli sangat berbeda. Aku pernah lihat punya teman. Halaman ada yg hilang, kertasnya gak bagus, de el el...

    Maap lbh dulu, takut dikira somseπŸ˜‡ kebetulan aku gak pernah beli buku bajakan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Kak Ike. Banyak sekali yang udah dikorbankan oleh seorang penulis ketika membuat karyanya. Dengan kita membeli karyanya yang asli, kan sama dengan kita mendukung pekerjaan mereka dan mendukung future project mereka ya.

      Wah, keren! Nggak sombong sama sekali. Aku malah salut dengan Kak Ike karena tidak tergoda untuk mengkonsumsi buku bajakan. Keren Kak! Pertahankan πŸ’ͺ🏻

      Hapus
  27. Godaan barang gratisan memang susah ditahan, Kak! >:( Tapi lebih sedih lagi kalau sebenarnya kita bisa tahan, eh keadaan justru nggak memungkinkan. Aku juga termasuk mahasiswa yang doyan fotokopi bahan ajar kuliah dulu, malah pernah sampai getol keluar-masuk website penyedia e-book ilegal πŸ˜‚ Waktu itu memang karena modal beli buku yang asli yang minim, tapi sekarang begitu punya penghasilan sendiri alhamdulillah bisa mendukung para penulis dan pekerja-pekerja lainnya di dunia penerbitan! Adanya website penyedia e-book itu pasti menimbulkan pro-kontra ya, Kak... bagi yang nggak berduit, itu dianggap solusi. Tapi bagi si penulis, itu dianggap musuh. Aku setuju dengan komentar-komentar di atas yang menggalakkan lagi sambang perpustakaan! >:) Selain gratis, akses ke buku-buku juga legal! Toh perpusnas sudah ada versi online-nya juga, harusnya makin minim alasan buat beli buku bajakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah akhirnya sekarang bisa ikut mengapresiasi penulis dengan membeli buku asli ya 🀭 selain itu, juga sebagai tanda permintaan maaf karena dulu udah sering baca bajakan ya Kak hahaha.

      Sekarang akses buku digital gratis yang legal udah banyak banget. Semoga banyak teman-teman yang juga bisa merasakan manfaatnya ya~

      Hapus
  28. Tanpa membenarkan perbuatan pembajak, saya cuma ingin bilang bacalah jika memang ada aksesnya. Tapi kalau bisa, mending beli langsung fisiknya. Selain bisa mencium aroma bukunya, ada kedekatan emosional juga.

    Sedari sekolah, kita sudah diajar dan diajak untuk jadi pembajak sebenarnya. Karena keterdesakan, biasanya guru-guru yang kekurangan buku atau cuma punya satu pegangan cuma menyuruh anak muridnya fotocopy. Itu menjadi hal lumrah seiring kita beranjak dewasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat dengan Rahul πŸ‘ŒπŸ» aroma buku fisik memang tidak terkalahkan hahaha.

      Iya, aku mengalami masa-masa itu. Amat disayangkan tapi keadaan memaksa, jadi serba salah. Tapi sekarang karena udah mengerti, berusaha menghindari perbuatan seperti itu ya.

      Hapus
  29. Kalo ngomongin buku bajakan, saya juga pernah beli buku bajakan. Apalagi saat kuliah. Hanya beberapa kali.

    Tapi sekarang saya sadar bahwa tindakan tersebut ilegal. Gimana ngga sadar, bang Tere Liye selalu mengingatkan di fanpage nya.

    Saya pun mulai berhati-hati membeli buku dan memastikan bahwa buku yang saya beli itu asli. Kalo ngga punya uang, tinggal pinjam buku di ipusnas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bang Tere Liye merupakan salah satu penulis yang sangat vokal dalam hal royalti dan pembajakan buku. Beliau memang keren karena berani bersuara πŸ‘ŒπŸ»

      Nah, sekarang banyak akses ebook legal jadi kalau lagi nggak ada dana untuk beli buku, bisa langsung melipir ke app hp 🀭

      Hapus
  30. Mbak Lia, aku setelah membaca ini jadi merasa makin bersalah..
    Apalagi tadi malam aku baru membaca e-book gratisan dari temen, yang jujur aku g tahu sumber aslinya dari mana. Yah aku asumsikan juga ini ilegal.

    I try, I try to purchase an original book that I want to read.
    Yang Mbak Lia sampaikan bener banget, aku pun ada dimasa dilema membeli buku bagus, tapi terkendala biaya, cuman aku pun paham dan menghargai para author yang bisa dibilang ilmunya itu mahal loh..

    Makasih ya Mbak udah nulis ini, aku bakal berusaha lagi biar lebih berhati-hati untuk g teledor dan kehasut buku bajakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehh, fresh from the oven banget kejadian Kak Pipit πŸ˜‚ kalau bukunya genre klasik, ada kemungkinan itu legal. Selain klasik, mungkin ilegal.

