Segel Plastik Buku.

Minggu, 20 September 2020

Photo by cottonbro from Pexels


Man-teman, tahu kan kalau kita membeli sebuah buku baru, biasanya buku itu datang dengan dibungkus oleh segel plastik? 

Lalu, bolehkah kita membuka segel plastik buku tersebut?

Tentu boleh. 
Jika bukunya udah ada di rumah kita dan udah jadi milik kita. Tentu kita boleh membuka segel plastik itu kapanpun kita mau, meskipun biasanya kita terlalu bersemangat sampai sesegera mungkin ingin membuka segel plastik buku tersebut dan melihat isi bukunya 😝.

Tapi, bagaimana jika buku tersebut masih berada di toko? Apakah kita boleh membuka segel plastik buku tersebut? Apakah tindakan membuka segel plastik buku yang belum menjadi milik kita itu diperbolehkan? 

Menurut opiniku, sebaiknya kita tidak membuka segel plastik pada buku yang belum menjadi milik kita. 

Sedari dulu, aku tidak pernah membuka segel plastik pada buku-buku yang ada di toko buku yang belum menjadi milikku. Aku merasa tindakan itu tidak tepat aja untuk dilakukan. 

Jujur, aku memang suka sekilas melihat-lihat isi dari buku-buku yang udah dalam kondisi terbuka. Kadang untuk melihat ukuran font atau isi buku ini bergambar atau tidak. Ini-pun aku lakukan dengan perasaan tidak nyaman. Rasanya melihat-lihat isi buku yang udah terbuka ini juga bukan tindakan yang tepat, apalagi kalau ada karyawan toko yang lewat lalu sambil melihat ke arahku dan mendapati aku yang sedang melihat-lihat isi buku, rasanya seperti ketahuan mencuri padahal kan bukan πŸ˜‚. That's why, aku jadi ngerasa kayaknya hal seperti ini tidak benar untuk dilakukan karena ada perasaan tidak sejahtera itu saat melakukannya.

Btw, selama ini aku berpikir bahwa buku-buku memang sengaja dibuka segel plastiknya oleh karyawan toko supaya kita bisa sedikit mengintip isi buku tersebut (walaupun berpikir seperti ini tapi tetap tidak nyaman untuk mengintip isi buku yang terbuka). Namun, ada kejadian yang membuat aku kaget, saat aku melihat seorang pengunjung yang diam-diam menyobek segel plastik buku dan membacanya seolah-olah itu perilaku yang wajar terjadi. Memangnya hal ini diperbolehkan ya? Atau aku saja yang terlalu norak sampai merasa hal ini tidak benar? πŸ˜‚ Jangan-jangan selama ini, buku-buku yang tak bersegel ternyata bukan sengaja dibuka oleh karyawan toko melainkan oleh pengunjung? 

Menurutku, dengan tidak membuka segel plastik buku sampai buku tersebut menjadi milik kita itu memberikan sensasi yang unik. Jadi, kita akan merasa terkejut saat melihat isi buku itu 🀭. Aku seringkali seperti ini. Memilih buku random berdasarkan cover yang lucu namun tidak melihat isi dan sinopsisnya terlebih dahulu sampai aku membayarnya di kasir. Lalu, selesai membayar, aku segera membuka segel plastik buku tersebut, kemudian nggak jarang, aku mendapati isi buku yang nggak sesuai dengan ekspetasiku karena ternyata itu buku jurnal atau bukan buku quote-quote lucu seperti yang ada di ekspetasiku 🀣. Namun, kejadian-kejadian yang membawa kesan "surprise" ini yang aku suka 🀭 dan sensasi menyobek segel plastik buku yang udah kita miliki itu menyenangkan sekali 😍

Nah, menurut man-teman, bolehkah membuka segel plastik buku yang belum menjadi milik kita?

81 komentar

  1. Biasanya aku minta ijin ke pegawainya, „“boleh nggak dibuka?“ Biasanya dibukain sm orgnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi kak πŸ‘‹πŸ» aku baru tahu jika bisa seperti ini tapi sejujurnya, kalau aku pribadi tetap akan merasa nggak enak untuk minta dibukakan πŸ˜…
      But, thanks anyway untuk opininya :D

      Hapus
  2. Saya pikir, membuka segel buku yang belum kita beli itu adalah tindakan tidak etis. Maka saya pun tidak melakukannya. Kalau pun penasaran, biasanya saya lihat apakah ada yang sudah dibuka. Tapi kalo dipikir2, benar juga sih, jangan2 buku yg sudah terbuka segelnya tersebut dibuka oleh pengunjung lain.

    Sebenarnya ada cara yang lebih baik jika ingin mengetahui sekilas isi bukunya. Tinggal buka google, tentu informasinya tersedia.

