Di Tanah Lada.

Minggu, 11 Oktober 2020



Di Tanah Lada adalah sebuah buku yang ditulis oleh Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie. Udah pusing belum baca nama pengarangnya? 🀣. Aku butuh baca berkali-kali sampai bisa melafalkan nama lengkap Ziggy dengan benar 🀣.

Awalnya, aku mengira bahwa Ziggy adalah pengarang dari luar negeri tapi ternyata, perkiraanku salah. Ziggy adalah seorang penulis asal Indonesia dan buku Di Tanah Lada ini adalah karya Ziggy yang menjadi pemenang II sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014. Bagaimana tidak menang kalau isi bukunya sebagus ini? 😭. 

Tanah Lada artinya tempat kebahagiaan berada. Namun, isi bukunya sama sekali nggak membuat bahagia, apalagi di bagian akhir dari buku ini. Yang ada, malah membuat hati teriris-iris dan mata pedih ingin menangis pas membacanya 😒 *who cuts the onion here!!*. Beneran semiris itu, menurutku.

Di Tanah Lada menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Salva (6) dan anak laki-laki bernama P (10), mereka tidak sengaja bertemu di rumah makan dekat rusun yang mereka tinggali. Saat itu, Ava, nama panggilan Salva, baru pindah ke rusun tersebut sehingga belum mempunyai teman dan P adalah teman pertama serta satu-satunya teman yang dimiliki. 

Ava seorang anak perempuan yang pintar, kemana-mana selalu membawa kamus Bahasa Indonesia pemberian kakeknya dan tiapkali ada kosakata yang ia tidak ketahui, dia akan cari maknanya di kamus tersebut, walaupun seringkali juga dia tidak mengerti apa maksudnya 🀣. Sepertinya juga, kosakata yang Salva ketahui lebih banyak dari aku 🀣.

Sedangkan P sendiri, selalu membawa gitar kemana-mana dan selalu menyanyikan lagu yang sama tiapkali ia bermain gitar kecilnya. Lagu yang dimainkannya adalah sajak yang berjudul "Aku" dari Chairil Anwar (yang dibaca oleh Rangga di AADC itu lho πŸ€ͺ) yang dijadikannya sebagai lagu. Karena P sering membawa gitar tiapkali berpergian, Ava berpikir bahwa P adalah anak pengamen πŸ˜‚. Nyatanya sih bukan. Sungguh Ava itu penggambaran nyata akan manusia yang suka menggeneralisir sesuatu πŸ˜‚.

Ava dan P mempunyai kisah hidup yang mirip-mirip yaitu keduanya mempunyai papa yang seringkali kasar terhadap mereka. Ava sendiri awalnya ingin diberi nama "Saliva" oleh papanya, sebab menurut papanya anak tersebut seperti ludah. Ya ampun, baru aja lahir, udah tidak dianggap manusia 😭. Akhirnya, mama Ava menamakan Ava dengan Salva yang artinya Penyelamat. Oiya, papa Ava selalu menyebutkan bahwa Ava ini anak haram, tetapi sampai akhir cerita, nggak diketahui kebenarannya sih or I missed the part about this.

Demikian juga P, yang begitu menanyakan nama lengkapnya kepada sang papa, sang papa hanya menjawab "nggak ada, kamu nggak punya nama. Nama itu untuk orang dan kamu bukan orang". Asli, jleb banget nggak sih bacanya 😭. Mereka masih kecil om, tega bangettt 😭.

Udah gitu, penyiksaan-penyiksaan lainnya juga selalu datang kepada Ava dan P. Contohnya, saat keluarga Ava baru pindah ke rusun, di ruangan yang mereka tempati, hanya ada 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi dan Ava tidak diperbolehkan tidur di kamar tidur, sebab itu kamar papanya, papanya tidak mau tidur bareng Ava dan karena itu, Ava tidur di kamar mandi. Anak 6 tahun, tidur di kamar mandi?! Geram nggak tuh 😀. Terus mamanya Ava kemana? Mamanya ada, hanya saja nggak bisa berbuat banyak, sebab papanya Ava galak dan suka memukul mamanya jika tidak menuruti perintah papanya. Alhasil, mamanya hanya bisa nangis, diam dan merawat Ava jika papanya sedang tidak ada di rumah 😒.

Kejadian terakhir yang membuat emosi terpelatuk adalah Ava yang sedang tidur di koper yang penuh dengan baju, sebab direkomendasikan oleh P yang kasihan mendengar Ava tidur di kamar mandi—P pikir bahwa tidur di koper berisi baju setidaknya lebih nyaman dibanding di kamar mandi—saat itu papanya Ava lihat dan malah ingin mengunci kopernya sedangkan Ava di dalam. Tindakan pembunuhan? Bisa dibilang demikian 😀 mamanya yang lihat, lalu teriak-teriak dan tetangga yang mendengar, langsung membantu. Well, you know, papanya Ava marah-marah dan menganggap orang lain pada ikut campur masalah keluarganya πŸ™„.

P sendiri seringkali diperlakukan tidak baik oleh sang papa, bahkan P tidak bisa memasuki rumahnya sendiri jika ada sang papa di rumah. Pasalnya, sang papa tidak suka melihat P. Jadi, P baru akan masuk ke rumah jika sang papa pergi. P sendiri tinggalnya di dalam kardus yang ada di dalam rumahnya, yang harus seringkali ia ganti agar sang papa tidak curiga kalau ada ia di dalamnya. Sesulit itu untuk bisa tidur di rumah sendiri 😭. Kejadian terakhir P bersama papanya adalah saat papa P tahu jika P sedang berada di dalam kardus, lalu P diseret keluar kardus dan tangannya digiles pakai setrikaan. DIGILES BANGET! Astaga, tega banget nggak tuh 😀. Btw, mama P tidak ada, sebab udah pergi semenjak P kecil.