      Kalau lagi terkendala biaya, coba cari buku yang kakak mau di iPusnas/iJak/app perpus lainnya yang gratis. Siapa tahu ada, jadi nggak perlu beli lagi hahaha.

      Semangat Kak Pipit! Semoga bisa lebih berhati-hati dan teliti dalam memilih buku ya πŸ˜‰

      Hapus
  31. Dulu pas kuliah, aku seringnya belanjanya di gramed, karena tahunya toko yang bisa sambil baca dan nongkrong ya di sana. Ada juga di toko salemba, itu juga enak. Lalu, ada temen ngebisikan kalau ada toko buku di sekitar terban yang harganya muraaaaaaaaaah banget. Ya ampun aku kaget, buku2 ilmiah tapi harganya belasan ribu, kok bisa? nggak keipikiran bajakan pas itu. Tapi tampilan jelek itu udah bikin bad mood sendiri.

    lalu suatu ketika dosenku nunjukin hasil royaltinya dia bikin buku, ya ampun dari satu pembelian buku itu cuma dapat 3000 rupiah. Oke, fix beli buku asli aja memang terbaik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh, kalau itu bukan buku 2nd, ada kemungkinan kalau itu buku bajakan karena harga jualnya murah sekali 😭
      Buku bajakan memang nggak enak banget dibacanya Kak, nggak nyaman, malah kadang ada yang seperti hasil foto-copyan banget 🀦🏻‍♀️

      Memang sekecil itu Kak Ghina :( jadi sedih kan kalau mengingat banyak penulis yang bukunya kena bajak. Udah dapat royalti cuma sedikit, eh sellingnya juga dikit karena banyak yang beli bajakan :(
      That's why masyarakat harus lebih aware akan hal ini dan semoga banyak yang bisa lebih aware ya, Kak.

      Hapus
  32. pernah dulu beli buku bajakan. hiks.
    nggak lagi deh beli buku bajakan. ampun. karena saya bermimpi ingin menerbitkan buku. nggak mau dong bukunya dibajak.
    kita sama-sama saling intropeksi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak dari kita yang pernah berada di zona itu :(
      Nggak lagi-lagi deh ya πŸ˜‚
      Anyway, semoga mimpi Kak Mirna bisa segera terwujud! Amin.

      Hapus
  33. kayaknya jaman aku kuliah pernah beli buku bajakan, entah itu buku bajakan atau bukan nggak ngeh juga, biasanya beli di toko buku bekas, tapi masih layak baca. kebanyakan waktu itu buku buku kuliah
    kalau sekarang seringnya beli yang ori, menghargai karya asli penulisnya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau buku bekas sulit dideteksi apakah buku tsb ori atau bajakan sih, Kak :(
      Berharap aja itu buku ori tapi bekas ya hahaha.
      Mantap! Terus pertahankan hal baik tsb ya, Kak Ainun ♥️

      Hapus
  34. Terakhir baca buku bajakan itu bukunya Rectoverso, versi ebooknya. Untungnya saya tipe orang yang gak kuat baca ebook, alhasil ebooknya dihapus. Tapi tetap saja merasa bersalah, dan akhirnya beli versi ebook legalnya di play book.
    Saya sudah terlalu berdosa dengan menggunakan hal-hal yang bajakan. Mulai dari aplikasi, game, sampai buku. Jadi capek juga ngumpulin dosa lewat membajak.
    Cuma khusus buat film, saya masih merasa gatel buat gak download. Apalagi film itu box office. Belum punya budget langganan netflix. Tapi download filmnya gak sesering dulu, sih (Ngeles).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Nandar keren! Langsung menebus rasa bersalah dengan membeli yang asli di Playbook ya. Keren πŸ‘ŒπŸ»
      Hahaha memang banyak sekali barang-barang lain yang dibajak selain buku, Kak.
      Semoga ada orang Netflix yang baca tulisan ini sehingga biaya langganan bulanan Netflix bisa turun 🀣

      Hapus
  35. Saya setuju dengan istilah abu-abu. Di ranah pendidikan, harusnya ada subsidi agar penulis tidak dirugikan dan siswa bisa tetap mendapat ilmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju! Kenapa tidak pernah tercetus ide baik seperti ini? Kak Adi nggak berminat jadi menteri supaya bisa bantu atur? πŸ™ˆ

      Hapus
  36. Kalo terlanjur beli buku bajakan apa hukumannya sama kaya si penjual bajakan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hingga saat ini sepertinya belum ada hukuman pidana bagi orang yang mengkonsumsi barang bajakan selain hukuman sosial hehehe

      Hapus