    Sebagai pembeli, saya juga ogah beli buku yang sudah terbuka segelnya, kecuali sisa satu san kepengen banget. Dengan kata lain, membuka segel buku menyebabkan buku tersebut nilai jualnya berkurang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi kak Nisa, terima kasih udah mampir ke sini ya. Semoga bisa sering-sering mampir πŸ˜†

      Aku juga sependapat dengan kak Nisa 😁. Kalau sampai penasaran banget dan nggak ada yang udah kondisi terbuka, aku akan cari informasinya di Google 😁
      Kalau dipikir-pikir, benar juga. Aku pribadi juga tidak mau membeli barang yang udah terbuka segelnya kecuali memang udah kepengin banget :(
      Aku jadi sedih membayangkan banyaknya buku-buku hasil display, nggak tahu akan berakhir seperti apa :(

      Hapus
  3. Pemikiran yang menarik nih, Lii. Menurutku sendiri tindakan membuka segel plastik buku sebelum membayar tentu ilegal, harusnya yang cinta buku tau hal ini 🀭

    Tapi seperti yang kamu bilang, zaman sekarang di toko buku banyak tersedia 1-2 buku yang dibuka segelnya supaya calon pembeli bisa melihat-lihat isi dulu. Kalau begini sih menurutku gapapa kita mau baca sekilas, nggak merasa bersalah juga sih, kan bukan kita yang buka 😝 tapi beberapa toko buku tertentu (biasanya yang jual buku import), justru kebanyakan nggak ada contoh buku yang dibuka. Nah kalo kayak gini aku biasanya cek review novel di Goodreads dulu kalau memang ada niatan membeli. Soalnya dulu suka zonk, covernya cakep, isinya nggak huhu

    Jadi sebaiknya tentu kita nggak boleh sembarang membuka segel plastik buku sebelum membeli. Selain menghargai pihak toko buku, secara nggak langsung menghargai penulisnya juga nggak sih? ☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah kenapa aku ngerasa bersalah saat membaca buku yang udah dibuka, merasa dicurigai ci 🀣
      Aku juga pernah kena zonk seperti itu dan karena udah pernah kena zonk maka kalau tidak ada buku yang udah dibuka, aku akan cari reviewnya dulu sama seperti cici 🀭

      Betul sekaliii! Aku setuju! Dan seperti kata kak Nisa di atas, membuka segel dengan kata lain mengurangi harga jual buku tersebut #jlebb

      Btw, thank you for sharing ya ci Jane πŸ€—

      Hapus
  4. Aku tipikal yang kalau baca buku, akan judge the book by its looks dulu Lia. Font-nya, spasinya, tipe kertasnya, dan summary. Kalau summary kan bisa dilihat di belakang ya, sama baca review. Kalau font dkk ini yang susah hahaha.

    Aku biasanya nanya dulu sama petugas toko, apakah ada yang sudah dibuka atau belum. Kalau belum, aku akan nanya boleh dibuka gak. Kalau boleh syukur, kalau gak ya gak papa, paling gak jadi beli hahaha. Soalnya aku ada buku beli di IG, eeh pas dibuka fontnya gede gede dan spasinya lebar lebar, gak nyaman wkwk.

    Ini aku aneh apa gak sih ya hemmm.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha aku akui font tulisan itu mempengaruhi ketertarikan saat membaca sebuah buku 🀭
      Kalau misalnya nggak nemu yang udah dibuka, coba di Googling dulu aja kak foto-fotonya daripada penasaran tapi ujung-ujungnya nggak jadi beli, nanti nggak bisa tidur 🀣

      Hapus
  5. Pernah ada difase "kayaknya ngga masalah membuka segel plastiknya, toh buat sampel baca juga". Tapi saya mulai ngerti bahwa itu bukan tindakan dan perilaku yang baik. Saya mungkin tetap akan membuka segel plastik untuk dua faktor. Yang pertama sudah menjadi milik saya, dan yang kedua atas ijin karyawan toko.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah Rahul udah taubat πŸ™ŒπŸ» aku ikut senang mendengarnya hahaha.
      Kalau tidak diizinkan dan tetap penasaran sama isi bukunya, coba cari di Google atau Goodreads aja untuk reviewnya ya Rahul 😁

      Hapus
  6. Mending kalau penasaran sama isinya minta tolong karyawannya nggak sih untuk buka segelnya? Daripada buka sendiri terus ketauan atau kerekam cctv dan didatengin disuruh bayarπŸ˜‚ kan amsyong. Aku gitu soalnya misal di toko buku pingin tau isinya dan gak ada yang kebuka, aku minta tolong sama pramuniaga tokonya hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dihadapkan dengan pilihan seperti itu, tentu jawabannya adalah minta tolong karyawan daripada buka sendiri sepertinya itu tindakan ilegal πŸ˜‚
      Biasanya dibukain kah sama pegawainya, kak Endah?

      Hapus
    2. Iya dan menurutku kayak nggak sopan gitu lho Li buka-buka sendiri yang belum jadi miliknyaπŸ˜… Sejauh ini aku selalu dibukain segelnya sama pegawainya kalau minta tolong.

      Hapus
  7. Jawabannya NO...

    Baik saya dan si Kribs tidak akan membuka segel barang yang belum dibeli. Kami berusaha menghargai diri sendiri sekaligus menghargai orang lain.

    Saya merusak kesempatan orang untuk mendapatkan keuntungan kalau saya membuka segel dan kemudian tidak menjadi beli. Tidak bedanya dengan "mencuri" hak orang lain.

    Jadi, saya paling anti membuka segel buku sebelum transaksi selesai.

    Setahu saya yang sering membuka segel bukan karyawan tetapi pengunjung Lia..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jlebb. Benar banget kak :(
      Secara nggak langsung, kita menutup pintu rejeki orang lain ya jika berbuat seperti itu :(
      Aku jadi sedih kalau mengingat begitu banyak buku yang tak bersegel yang nggak tahu gimana nasibnya kelak.