Akhirnya, Ava dan P bisa kabur dari rumah menyeramkan itu dan mereka ingin pergi menuju rumah nenek Ava dimana Ava menjanjikan bahwa di rumah neneknya, hidup akan lebih bahagia dan rumah neneknya ada di daerah Tanah Lada, kalau tidak salah ingat CMIIW.

Papanya Ava dan P ini sama-sama suka mabuk-mabukan dan berjudi. Jadi, emosinya seringkali tidak stabil. Bahkan, keluarga Ava pindah ke rusun karena dekat rusun itu ada tempat judi, sehingga papa Ava tidak perlu jauh-jauh jika ingin berjudi πŸ™„.

Dan menjelang akhir, P mengetahui bahwa papa yang selama ini tinggal bersamanya bukan papa kandungnya, melainkan orang lain yang ia anggap kakak-kakak baik yang merupakan tetangganya, ternyata mereka adalah papa dan mama kandung P, yang dimana saat mereka masih berumur 17 tahun, lahirlah P. 

Wah, spoiler banget ini Lia 🀣. Maaf ya! Soalnya kurang greget kalau nggak diceritakan sebagian kisah dari buku ini. Aku nggak akan kasih tahu ending-nya, biar teman-teman baca atau menduga sendiri 😜.

Meskipun Ava dan P memiliki papa yang jahat, tetapi mereka tetap sayang dengan papa mereka. Kenapa anak kecil hatinya mulia sekali? 😭. P seringkali merasa kesepian ketika jauh dengan sang papa, padahal tiap kali sang papa melihat P, yang ada malah siksaan belaka 😀. Demikian juga Ava, ia sayang sang papa, tetapi ia merasa lebih bahagia jika sang papa tidak ada dan hanya tinggal ia dan sang mama berdua. Sikap para papa yang sering menyiksa mereka ini, membuat mereka tumbuh menjadi anak-anak yang skeptis dan berpikiran negatif. Mereka berfikir bahwa "semua papa itu jahat" dan bukan papa namanya jika tidak jahat. Bahkan, mereka percaya bahwa menjadi "papa yang jahat" merupakan salah satu takdir kehidupan. Asliii... Sebegitu besar pengaruhnya kekerasan terhadap mental anak 😭.

Meskipun buku ini merupakan cerita fiksi, tetapi kisahnya mampu menguras emosi yang bahkan masih muncul saat aku menulis tulisan ini πŸ˜…. Geram banget, banget, banget. Apalagi buku ini ditulis dari sudut pandang Ava, yang semakin terasa miris dan nyesek saat membacanya. Anyway, nama asli P ternyata Pangeran 😊


Beberapa Hal Yang Aku Dapatkan Dari Buku Di Tanah Lada

  1. Anak-anak mampu merasakan emosi meskipun mereka masih kecil.
  2. Menjadi orangtua tidak mudah. Perlu kesiapan mental yang besar sehingga mampu mengasihi dan mendidik anak dengan baik. Apalagi jika harus mengangkat anak, kesiapan mental yang dibutuhkan tentu lebih besar.
  3. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Papa dan mama kandung dari P, tidak berani bertanggung jawab atas perbuatan mereka sebab mereka masih kecil ketika berbuat, alhasil P diberikan kepada anggota keluarga yang lain dan membuat hidup P sengsara, serta P selalu beranggapan bahwa ia tidak pernah diinginkan oleh siapapun 😭.
  4. Jangan jadikan anak sebagai sasaran kemarahan, sebab sangat berdampak besar bagi kesehatan mental mereka. Seperti Ava dan P yang tumbuh menjadi anak yang skeptis dan negatif terhadap sosok papa.
  5. KDRT is toxic and it's real. Kalau udah tercemplung di dalam hubungan yang toxic dan belum menikah, sebisa mungkin tariklah diri untuk keluar dari hubungan tersebut. Jika udah menikah dan terkena KDRT, prioritaskan apa yang membuatmu bahagia. Jika bahagiamu bukan bersamanya, let them go, tetapi ini bukan solusi utama ya, ini solusi terakhir jika udah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dan diperbaiki.

Intinya, segala sesuatu yang kita pilih, kita harus berani bertanggung jawab atas pilihan kita dan jangan pernah menjadikan anak-anak sebagai sasaran kemarahan. Jika belum siap mental untuk memiliki anak, lebih baik ditunda dulu dan milikilah ketika mental udah siap. 

Kadang, aku suka dibuat geram oleh orang-orang yang suka membuang atau membunuh bayinya. Banyak orang yang bertahun-tahun merindukan seorang anak, tetapi belum bisa memiliki, sedangkan ada orang yang diberi, namun tidak menyayanginya malah membuang atau membunuhnya. Pfft 😀

Hidup memang tidak adil dan memang hidup ini bukan untuk mencari keadilan, melainkan bagaimana cara kita untuk beradaptasi dengan ketidakadilan tersebut. Sebab, yang dunia hanya tempat persinggahan sementara sebelum menuju kehidupan yang kekal 😊.


Adakah teman-teman yang udah pernah baca buku Di Tanah Lada ini? Ada yang ingin ditambahkan?