      Hapus
  8. Dari kecil pun aku takut banget ngelakuin hal begini Lia wkwk terus pernah pas SMP/SMA lagi liat-liat buku terus orang di sebelahku tanpa dosa buka segel plastik buku, di situ aku yang deg-degan takut dia ketauan pegawai terus dimarahin atau gimana πŸ˜…

    Kalo sekedar liat-liat buku yang udah dibuka pernah sih dan kurasa itu oke-oke aja karena seperti yang Lia bilang, mungkin memang ada 1-2 buku yang sengaja udah dibuka sama pegawainya. Dan baca komentar temen-temen ternyata memang ada yaa pegawai toko buku yang mau bukain ahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kak Eya! Rasanya kok ini tindakan kriminal ya πŸ˜‚. Kalau aku ada di posisi kak Eya sih aku juga akan deg-degan padahal bukan kita yang ngelakuin ya 🀣

      Nah, kalau intip-intip gitu, sejujurnya aku masih merasa nggak enak tapi masih suka dilakuin untuk lihat sekilas πŸ˜‚
      Iya, katanya sih bisa minta dibukain walaupun aku juga nggak tahu apa tindakan seperti ini memang boleh dilakukan atau si pegawai nggak enak hati mau menolak πŸ˜‚ #nahloh

      Hapus
  9. Hi Liaa, akhirnya update yaaa *nungguin ceritanya 😁😁

    Personally, aku nggak pernah buka segel buku yang plastikin Li, dan jika adapun buku yang nggak diplastikin aku nggak pernah berani buat baca dalamnya, aku selalu baca sipnosis di belakanngnya, dunno why, aku ngerasa itu bukan hak ku aja, dari pada aku merasa bersalah mending nggak sama sekali, setiap orang beda-beda mungkin, tapi ini yang aku lakuin kalau pergi ke toko buku.

    Lagian aku jarang beli buku random Lii, kalau pengen beli buku aku harus tahu dulu mau beli buku apa, soalnya kalau udah disana baru beli, biasanya jadi dilemma yang besar, karena seketika buku-buku disana minta di bawa pulang semua hahahah.

    Gara-gara ini aku pernah mikir jorok, bagaimana cara menakhlukan hati anaknya yang punya Gramedia hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kangen yah sama aku πŸ€ͺ

      Kak Sovia anaknya baik bangettt 😍 aku sendiri aja masih suka intip-intip walaupun takut #plakk. Tingkat penasaranku terlalu tinggi ya πŸ˜‚

      Nyiahahah memang sih kak, kalau beli buku random tuh godaannya lebih besar deh. Rasanya ingin bawa pulang semua, syukurnya ketolong sama kantong karena duitnya nggak ada buat borong semua 🀣

      HAHAHA astaga, aku ngakak. Aku kira berpikir jorok apaan 🀣
      Kalau anaknya yang punya Gramedia udah tua, apa kak Sovia tetap mau menakhlukan hatinya? πŸ€ͺ

      Hapus
    2. Hahaha kalau anaknya udah tua, cucunya aja Lii, hahahah. Apaan sih ini random banget πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    3. #teteup ya, Kak. Yang penting ada garis keturunan sama yang punya Gramedia huahaha

      Hapus
  10. Menurut aku No.

    Ketika buka plastik dari buku itu, tentu buku itu bukan orisinil baru. Maksudnya pasti akan ada banyak orang yang pegang dan buka-buka. Alhasil bisa lecek bahkan tampilannya jadi tidak seperti buku baru. Walaupun benar, adanya buku yang terbuka bisa membuat kita mengetahui contoh isi di dalamnya seperti apa.

    Kadang aku juga suka menemukan buku yang sudah terbuka. Jika demikian, biasanya aku buka sekilas untuk sekedar tahu isinya bagaimana. Namun, aku pun tidak berani dan tidak pernah punya niat untuk buka plastik buku. Meskipun aku penasaran sama isinya seperti apa.

    Aku mikirnya kalau buku yang sudah terbuka, apa masih ada yang mau ambil dan beli? Kalau tidak ada, lantas buku-buku yang terbuka itu akan dikemanain ya? Apa diambil oleh karyawan toko buku, tapi kan tetap harus di bayar. Atau jadi barang reject. Kadang aku kepikirannya ada rasa sedih kepada penulisnya. Berharap bukunya laku sesuai jumlah yang diterbitin, tapi bisa berkurang karena ada buku yang terbuka dan kondisinya sudah tidak oke. Jadi tidak ada yang mau beli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Ci Devina, thank you for sharing :D
      Aku juga setuju dengan cici. Suka berpikir kalau buku yang jadi barang display, nantinya akan dikemanakan ya >.<
      Apalagi terkadang, buku yang terbuka itu nggak cuma 1 perjudul. Entah kenapa bisa terjadi seperti itu :(
      Tapi, semoga biarpun banyak kejadian seperti ini, tidak menurunkan minat para penulis untuk menerbitkan buku ya >.<

      Hapus
  11. Setuju sih, membuka bungkus plastik buku sebetulnya tidak etis. Krn seperti kata mbaknya tadi, itu bukan menjadi milik kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini sini toss dulu kita, Kak Dodo! Hahaha

      Hapus
    2. Setelah baca tulisan ink aku jadi kepikiran. Kok
      ada yaa orang yang santai aja membuka plastik buku. Kek rasa ga ada dosa gitu wkwkk

      Hapus
    3. Aku juga bingung, kok bisa ya mereka membuka sesantai itu terus aku yang lihat malah yang deg-deg-an πŸ˜‚

      Hapus
  12. Kalau buka sendiri segel plastik di toko buku sih belum pernah. Tapi kalau yang udah kebuka biasanya saya tipe yang baca-baca aja. πŸ˜…

    Siapa tau yang awalnya ga tertarik, begitu baca dalamnya malah jadi pengen beli, kan... meskipun seringnya sih malah kebalikannya... πŸ˜…πŸ™ˆ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha ternyata kita sama ya kak :D
      Kalau gitu, buku yang kak Hicha beli, kebanyakan yang belum dibuka segel dan belum lihat isinya dong?

      Hapus
  13. Cencuuuu tyduck. 😁. Itu ga sopan. Kalo msh di toko buku, aku ga akan buka plastik segelnya.

    Sesekali aku prnh Nemu ada buku yg memang udh kebuka, walopun aku ga tau itu dibuka oleh karyawan toko supaya pembeli bisa liat2 dulu, ato ada pembeli nakal yg buka. Toh sbnrnya kalo mau baca sinobsis kan ada di belakangnya.

    Aku ga memang ga keberatan utk beli buku yg tanpa plastik, Krn buatku yg terpenting isi. Tp kalo ada pilihan buku yg msh bersegel, ya pasti aku ambil yg bersegel dulu.

    Tapi kalo buku bekas, ga peduli lah, selagi halaman msh lengkap :p. Sering tuh langganan tempat aku beli buku bekas slalu nanya, "mba, buku yg itu udh banyak bgt coretan, tapi halaman lengkap. Mba msh mau?"

    Aku slalu jawab, yg ptg halaman ga kurang samasekali mbaaa :p.

    Mau ada coretan ato ga, ga mempengaruhi keasikan baca :D. Tapi biasanya si mba penjual lgs ksh diskon kalo coretannya banyak :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga tidak tahu apakah buku yang terbuka itu sengaja dibuka oleh karyawan atau bukan >.<
      Sama dong, Kak! Aku juga nggak masalah sih jika memang harus membeli buku yang tidak bersegel tapi tentu akan memilih yang bersegel duluan kalau ada hahaha. Dan, aku juga nggak rewel sih kalau soal buku bekas. Sama seperti kak Fanny, yang penting halamannya lengkap dan bukan buku bajakan ya :D

      Toss dulu dong, Kak! Hahahaha

      Hapus
    2. Iyaaaaaaak, pokoknya kalo bajakan a big NO bangetttt. Aku pernah ke rumah temen,liat2 buku dia, trs tertarik Ama novel ttg sepatu pak Dahlan Iskan tuh.

      Tapi pas liat kertasnya, duuuh udh kliatan bajakan -_-. Itu ngurangin mood baca bgt sih. Mana banyak typo, cetakannya kacau, akhirnya aku males baca.

      Hapus
  14. Kalau barang masih disegel nggak etis untuk dibuka. Baik buku atau barang apapun karena itu akan membuat barang tersebut jadi barang seken statusnya. However kalau plastiknya memang sudah dibuka dari sananya nggak apa-apa dibaca, hehehehe.

    Setau kakak di Gramedia itu memang dikasih sample perjudul buku ada satu yang dibuka plastiknya oleh karyawannya. Semua judul pasti ada yang sudah kebuka, tinggal jeli carinya di mana. Ada di rak bukunya atau ada di tangan orang lain yang sedang baca sambil berdiri di pojokan πŸ˜‚

    Mungkin yang sudah dibuka plastiknya mirip macam hape display yang memang diperuntukkan untuk dilihat calon pembeli isinya. Dan yang dibuka biasanya dipilih yang cacat meski banyak yang mulus juga. Ini kata kenalan adiknya kenalan kakak yang kerja di toko buku besar. So Lia kalau mau baca yang sudah terbuka nggak apa-apa. Jangan merasa bersalah. Selama memang bukan Lia yang membuka segelnya, it's okay untuk cek isi bukunya πŸ’•

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaaa kak Eno, terima kasih atas insightnya! Ternyata memang udah disediakan dari sananya perihal buku display ya. Fiuh~ Sekarang aku bisa intip-intip dengan lega deh >.<

      Dan, memang kadang buku display itu suka tersembunyi di bagian belakang-belakang, tinggal dicari aja dengan agak jeli kalau memang mau >.<

      Hapus
  15. Menurutku tidak boleh sih membuka segel plastik buku kecuali pegawai nya yang membukanya, soalnya kalo masih segel itu berarti masih baru.

    Tapi memang ada sih toko buku yang memperbolehkan kita membuka segelnya tapi sangat jarang, dulu aku pernah mau beli komik lalu segelnya dibuka oleh orangnya.��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul sekali, Kak Agus. 100 deh buat kakak! Hahaha.

      Kalau komik boleh dibukain juga ya sama karyawannya? Aku baru tahu lho, Kak. Soalnya selama ini jarang sekali aku temukan komik yang terbuka segelnya karena menurutku komik itu tipis, nanti kalau segelnya terbuka, jadi bisa baca di tempat dan nggak jadi beli wkwk

      Hapus
    2. Mungkin karena aku biasa beli jadi orangnya berani buka segel karena tahu aku pasti beli. Tapi itu dulu sih, sekarang sudah tutup tokonya, ngga tahu pemiliknya ganti usaha apa.πŸ˜„

      Hapus
  16. aku termasuk orang yang tidak pernah membuka segel buku sebelum aku beli. Kalaupun baca isi bukunya, ya paling karena ulah orang lain yang sudah membuka buku tersebut. Kalau untuk membukanya, aku tidak berani dan tidak etis.