Ada yang ikutan geram juga saat membaca resensiku? Bagi yang ikutan geram, harap mengacung! πŸ€ͺ


The dreamer.

73 komentar

  1. Dih... Kesel liat orang yang seperti itu. Dilaporin ke komnas HAM seharusnya tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ugh! Harusnya sih langsung dilaporkan ke komnas HAM ya, Kak!
      Untungnya ini hanya fiksi belaka, tapi aku rasa di luar sana banyak yang mengalami nasib yang sama. Semoga mereka bisa segera sadar untuk lapor ke komnas HAM 😭

      Hapus
    2. Bukan Komnas HAM Lia..KPAI Komisi Perlindungan Anak Indonesia 😁

      Hapus
    3. Benar juga Kak Anton! Wkwkwkw harusnya kalau Komnas HAM untuk sang ibu kali ya, yang menjadi korban KDRT. Terima kasih remindernya Kak πŸ™ˆ

      Hapus
  2. Serem juga kisah buku2 dari Tanah Lada. Dari judul2nya saja sudah extreem gitu..😳😳 Lebih dominan ke arah penyiksaan terhadap anak atau mempekerjakan anak karena keadaan..😭😭

    Miris..😳


    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada juga film yang berjudul Tanah Lada tapi itu film horor Thailand 🀣
      Betul. Tega sekali kan Kak 😭 miris sekali padahal hanya fiksi, tapi mampu menyanyat hati. Hiks.

      Hapus
    2. Lebih horor liat Lia sih sebenernya πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹

      Hapus
    3. Semoga malam ini Kakak mimpiin aku!! :p

      Hapus
  3. Wah kalo aku baca buku ini pasti ujung-ujungnya misuh-misuh sama tekanan darah naik. Bener emang kalau mau punya anak harus siap semuanya entah itu fisik, mental, sampai finansial. Jangan sampai ada manusia baru yang lahir terus dia disiksa dan menderita😭 dia ga salah apa-apa😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHAHAHA sepertinya memang akan terpelatuk untuk memisuh kalau Kak Endah baca buku ini, sebab akupun juga terpelatuk walaupun nggak sampai mengumpat, hanya sampai geram dan ingin marah-marah ke sang papa 😀

      Betul banget~ kadang orang-orang hanya fokus di kemampuan finansial aja, padahal sesungguhnya kesiapan mental itu perlu sebab memiliki anak itu nggak mudah dan tanggung jawabnya besar sekali 😭
      Iya kasihan kan Kak 😭 Aku suka sedih melihat bayi-bayi yang terlantar itu 😭

      Hapus
  4. Belum pernah baca, tapi ikutan kesal setelah tau alur ceritanya :"""(

    Sama Lia, kakak paling nggak bisa lihat anak yang nggak berdaya diperlakukan nggak layak oleh orang tuanya ~ suka ada di-berita anak dibuang, atau disiksa, dan masih banyak lagi kisah miris lainnya. Huhuhu. Nggak kebayang itu bagaimana rasanya tidur di kardus dan di kamar mandi :"""" tega bangetttt papanya.

    Di Indonesia mungkin ada banyak anak-anak seperti Ava dan P -- semoga anak-anak itu bisa tumbuh bahagia dan dirawat oleh orang yang benar-benar menyayangi mereka karena mereka nggak salah apa-apa. Bukan mereka yang minta dilahirkan ke dunia :(

    By the way, nama penulisnya itu nama asli~kah? Unik yah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah kayak di FTV gitu ya Kak πŸ˜‚

      Same with me, Kak! Bahkan ketika orangtuanya ditegur, mereka akan lebih galak dibanding yang menegur 😭. Aku pas baca bagian Ava tidur di kamar mandi sih udah benar-benar hampir menangis. Duduk di kursi jongkok kecil sambil bersender di tembok untuk tidur. Tega banget, but she is so strong :(

      Aku juga yakin, di Indonesia banyak yang senasib seperti Ava dan P hanya saja tidak terekspos. Semoga mereka bisa mendapat kehidupan yang lebih layak ya Kak 😭 Betul sekali~ sebab bukan mereka yang ingin dilahirkan, jika bisa memilih pasti mereka tidak ingin dilahirkan di keluarga yang seperti itu 😒

      Btw, iya, nama asli itu, Kak. Unik ya 😍 sampai sulit melafalkannya karena nggak biasa hahaha. Sang penulis itu 4 bersaudara dan semuanya bernama Ziggy hanya belakangnya yang berbeda. Lucu sekali πŸ˜†

      Hapus
  5. Wahh ini salah satu buku Mba Ziggy yang udah ngantri minta dibaca tapi masih belom kesampean πŸ˜”

    Baru tau ternyata buku ini kelam banget ya.... aku kira sih gak bakalan sekelam ini Lia. Apalagi mereka masih kecil banget... bukan remaja tapi anak kecil. Gak bisa bayangin itu kehidupannya gimana, aku yang baca aja gerem banget.