    Pernah kepikiran kalau ada buku yang terbuka itu karena dibuka oleh pegawainya untuk sampel. Eh ternyata tidak begitu, karena aku pernah melihat orang dengan santainya buka segel plastik sebuah buku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good job, Kak Rivai! Terus pertahankan ya. Menurutku juga sama, kurang berkenan jika membuka segel buku yang belum kita miliki >.<

      Nah, iya, aku juga shock pas lihat! Hahaha. Padahal orang lain yang berbuat tapi aku yang deg-degan >.<
      Intinya sih jika tidak menemukan buku display, jangan berani-berani untuk membuka segel buku ya. Kasihan juga pihak toko buku dan orang-orang dibaliknya >.<

      Hapus
  17. Hai, Mba Lia.

    Sebelumnya salam kenal dulu ya, ini kali pertama saya komen di sini.

    Sependapat dengan apa yang dituliskan Mba Lia. Membuka segel buku sebelum membelinya adalah salah satu tindakan yang tidak bisa dibenarkan.

    Padahal betul kata Mba Lia, membeli buku tanpa mengintip isinya itu memberikan sensasi tersendiri. Kadang-kadang membuat penasaran isinya setelah membaca sinopsisnya. Memang sih, bisa jadi tidak sesuai ekspektasi, tapi itulah tujuan membeli buku, mencari bacaan, syukur-syukur menambah wawasan, walaupun terkadang tidak seperti keinginan.

    Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Kak Ardhitya. Terima kasih udah mampir ke sini dan meninggalkan komentar ya :D

      Betul sekali! Duh, kata-kata Kak Ardhit bijak sekali. Langsung kena ke hatiku lho hahaha.

      Hapus
  18. Baca ini langsung diam-diam melipir ke pojokan.
    Malu hahahaha.

    Astagaaaahh, saya pernah dengan teman saya membuka segel 1 buku saking kami kepo berat, meskipun akhirnya buku itu kami beli, tapi saya ambilnya yang masih segelan, hiks.
    Maapkeun dakuh Gramediaaaa hahaha.

    Tapi memang, buku-buku sebagian yang udah kebuka segelnya itu, kayak godaan buat pengunjung buat membuka segel buku lainnya.

    Memang sebijaknya, toko buku besar mengorbankan 1 buah buku yang kudu dibuka segelnya, jadi pengunjung bisa intip dulu isi bukunya jadi yang udah dilepas segelnya gitu, dan nggak bikin buku lainnya dibuka juga segelnya :D

    Meskipun sebenarnya nggak ada aturan tertulis seperti itu, tapi setidaknya bisa jadi melindungi buku-buku lainnya dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab.
    Kayak kamu, Rey, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa mbak Rey ketahuan ya ternyata pernah nakal hahahhaha

      Hapus
    2. Hahahahahaha dimaafkan kok, Kak! Tapi jangan diulangi lagi ya *siapin pentungan untuk Kak Rey :p*

      Iya, memang lebih baik untuk menyediakan sebuah buku display untuk setiap judul buku ya jadi para pembeli bisa tahu isi bukunya seperti apa sebelum memutuskan untuk membeli. Btw, memang membuka segel buku itu mengasyikan sih kak hahaha tapi lebih asyik kalau bukunya udah jadi hak milik soalnya kalau belum jadi hak milik, tidak akan tenang saat membuka segel wkwkw.

      Hapus
    3. wkwkwkwkww, nackaaalll wakakakakaka.
      Bukanya deg-degan ih waktu itu, takut ketauan, dan malu kalau ditegur wakakakakak *plak

      Hapus
  19. membuka segel plastik di toko memang dilarang mbak
    aku juga pantang melakukannya
    tapi, kalau ada buku yang sudah kebuka ya apa boleh buat hehe
    namanya juga berkah

    makanya aku lama ke toko buku buat cari buku yang udah kebuka
    mayan juga kalau engga beli bisa baca dikit-dikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha betul kak.
      Intip-intip dikit nggak apa lha ya walaupun sebelumnya aku juga takut-takut untuk intip buku yang udah dibuka >.<

      Hapus
  20. Jawabanku adalah Yes.
    Tapiii ..., asalkan ada satu sampel buku atau majalah yang dijual yang bisa buat lihat-lihat dulu sebelum beli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha yes kalau udah jadi hak milik yaaa kak :D

      Hapus
  21. Huhuhuuu, kita merasakan hal yang sama, Kak Li! Aku juga merasa nggak enak baca buku di toko kalau segelnya nggak dibuka dulu sama karyawannya. Udah jadi prinsip, pokoknya. Wkwkwk. Takuuut. Mendingan cari yang memang sudah dibuka dulu :'))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahaha iya, nggak berani sih aku kalau disuruh buka segel plastiknya sendiri πŸ˜‚
      Mending cari yang udah terbuka atau kalau nggak ada dan tetap pengin bawa pulang bukunya, dibeli aja sambil ngarep isinya sesuai ekspetasi πŸ˜‚

      Hapus
  22. Kalau aku pribadi ga etis ya buka2 segel, apapun itu, bukan cuma buku tp segala macam segel. Kalau buku kadang ada kok yg ga disegel, itu sengaja disediakan toko biar calon pembeli bisa baca2 sekilas.

    Eh tapi kayaknya aku pernah deh, di book fair gitu, beli buku promo yg di keranjang gitu, aku penasaran bgt sm isinya, trs aku tanya sama penjualnya boleh dibuka ga plastikya, penjualnya ngijinin hahaha.

    Aku jarang banget beli buku, tapi kalau lg butuh, ga perlu baca2 isinya, cukup baca sinopsis di bagian blkg aja langsung aku beli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sebaiknya nggak buka segel buku sendiri ya, Kak. Apa yang Kak Ursula lakukan di Book Fair udah tepat :D

      Aku juga sama, Kak! Suka lihat sinopsisnya untuk menentukan apakah beli atau tidak hahaha.

      Hapus
  23. Setuju banget nih sama Lia, kalau buku yang masih disegel plastik di toko buku itu engga boleh dibuka oleh pengunjung. Kecuali memang dibuka oleh karyawan toko itu karena aku beberapa kali lihat memang ada yang disediakan sebagai sample.

    Aku sedih sih kalo liat orang yang buka segel plastik dan baca habis bukunya di tempat tanpa dibeli. Aku merasa toko buku itu beda sama perpustakaan apalagi yang paling sering itu komik sih yang sekali langsung habis.

    Aku juga suka baca buku-buku yang udah terbuka untuk liat kondisi tulisannya terlalu kecil atau terlalu tebal tidak bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak, aku juga sedih kalau lihat ada orang yang dengan sengaja membuka segel dan langsung membaca habis di tempat tanpa membeli :'(
      Makanya kalau komik jarang disediakan sample ya, tapi itu juga masih banyak yang nakal dengan membuka sendiri.

      Kak, toss dulu dong! Samaan ih sama aku 🀭

      Semoga orang-orang lebih banyak yang aware perihal segel plastik ini ya, Kak πŸ˜–

      Hapus
  24. Wah, kalau segel dibuka sebelum dibeli, itu namanya perusakan milik orang lain dan sangat merugikan. Kalau mau baca buku gratisan, seharusnya di perpustakaan, itu pun mungkin membayar sejumlah uang untuk iuran. Bukan di toko buku.

    Kalau mau tahu isi buku yang dipajang di toko buku, bisa dilihat di cover belakang yang biasanya terdapat rangkuman isi bukunya.

    Saya sepakat mbak, segel buku atau barang apapun baru boleh dibuka kalau kita sudah membelinya. Tapi di gramedia sepertinya memang disediakan oleh tokonya, satu buku yang sudah dibuka segelnya untuk dilihat-lihat (bukan dibaca semuanya sampai nongkrong di antara rak-rak buku) supaya calon pembeli lebih yakin dengan pilihannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku suka gaya Kak Agung~ hahaha. Aku setuju, tapi di satu sisi aku menyayangkan karena fasilitas seperti perpustakan itu kurang memadai dari segi kuantitas dan kualitas. Seandainya lebih banyak perpustakaan yang berdiri, aku rasa hal seperti numpang baca buku gratis di toko buku bisa diminimalisir :D

      Hapus
  25. kalau aku sih gak pernah ya nyobek2in plastik buku di toko buku,, tapi sering menjumpai buku itu udah tanpa plastik, mikirnya yaa itu emang sengaja dibuka sama petugasnya, jadi kadang santai aja baca buku di dekat rak jualannya :D,, tapi ngga sampai habis juga kok bacanya wkwk, palingan hanya beberapa halaman aja.. Kalau tertarik beli, kalau kurang yaa ,, yaudah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan pernah nyobekin plastik segel buku ya kak, apalagi nyobek hati orang, bahaya 😝
      Wkwk bagus kak! Kalau baca sampai habis itu harusnya bayar uang sewa ya 🀣

      Hapus
  26. Dulu aku sering ada keinginan buat buka plastiknya πŸ˜† tapi ya karena menurutku itu gak pantes ya gak aku buka. Biasanya kalau mau beli buku aku selalu baca sinopsisnya aja sih dan itu aku baca berkali-kali sampe yakin mau beli buku nya apa enggak. Aku sempet mikir kayak Lia juga, jangan2 yg selama ini buka segelnya adalah pengunjung toko πŸ€”.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saking penasarannya sampai ingin buka segelnya ya, Kak πŸ˜‚
      Nah, iya tuh, baca sinopsis udah paling benar deh atau kalau masih ragu, cari reviewnya di Goodreads ya.
      Hahaha aku pernah lihat sendiri, ada pengunjung yang buka sendiri πŸ˜‚ jadi aku pikir semua buku display jangan-jangan hasil dibuka oleh pengunjung πŸ˜‚

      Hapus
  27. Setahu saya ya kalau di TB besar macam Gramedia memang ada buku yang dibuka plastiknya sebagai contoh. Dan kalau kita minta ijin apakah bisa buka plastiknya diijinkan oleh pegawainya. Saya biasa gitu. Keuntungannya ada contoh buku, pembeli bisa tertarik walaupun ada juga yg numpang baca XD