    Wah, Lia spoilernya berbahaya nih. Sengaja gak dikasih tau endingnya biar penasaran hahaha jadi penasaran kan ini berakhir gimana....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus siap mental jika ingin membaca buku ini, Kak Tika 😒

      Kelam banget.. aku juga nggak menduga kalau isinya akan seperti ini. Dari awal, aku juga nggak tahu sinopsisnya, jadi pas nyemplung benar-benar kaget dan emosinya dapet banget πŸ˜‚
      Iya, makin sedih sebab anak kecil yang bercerita. Kalau diingat, malah makin sedih 😒

      Hahaha nanti kalau aku kasih tahu endingnya, jadi nggak seru dong πŸ€ͺ. Jadi, biar Kak Tika baca aja nanti agar tahu endingnya seperti apa *ngeselin*

      Hapus
  6. Setuju banget Lia, anak bayi aja bsia ngerasain emosi, apalagi anak-anak usia kayak mereka.
    Sedih banget ya, meski jujur di dunia nyata juga ada bahkan banyak kejadian kayak gini.
    Memang mirip-mirip sinetron di TV ikan terbang, tapi memang nyata hiks.

    Semoga, makin banyak orang tua yang lebih bijak mengasuh anaknya, agar generasi muda tumbuh jadi anak yang lebih baik, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar juga Kak Rey! Kalau kita sedang berwajah marah aja, anak bayi bisa tahu dan malah jadi menangis ya πŸ˜‚
      Oh iya, selain banyak di dunia nyata, juga mirip sama yang di siaran ikan terbang sih hahaha. Aku kalau nonton FTV di sana juga geram 😀

      Aminnn. Semoga lebih banyak lagi orangtua yang sayang dan bijak dalam mendidik anak sebab anak itu anugerah, bukan mainan atau samsak bahan pukul 😭

      Hapus
  7. Ini buku yang memperkenalkan aku ke tulisan-tulisannya Ziggy! Aah Liaa aku jadi inget pas selesai baca buku ini perasaanku campur aduk antara sakit hati, marah, sedih sekaligus lega.

    Entahlah aku jahat ga sih kalo aku merasa lega dengan ending yang dikasih untuk Ava dan P :((

    Setuju banget, di dunia ini masih banyak orang yang belum bisa jadi orangtua tapi udah seenaknya berkembang biak, alhasil yang jadi sasaran kesulitan ya anak-anaknya.

    Sumpah sepanjang baca tuh rasanya aku mengutuk papanya Ava dan P terus :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eee, Kak Eya juga udah baca ya πŸ™ˆ bacaan kita kok semakin banyak yang sama ya Kak 🀭

      Kak~ aku malah sedih pas bagian endingnya. Aku malah kesal kenapa endingnya begitu sebab aku udah berharap lain πŸ˜‚ tapi, dengan ending yang seperti itu, kesan yang ditinggalkan lebih mendalam ya.

      Hiahaha Kak Eya bahkan sampai menggunakan kata berkembangbiak dong πŸ˜‚
      Sama :( rasanya ingin nyumpahin tapi aku ingat mereka cuma karakter fiksi, tapi kenapa emosinya nyata sekali?! 😀

      Hapus
    2. Jangan jangan kembar nih..cuma beda bapak dan beda ibu πŸ€”πŸ€”

      Istilahnya bagai pinang dibelah kapak 😁

      Hapus
    3. Jangan-jangan nih :p
      Harus tes DNA dulu buat memastikan huahaha.

      Kalau dibelah kapak, mati dong, Kak? Wkwk

      Hapus
  8. Aku baru tau buku ini daan kesel bangeettt pas tau ceritanya begitu. Kok ada yaa orang yg tega ke anaknya seperti ituuuu..

    Setuju sama 5 poin yg kamu tulis, emang segala sesuatu pasti ada konsekuensinya. Nah perlu untuk siap menanggungnya jugaaa..

    Aduuhh dapet lagi satu refrensi buku dari kamu. Mana refrensi dari kamu bagus-bagus. Bisa-bisa aku makin numpuk utang buku yang perlu di baca πŸ™ˆ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ci, kalau baca versi lengkapnya, mungkin lebih kesal dan ingin mengumpat πŸ˜‚

      Betul sekali! Sayangnya, masih banyak yang mau enaknya saja tanpa memikirkan konsekuensinya 😒. Alhasil, anak-anak lah yang jadi korban :( semoga orang-orang yang seperti itu bisa segera tersadarkan. Hiks.

      Ups, maaf Ci, nggak bermaksud untuk menambah banyak wishlist πŸ€ͺ tapi, buku ini termasuk bacaan ringan dan halamannya nggak banyak, jadi bisa selesai baca dalam 2x duduk lah 🀭

      Hapus
  9. Hemm..Untung saya tidak baca, jadi ga perlu marah marah habis baca buku fiksi 😁😁

    Btw, kekejaman terhadap anak sepertinya masih banyak di Indonesia.

    Apakah seperti yang diceritakan di buku ini? Tidak tahu juga apakah ada kasus seperti ini. Tapi, berdasarkan pengamatan di berita, kayaknya ada.

    Tetapi yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya bukan kasus kekejaman seperti ini.

    Justru kekerasan terhadap anak yang dimaklumi yang berbahaya. Menjewer, memukul, atau memarahi secara verbal dengan kasar sering dipandang biasa.

    Padahal hal itu termasuk sebuah penganiayaan yang dilakukan orang terdekat.

    Tapi masyarakat memandangnya sebagai sesuatu yang lumrah.

    Justru yang harus dikhawatirkan bukan seperti yang digambarkan dalam buku itu, tetapi yang dianggap biasa itulah yang berbahaya karena rentan mewariskan budaya kekerasan dalam masyarakat.

    Pesan saya untuk Lia..kalau nanti punya anak, jangan pakai kekerasan dalam mendidik dan mengasuh mereka yah.