    Beda kalau di TB kecil, kalau mau buka plastik musti beli setelahnya. Karena mereka modalnya kecil dan buku yang udah dibuka nggak bisa diretur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa ya minta dibukain πŸ™ˆ aku baru tahu mengenai hal ini, Kak! Teman-teman di atas juga banyak yang bilang demikian sih, tapi selama ini aku nggak pernah kepikiran untuk minta bukain πŸ˜‚

      Betul, yang numpang baca sih banyak banget apalagi bagian komik πŸ˜‚
      Ah iyaaa! Betul, betul. Terima kasih atas insightnya ya, Kak Phebie 😍

      Hapus
  28. Loh, saya kira juga buku yang plastiknya udah dibuka itu yang buka emang toko bukunya, ternyata bisa jadi para pelanggan yang nakal ya. Saya jarang ke toko buku mbk. Mungkin 3/4 kali ke gramedia dan biasanya juga cuma baca sinopsis di belakang bukunya. Kalau sampai nyobek bungkusnya, itu nggak sopan banget sih. Ibarat mau beli wafer, dibuka dulu plastiknya, mana boleh....

    Karena saya kira itu sengaja di buka sama pihak toko jadi saya dengan santi buka-buka bukunya deh, jadi malu kalau tahu begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak Tria, ternyata ada sebagian hasil dari pelanggan yang nakal huhuhu. Kaget juga pas tahu πŸ˜“
      Apakah dari rumah kakak ke Gramedia cukup jauh jaraknya?
      Nyiahahah betul sekali. Ngomongin wafer, aku jadi lapar 🀀

      Perihal membaca buku yang udah terbuka, kata teman-teman tidak masalah asal tidak dibaca sampai habis hahaha. So, kita nggak perlu malu lagi deh kak πŸ™ˆ

      Hapus
  29. Kalau belum beli ya gak berani buka sih. Tapi kalau sudah terbuka, wah jadi kesempatan nih bisa diintip dl dalamnya hahaha dasar aku gak mau rugi πŸ˜‚

    Tapi aku pro sama buku yang dibuka sih, Lia. Karena menurut aku itu salah satu bentuk promosi juga lho. Buat yg pemilih banget seperti aku, ini bisa menjadi faktor x dalam pemilihan buku. Sering banget kejadian setelah mengintip isinya, malah jadi pengen beli, padahal tadinya gak niat beli buku itu hihihi

    Ah, jadi kangen kan plesiran ke toko buku, keliling dari rak ke rak, bacain satu2 review di back cover, memilih yg menarik, sampai akhirnya bingung beli yang mana sesuai budget wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha rasanya semua orang juga seperti Kak Tika~ aku juga kalau ada kesempatan untuk intip, tetap aja bawaannya ingin intip πŸ˜‚

      Iya ya, aku sebenarnya juga pro asal buku tersebut memang dibuka dari sananya alias memang diperuntukan untuk display, bukan dibuka oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab soalnya kasihan sama toko bukunya 😭

      Huaaa~ sama dong! Aku juga rindu! Plesiran ke toko buku aja, rasanya asik banget ya, Kak! Hahaha. Semoga keadaan bisa segera membaik jadi kita bisa segera plesiran lagi ke toko buku πŸ₯ΊπŸ™πŸ»

      Hapus
  30. menurutku sih ini gak boleh, kak. Karena memang buku tersebut belum sah menjadi milik kita sendiri. Sebelum membeli buku, aku biasanya membaca sinopsis terlebih dahulu. Faktor yang biasanya membuatku ingin membeli sebuah buku adalah yang utama terdapat di desain cover buku dan juga menarik atau enggaknya sinopsisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, Kak~
      Lebih baik untuk minta tolong sama pegawai ya kalau ingin lihat isi bukunya, barangkali udah ada yang terbuka hanya saja kita kurang jeli lihatnya hahaha.
      Nah, aku juga sama! Cover buku yang menarik itu menjadi faktor utama aku saat membeli buku 🀣 jadi istilah don't judge a book by the cover itu sulit sekali aku patahkan πŸ˜‚

      Hapus
  31. sama mbak, aku juga nggak pernah buka2 plastik segel buku di toko buku, rasanya gimana gitu. mending googling review buku tersebut deh kl tertarik dengan bukunya. kl yakin beli, kl nggak yakin skip. xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak nyaman banget rasanya kan, Kak Ella πŸ˜‚
      Iya, lebih baik googling atau kalau nggak nemu reviewnya, tinggal pilih, mau tetap beli dan bersiap apabila zonk atau belinya nanti lagi 🀭

      Hapus
  32. Kalau menurutku sih gak boleh, Li. Merusak segel barang yang bukan punya sendiri itu sungguh perilaku yang tidak terpuji.😱😱😱😱

    Ngomong-ngomong baru dari post ini lho, Li, aku tau kalau ada pengunjung yang sobek segel buku. Aku kira buku yang gak ada segelnya gara-gara emang sengaja dibikin begitu sama tokonya supaya kita-kita bisa ngintip. Ternyata bisa jadi pengunjung juga yang buka.😱

    Kalau aku sendiri beli buku harus baca sinopsisnya dulu, Li. Soalnya dulu aku pernah asal comot aja, ternyata isi bukunya aku gak suka.🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju dengan Kak Roem! Memang perbuatan seperti itu sangat sangat nggak terpuji 😭

      Iya, Kak Roem! Ternyata bisa jadi tangan-tangan nakal yang membuka 😭
      Kalau kita nggak lihat sendiri sih pasti nggak tahu dan nggak bisa bedakan mana yang memang dibuka oleh pegawai atau dibuka oleh tangan nakal.