    Kita putus rantai kekerasan itu...dan semua orang harus berkontribusi πŸ˜‡

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha cukup membaca resensiku aja jika nggak ingin jadi terbawa emosi, Kak πŸ™ˆ

      Iya, aku sadar bahwa kekerasan seperti yang ada di dalam cerita atau bahkan lebih beratpun masih ada di Indonesia hanya saja tidak terekspos :(

      Ah iya, benar banget! Tindakan menjewer, mencubit, memukul dan memarahi secara verbal itu masih sering sekali ditemui dan memang bisa sangat membekas diingatan yang lama-lama bahkan bisa menjadi bom waktu bagi sang anak dibandingkan jika langsung dikasarin secara terang-terangan ya 😒. I know how it feels πŸ˜‚

      Aminnn. Aku juga nggak ingin menjadi orangtua yang seperti itu, Kak! Amit-amit banget 😭 terima kasih atas masukannya ya Kak Anton πŸ™πŸ»

      Hapus
  10. Wow, buku ini harus aku masukkan ke bucket list ku! Buku-buku kritik sosial macem begini aku lumayan suka sih, ironi ya kan?

    Maksudku, kritik sosial yang disampaikan lewat novel itu salah satu sarana belajar yang bagus sih. Membuka mata kita pada dunia yang sesungguhnya dan ternyata dunia itu luas, nggak sempit seperti yang dikata orang (?) πŸ˜‚

    Makasi Mbak Lia reviewnya, kapan-kapan akan aku baca πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi semoga Intan bisa suka dengan buku ini kelak ketika membacanya :D

      Betul. Aku setuju dengan pernyataan Intan! Sarana belajar yang bagus sebab lebih mudah diserap daripada ditulis di buku cetak pelajaran 🀣

      Sama-sama, Intan. Btw, kalau mau baca, bisa baca di app iPusnas atau Gramedia Digital ya :) Kalau untuk buku fisiknya, sepertinya udah sulit ditemukan karena udah terbit beberapa tahun lalu.

      Hapus
  11. Setega itu seorang papa terhadap anak. Untunglah ada rumah nenek, btw itu nenek nya dari ibunya papa si ava atau mama nya si ava kak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tega sekali. Jadi membuat geram saat membacanya, Kak >.<
      Waw! Pertanyaannya membuatku jadi berpikir keras nih wkwkwk
      Seingatku, itu nenek dari pihak ayah deh >.<

      Hapus
    2. Oh dari pihak si ayah ya kak, syukur lah biar si ava bisa ceritain kelakuan si ayah nya selaku anak dari nenek ava ya kak.

      Hapus
  12. Saya jadi gagal fokus ke nama pengarangnya. Itu nama asli atau pena ya? Saya kira karangan orang Rusia��

    Baca novel seperti ini mengharu biru banget ya. Sekaligus bikin gemas.

    Nggak usah di Indonesia di luar negeri juga banyak yg sia2in anak. Cakep2 dibunuh pula. #Baru nonton American Murder#

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama asli Kak Phebie. Namanya keren ya meskipun awalnya sulit dibaca 🀣 akupun mengira pengarangnya orang luar negeri tapi ternyata bukan hahaha.

      Aaah, tega sekali 😭 tapi kalau di luar negeri, setidaknya sang pelaku bisa diberi hukuman setimpal dibanding di dalam negeri yang kadang bisa dibebaskan begitu saja padahal udah menghilangkan nyawa 😭

      Hapus
  13. wah ceritanya sedih, tapi jadi pengen baca. Terimakasih sudah share.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga udah datang ke sini dan membaca tulisanku 😊

      Hapus
  14. langsung masuk list buat dibaca nih mbak
    dih nyesek banget dan keduanya bener-bener wise banget meski mash anak anak
    aku aja yang masih baca sinopsisnya ini udah geram minta ampun
    ini juga penting banget si bagi pembelajaran kesehatan mental
    engga mudah melalui ini terutama bagi anak anak
    meski ini fiksi ya tapi bisa saja ada di dunia nyata

    terima kasih ulasannya mbak lia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kelak Kak Ikrom bisa baca buku ini ya. Hati-hati nanti ikutan geram saat membaca πŸ™ˆ

      Ahiyaa, mereka berdua benar-benar wise sih terutama Ava padahal masih umur 6 tahun tapi pemikirannya cukup wise sampai aku nggak melihat sosok anak usia 6 tahun di dalam dirinya πŸ˜‚
      Iya, kesehatan mental anak-anak juga penting sebab dampaknya bisa sangat mempengaruhi pertumbuhannya kelak. Kasihan kan dengan anak-anak yang seperti Ava dan P ini, semoga saja anak-anak yang senasib seperti Ava dan P bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan baik serta bahagia hidupnya 😭

      Hapus
  15. Jadi kesal setelah baca spoilernya, kok bisa ya ada yang sejahat itu pada anak kecil yang masih lucu dan imut seperti Ava, Lia, dan P. Eh Lia mah bukan anak kecil lagi ya.πŸ˜†

    Mungkin bukan karena orang tua kandung maka P selalu disiksa, tapi Ava yang anak kandung juga ditelantarkan ya, padahal banyak sekali orang yang ingin punya anak tapi belum dikasih, hmmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lia meskipun bukan anak kecil tetapi masih lucu dan imut juga kok, Kak Agus πŸ€ͺ *langsung mual deh*

      Padahal seharusnya baik anak kandung maupun bukan, tetap harus disayang 😒 kasihan sekali mereka kan 😒 nggak kebayang banyak anak-anak yang senasib seperti Ava dan P di kehidupan nyata.

      Hapus
  16. Dari postingan ini, sebenernya ini bentuk cerminan nggak sih kalau di lingkungan kita masih sering terjadi hal seperti ini.

    Aku sendiri sering menyayangkan bagaimana konstruksi sosial membentuk mindset pada diri kita. Hidup di Indonesia, salah satu mindset yang ditanamkan adalah tujuan hidupmu itu menikah dan punya anak. Padahal belum tentu semua manusia Indonesia siap menikah dan memiliki anak lalu membesarkannya dengan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Pipit, couldn't agree more :(
      Aku juga merasakan keresahan yang sama. Kenapa masyarakat di sini terlalu menjunjung tinggi pernikahan dan memiliki anak seolah itu harus wajib kudu dilakukan, baru bisa disebut "hidup". Padahal nggak semua orang siap dan bisa menjadi orangtua dan berkomitmen sehidup semati, tapi karena kebanyakan dengar "kata orang" jadi begitu lah >.<

      Hapus
  17. Saya tau Ziggy ini lewat buku Semua Ikan di Langit, meski belum juga saya baca. Tertarik untuk baca bukunya.

    Menyangkut soal tema bukunya, saya jadi ingat dialog Gambir dalam film Pintu Terlarang,"Tidak ada ada yang mau terlahir di dunia. Setiap anak lahir karena konsekuensi hubungan Bapak dan Ibunya. Sebagian orangtua dimaafkan karena bisa ngasih kasih sayang"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Rahul, ternyata Rahul tahu juga dengan Ziggy ya :D
      Katanya sih buku-buku tulisannya Ziggy bagus, Semua Ikan di Langit salah satu yang recommended.

      Jleb. Benar banget kutipan dialog yang Rahul sampaikan :(
      Aku jadi sedih kalau mengingat banyak anak yang kurang kasih sayang orangtua padahal bukan mereka yang ingin dilahirkan :(

      Hapus
  18. Udah lamaa tau buku ini, apalagi sejak menang DKJ. Sering juga berseliweran review2nya di timeline. Tp aku ga pernah mau buat baca karena kayaknya aku ga akan kuat baca kisahnya. Huhu.. Sama kaya Lia, aku paling ga kuat klo masalah anak2 yg tersakiti gini. Yg ada abis baca ntr aku bisa kepikiran berhari2 😒

    Pesan2 moralnya ya Lia, apalagi memang menjadi orang tua itu suliiit. But it worthed πŸ˜ŠπŸ’–

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan dibaca bukunya kalau takut nggak kuat Kak Thessa >.< cukup baca resensi yang aku tuliskan ini aja, setidaknya tulisanku nggak terlalu sadis seperti isinya hahahaha.

      Sedih Kak Thessa kalau baca, apalagi endingnya >.< *malah bikin kepo*

      Kak Thessa, entah kenapa, aku terharu baca kalimat terakhir Kakak <3 Semoga anak-anak Kakak tahu bahwa Kak Thessa sungguh mengasihi dan bersyukur bisa memiliki mereka <3

      Hapus
  19. Kalo ga salah, aku pernah melihat buku nya Ziggy di gramedia. Pas Ngelihat namanya, dalam hatiku. Kok ribet banget sih namanya jadi kesel wqkwkq -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkw sama Kak Dodo! Pas pertama kali lihat namanya, aku juga kesal sebab sulit sekali pelafalan nama lengkapnya, bikin lidah belibet ya tapi unik >.<

      Hapus
    2. itu nama asli atau bukan yaa? Aku Sampe skrng belum bisa melafalkannya secara baik dan benar hahaa

      Hapus
  20. Hai kak lia, sudah baikan kah..?
    Atau masih merasa geram banget...?hehhee

    Ketika pertama kali baca judulnya, aku kira bakal bercerita tentang kehidupan masyarakat di daerah penghasil lada di Indonesia. Eeh, ternyata jauh sekali..hhahahaa

    Kalau lihat alurnya sangat menarik, si penulis kayak bercerita tentang kekerasan dalam rumah tangga yg dialami anak-anak indonesia masih sering terjadi. Kemudian masih melibatkan kasih sayang sang anak kepada papanya, yang notabene sering menyakiti mereka.
    Dan kemudian ditutup dengan kalimat yang sangat bagus, "papa yang jahat merupakan salah satu takdir kehidupan."
    Hubungan mereka cukup rumit yaa kak? Hehehhee

    Oya kak lia, itu nama belakang ada singkatan atau maknanya kah...?
    Sungguh unik nama belakangnya.
    Jadi kasihan sama gurunya kalau pas absen...hahahah 🀣🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Kak Rivai, thank you for asking :) masih geram kalau ingat ceritanya mah :p

      Hahahaha judulnya clickbait ya! Maaf, nggak maksud >.<

      Hubungan ayah dan anak yang cukup rumit, sebab sang anak masih sangat sayang kepada ayahnya walaupun sering disiksa tapi sang ayah nggak pernah sayang sama anaknya. Bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan versi lebih miris :(

      Wah, aku belum research lebih mendalam soal nama Kak Ziggy >.<
      Yang aku pernah baca itu, papanya Kak Ziggy kasih nama seperti itu sebab ngefans sama apa gitu >.< Grup band kalau nggak salah.
      Kasihan sama gurunya pas absen, juga kasihan kalau UN, lingkarin bagian namanya, lama sekali pasti wkwkw