      Hiahaha sama! Aku juga pernah kena zonk karena buku itu nggak ada sinopsisnya malah πŸ˜‚

      Hapus
  33. pemikiran Lia sama kayak aku, awalnya aku mengira kalau buku di toko buku yang udah terbuka adalah dibuka oleh pihak si toko buku, dengan maksud supaya pengunjung tau isi bukunya
    kalau aku kadang suka kepo, kualitas kertasnya gimana, apakah untuk buku tertentu ada ilustrasi di dalamnya yang bisa bikin mata seger.
    tapi kalau aku baca buku yang udah posisi segel dibuka, ga bakalan lama lama, ntar dikira nyari gratisan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi ternyata nggak 100% buku yang terbuka, sengaja dibuka oleh pihak toko buku, Kak 😭
      Huaaa sama! Faktor-faktor yang Kak Ainun sebutkan juga menjadi faktor yang aku lihat saat ingin membeli sebuah buku hahaha. Kalau ada ilustrasinya, pasti perasaan ingin membawa pulang jadi bertambah 🀭

      Hapus
    2. hahaha tuh kan, kadang ya ilustrasi itu suka menggoda duluan, perkara cerita nya urusan belakang :D

      Hapus
  34. di Berlin, di salah satu toko buku besar, buku-buku yang dijual tidak diberi sampul. pengunjung bahkan diperbolehkan membuka dan membaca isinya. bahkan disediakan tempat untuk duduk-duduk dan nyaman untuk membaca. beberapa orang kulihat malah semacam mencatat apa yang ada di salah satu halaman buku tersebut. aku sampai heran, ini toko buku atau memang perpustakaan? orang Jerman mungkin berpikir, akses ke pengetahuan memang sebaiknya dipermudah. bahkan buku pun pajaknya rendah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya iri itu dosa, tapi aku iri banget sama kondisi di Berlin yang Kak Zam ceritakan 😭
      Asik banget kalau bisa seperti itu. Memang benarnya, akses ke pengetahuan itu harusnya dipermudah dan diperbanyak ya, Kak. Toh untuk kepentingan masyarakat luas, biar negaranya juga bisa lebih maju, kan.
      Ahh, semoga di sini bisa seperti itu πŸ™πŸ»

      Hapus
  35. Aku juga tipe yang merasa bersalah kalau buka segel plastik di toko buku!!! Tapi aku pernah beberapa kali liat pengunjung yang buka segel plastiknya tanpa berdosa trus duduk ngemper di toko buku sambil baca bukunya yang baru dibuka ituuu...

    Aku sendiri ngerasa hal yang sama kaya Lia. Berasa kaya mencuri gituuu kalo buka segel buku yang belom dibeli. Untuk baca buku yang sudah terbuka segelnya saja pun aku merasa ga nyaman. Takut disangka aku yang buka segelnya gitu loooh. Padahal memang sudah dibuka dari awal. Eh tapi pas dulu pacaran, aku suka nongkrong di Gramedia dan baca komik yang uda dibuka segelnya sih. Sekilas-kilas doang buat cek ceritanya. Terus beli kalau bagus. #plak

    Tapi kata suamiku, pendiri Gramedia itu melarang karyawan Gramedia untuk negur pengunjung yang lagi asik baca buku di sana. Katanya seperti menghilangkan minat bacanya gitu. Karena si bapak pendiri, ingin agar orang-orang itu punya minat baca yang tinggi. Baik bener yaa?? Padahal kan rugi buat mreka ya karena si pengunjung numpang baca buku gratis. Beli mah engga huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa aku juga pernah lihat dan cuma bisa bengong sambil tengok kiri-kanan takut mereka ditegor padahal bukan temanku >.<

      Iya kan ciiii!! Itu yang aku rasain saat membaca buku yang udah terbuka lho. Takutnya aku yang disangka membuka segelnya jadi intipnya buru-buru aja, asal lihat biar nggak dicurigai 🀣. Bagian komik emang paling banyak buku yang terbuka deh ci 🀣 Tapi seru juga bookdate gitu! u.u Apakah pacar yang diajak bookdate itu adalah suami cici sekarang? Hihihi.

      Oh yaaa? Serius? Baik hati sekali :( Padahal kalau gitu kan dia bisa rugi :( Wah, aku baru tahu soal ini sih. Terima kasih Ci Frisca atas informasinya :D semoga lewat sikapnya pendiri Gramedia, banyak toko buku lain yang bisa tiru dan minat baca masyarakat juga bisa meningkat ya, Ci :D

      Hapus
    2. Iyyaaa. Aku takutnya karyawan situ negor aku yang lagi liat-liat buku yang terbuka. Padahal bukan aku yang buka huhuhu

      Iya Lia! Seru tau bookdate gituu HAHAHA. Iya pacarku saat itu yang jadi suamiku sekarang. Soalnya dia itu tiap bulan bisa blanja puluhan komik. Makanya kami suka pergi ke Gramed buat hunting komik. Tapi sekarang dia uda ga beli komik lagi karena harganya sudah semakin mahal hahaha
      Malah aku yang masih beli...Tapi tentunnya ga banyak kaya dia

      Iyaa katanya gituu. Sungguh mulia biar banyak yang suka baca huhu. Iya amin. Semoga generasi selanjutnya makin banyak ya yang suka baca.

      Hapus