      Hapus
  21. Li, baru baca reviewnya aja, aku lgs ragu mau baca :(. Takut kalo endingnya ga bahagia, trus jd kepikiran lamaaaaa. Ah, baru bayangin anak2nya di kunci di koper, disautin pake kata2 kasar, di setrika pulaaaa, OMG, itu manusia ato bukaaan :(. Sedih bangett..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Fanny, endingnya tidak bahagia menurutku >.< malah bikin tambah nyesek Kak :(
      Bayanginnya aja udah nggak kuat, gimana kalau beneran di luar sana ada yang seperti ini ya? :(
      Semoga orangtua yang jahat sama anak-anaknya bisa segera taubat >.<

      Hapus
  22. Hiksss itu kenapa aku suka emosi sendiri kalau baca berita tentang anak-anak nggak bersalah yang disiksa orangtua kandung sendiri 😒

    Tapi yaa, orangtua itu memang harus menjaga kesehatan mental dan emosi dalam membesarkan anak. Karena aku merasakan sendiri, kalau lagi capek atau burnout, anak mudah sekali kena dampaknya. Kalo lagi nggak mood terus nggak sengaja bentak Josh aja rasanya bersalah sampai berhari-hari 😭

    Anyway, back to the book. Aku mendadak merinding pas bagian papanya Ava sengaja tutup koper padahal tau anaknya di dalem huaaaaaaa kenapa bisaaaa 😭

    Sedih karena Ava dan P sebetulnya berhak mendapatkan masa kecil yang layak ya huhuhu

    Thank youuuu Lii untuk sinopsisnya! Btw, aku ikut belibet waktu baca nama lengkap penulisnya πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga emosi kalau baca berita seperti itu, Ci. Pikirku kok orangtua kandung tapi tega berbuat seperti itu ya :(

      Nah!! Itu dia. Walaupun aku belum pernah mengalami menjadi orangtua ya, tapi aku seringkali membaca bahwa kondisi mental orangtua itu sangat berpengaruh dalam mendidik anak. Jadi, harus sering me time juga agar nggak mudah burn out, sebab mental anak juga ujung-ujungnya jadi korban kalau orangtuanya kurang stabil emosinya >.<
      Semangat Cici Jane! Aku tahu, Cici sekarang udah jauh lebih baik dan lebih mahir menjalani peran sebagai orangtua :D

      Malah papanya Ava sengaja melakukan itu, Ci. Tega sekaliii T.T
      Kenapa ada orang-orang yang tega melakukan kejahatan kepada anaknya sendiri ya hiksss.

      Sama-sama Ci! Thank you for reading this post <3
      Huahahhaa memang nama penulisnya cukup membuat lidah keseleo saat membaca.

      Hapus
  23. Yaampuun, Lia... belum baca udah kesel duluan nih jadinya... :((

    Jadi kepikiran, itu tetangga-tetangga Ava dan P ga ada yg bertindak apa, ya? :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. *fuuuhh fuuuhhh* aku tiupin asap yang ngebul dari kepala Kak Hicha akibat dari perasaan kesal saat membaca tulisanku hiahahha.

      Mereka selama ini nggak tahu, baru tahunya pas kejadian Ava hampir dikunciin di koper karena mamanya teriak-teriak. Begitu kata di buku sih >.<
      Anyway, mungkin kalau di kehidupan nyata, banyak orang yang tutup mata karena takut jadi terperosok dalam kalau ikut campur >.<

      Hapus
  24. Wah layak banget dibaca ini bukunya. Terima kasih atas resensi komplit sama spoilernya ya. Hahahah... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihi sama-sama :D
      Semoga kelak bisa membaca buku ini ya!
      Terima kasih juga udah mampir ke blogku ^^

      Hapus
  25. Emang ya, Lia. Pinter bener bikin aku nyesel πŸ˜„. Kemarin di Gramedia aku udah nimang-nimang mau beli buku ini dong. Tapi gak jadi, dan lebih memilih beli buku metropop. Lha dalah sekarang malah dikasih tau kalau buku ini bagus banget. Duh, jadi nyesel banget kaaaaaaaanπŸ™ˆ.

    Ngomong-ngomong aku gak suka banget sama orang yang suka KDRT terutama sama anak kecil. Apalagi sampai tega-teganya buang atau bahkan bunuh anak. Kurang syukur memang merekaaaaaa. Ini lho, yang pengen punya anak tapi belum dikasih anak sama Tuhan tuh buanyak banget. Kok yang sudah punya anak tega banget ngejahatin anaknyaaaaaa😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Roem, buku ini masih ada di Gramedia?!
      Huahaha maaf!! Kok bisa pas-pasan gitu >.< tapi setidaknya Kak Roem jadi nggak terlalu penasaran dengan isinya dong sebab udah aku spoiler sedikit :p

      Akupun nggak habis pikir dengan tindakan yang mereka lakukan :( apalagi kalau dengar cerita orang-orang yang susah payah dalam mendapatkan anak, kok ini ada yang dikasih tapi dibuang begitu saja, hatinya dimana T.T

      Hapus
  26. Kok sedih dan bikin geram sih kelakuan ayah kandung segitu jahatnya ...

    Rasanya pengin kuhajar kalau nemu orang kayak gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakkk, nanti kalau dihajar, terus Kakak malah dituntut balik, bagaimana? >.<
      Mending langsung lapor ke KPAI aja biar Kak Himawan nggak usah capek-capek buang tenaga untuk menghajar orang yang seperti itu >.<

      Hapus
  27. Beneran kesel dan miris banget sepanjang baca tulisan ini kak Li😭🀧. Jadi mikir juga, ini beneran ada nggak sih di dunia nyata ortu sebejad ini?! dan mikir lagi, mungkin memang ada manusia jenis begini di luar sana, hanya saja kita yang nggak tahu. Aku setuju dengan mbak Pipit, bahwa cerita ini mungkin murni gambaran tentang apa yg dialami oleh anak-anak yg terlantar di luar sana.😫

    Ini sih banyak banget pesan kehidupan yg bisa diambil ya kak, sebagai anak muda yg nggak kepikiran nikah, berasa ditampakan realita pahit tentang tugas dan tanggungjawab orangtua. Semoga kita dijauhkan dari sikap2 yg mengarah ke toxic seperti itu ya kak Liaa😫

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miris banget rasanya ya, Awl T.T Aku juga jadi mikir dan aku merasa di dunia nyata juga ada yang seperti ini, hanya saja kita yang nggak tahu dan nggak pernah terekspos :( Semoga lebih banyak orang yang sadar dan bisa membantu anak-anak yang terkena dampak kekerasan dari orangtua ya >.<

      Tugas dan tanggungjawab orangtua itu berat sekali, Awl >.< menikah mungkin lebih mudah dibanding harus membesarkan seorang anak sebab tanggungjawabnya itu sama Tuhan juga, kan >.<
      Jadi keingat dengan orangtua jaman dahulu yang bisa punya anak sampai belasan. Hebat banget mentalnya :3
      Amiiinnn. Semoga kita dijauhkan dan tidak menjadi orangtua toxic seperti itu ya :D

      Hapus
  28. Aduh Lia, aku gak maulah baca buku ini. Cukuplah baca yang Lia tulis ini ajah :D
    Aku paling anti kekerasan.

    Jangankan sampai emosi macam begitu, suara keras dikit aja udah gak sanggup.
    Thamku Lia, beberapa poin di atas sangat penting utk kehidupan. Terutama bagi org2 yang udah menikah, n punya anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Ike, hatinya lembut sekali :D
      Semoga damai sejahtera selalu menaungi Kakak dan keluarga ya <3

      Hapus
  29. belum baca. baru tahu kalau ada Di Tanah Lada
    ikutan geram aku kak
    tapi aku ndak mau baca detailnyaaaaa
    sediiiiih
    periiiiiih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu memang sedih kalau baca secara detil, Kak Rhos >.<

      Hapus
  30. Hai Liaaaa~~~ *datang sambil joget-joget*

    aku baca buku ini, dan mikir bukunya menarik banget. alurnya asik, dan kita melihat dunia dari kacamata yang berbeda alias Ava. Karena perspektifnya anak kecil, jadinya banyak hal yang agak vague dan jadinya kek kurang menjelaskan.

    Tapi buku ini adorable. kecuali akhirnya :( pasti kamu mengerti perasaanku :( gatau kenapa, gak sreg aja sama endingnya, mungkin karena aku tuh anaknya masih pengen ending hepi, tapi karena sebelumnya melihat dari perspektif anak kecil, agak kaget dengan ending yang menurutku terlalu "dewasa" pemikirannya. Mungkin cuma aku aja yang ngga tega.

    btw, apa kabaar? Semoga kamu sehat-sehat selalu yaaa!

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAI KAK MEGAAA!! *menyambut dengan joget-joget juga*
      Apa Kabar Kakak? Huhuhu aku rindu sekali melihat Kak Mega dan tulisan Kakak :'( Kakak kemana aja? Sedang sibuk ya?

      Sejujurnya, aku juga sependapat dengan Kak Mega. Buku ini sebenarnya adorable, apalagi dengan tingkahnya Ava dan P yang rasanya udah kayak orang dewasa padahal masih anak kecil >.<
      Aku juga nggak sreg sama endingnya! Aku masih pengin happy ending juga, jadi shock banget pas lihat endingnya seperti itu, terlalu dewasa juga menurutku dan malah jadi ingin menangis kalau mengingat endingnya :( rasanya kok hidup mereka miris sekaliii.

      Aku sehat, Kak :) Kak Mega juga sehat selalu ya :D
      Terima kasih udah menyempatkan diri untuk mampir ke sini ^.^

      Hapus
  31. Ini kok ceritanya sadis banget. Aku pengen baca tapi males nangis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sadis dan miris :(
      Kalau gitu bacanya nanti aja ketika Kak Dini udah siap untuk menangis πŸ™ˆ

      Hapus
  32. yamapunnn kalau ini kejadian nyata udah aku laporin ke pihak berwajib
    setega itu bok, astagahhhh, pengen ku kruwes kruwes jadinya
    tapi anak anaknya masih setia sayang dengan orangtuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti ada juga kejadiannya di kehidupan nyata, Kak Ainun :(
      Sedih kalau mengingat kejadian yang ada di buku ini. Mana anak-anaknya baik banget pula 😭
      Semoga tidak ada lagi anak-anak yang mengalami kekerasan dari orangtuanya ya πŸ˜­πŸ™πŸ»

      Hapus
  33. Buku pertamanya Ziggy yang pernah aku baca. Asli bagus banget, mewek bacanya, tapi di ending masih menebak nebak, apa mereka beneran.. ya begitulah.. masih gak rela kalo beneran ��

    BalasHapus