Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

WHY YOU TAKE A PHOTO?

Gambar
Ketika berada di atas gunung atau di tepi pantai yang indah, hal pertama yang kita lakukan biasanya adalah mengambil foto. Entah tujuannya untuk apa, yang penting kita mempunyai bukti bahwa kita pernah berada di tempat yang indah tersebut.
Seringkali, seperti sudah kebiasaan, hal seperti ini terus-menerus terulang, sadar atau tidak sadar. Kita jadi tidak punya cukup waktu atau bahkan lupa untuk menikmati momen yang ada.
Sebenarnya, apa tujuan kita untuk mengambil foto akan kejadian tersebut? Apakah untuk kenang-kenangan agar bisa dilihat kembali suatu hari nanti? Atau hanya sebagai bukti untuk orang lain bahwa kita pernah berada di tempat tersebut?
Jika jawabanmu adalah untuk menjadikannya sebagai bukti yang dapat kita tunjukan ke orang lain, sebaiknya kamu segera urungkan niatmu dan pikirkan kembali.
Apakah kamu tahu bahwa hidup ini cukup singkat? Usia rata-rata manusia hanya mencapai umur 70 tahun, lebih daripada itu, berarti Tuhan memberi bonus.
Ketika kita hidup hanya fokus untuk mengej…

WHERE TO START DECLUTTERING?

Gambar
You may want to start declutter your things right now, but you don't know where to starts.



Last year, when I first knew about minimalism and decluttering, the first thing that I got rid of was my clothes. It was so easy for me to declutter my clothes because I don't really have too much stuff and before, I always make groups of my clothes which are group of daily or usually use items and group of I don't really want to use it soon. At the end, the last group is always being the one which I never wore and ended up in donation box.
This year, I declutter my sentimental items. This was huge for me because I have a lot of sentimental items such as my old toys, old notes, girl items, old books and digital memories. It took me 1 day to declutter my toys and girl items, 1 day for books and another 1 day to declutter my digital memories. It's really different rather when I declutter my clothes because I just need around 1 hour to finish it.
I realize it was easy for me to get rid…

LIVE WITHOUT PHONE

Gambar
I know there is something wrong, when my right hand was hurts and my eyes got blurry vision. Then, I realize this thing happened after I spend too much time on my phone.

My phone is like a tool that can do anything for me. Phone is my notes, my camera, my TV, my way to communicate, my game board, I can do anything with my phone and I write—almost—all my blog post on my phone, too.
After I spend over a month at home because of this pandemic, I notice about my screen time on phone is increasing a lot. I can spend 7-10 more hours on phone, No, I didn't do anything useful on it. I'm just surfing on the internet or watching Netflix or playing games, that's how I kill my time on my phone. Nothing useful, as I said.
So, this past few days—actually 4 days—I decided to limit my screen time. I read some essay from The Minimalists and it inspired me to do the same. Honestly, I can't. I can't getting rid of my phone as he did, but I know I can reduce to use it as much as I want.…

A LITTLE REMINDER.

Ada sebuah cerita yang ingin aku bagikan untuk kalian.

Ada seorang pedagang yang sudah menjajakan barang dagangannya dari pagj hingga sore menjelang, namun tidak ada seorang pembeli-pun ia dapati. Tak lama kemudian, ia melihat ada seorang pembeli yang datang ke arahnya, lalu ia mengumpulkan semua tenaganya untuk bangkit menyambut sang pembeli dan di dalam benaknya memikirkan cara untuk mendapat untung sebesar-besarnya dari sang pembeli berhubung ia belum berhasil menjual barang apapun semenjak pagi. Alih-alih mendapatkan untung besar, sang pembeli yang datang tidak mendapati barang yang dia inginkan, jadi batal-lah semua rencana yang sudah dipikirkan oleh sang penjual tersebut.

Cerita ini menyadarkanku bahwa ketika kita memiliki niat yang kurang baik—dalam hal ini serakah, maka semesta tidak akan mendukung kita untuk mendapatkannya.
Kita harus ingat bahwa serakah adalah salah satu dari 7 dosa utama umat manusia. Jangan sampai kita mempunyai niat untuk serakah, karena apapun yangg kita pu…

LIFE WITHOUT SOCIAL MEDIA AFTER 1 YEAR

Apa yang dirasakan setelah 1 tahun tidak aktif di dunia sosial media? Ternyata rasanya sangat menenangkan. Menjadi tidak tahu mengenai apa-apa dan tidak memenuhi pikiran dengan hal-hal yang seharusnya tidak diketahui, rasanya sangat menenangkan dan nyaman. Nyaman dengan kondisi baru ini sehingga membuatku berpikir 2 kali setiap muncul keinginan untuk membuka kembali akun sosial media.

Ketika muncul keinginan untuk membuka kembali akun sosial media, rasa cemas-pun membarengi perasaan tersebut. Rasa cemas akan kehilangan rasa nyaman dan tenang yang selama ini aku rasakan dengan hidup tanpa sosial media.
Bukan, bukan sosial media yang buruk, tapi diriku yang belum bisa memilah akan informasi yang terdapat di dalamnya, sehingga hidup dengannya membuat suasana hati dan pikiranku menjadi buruk.
Mungkin suatu hari nanti, ketika aku sudah siap menggunakan sosial media, aku akan kembali.

IT SPARKS JOY, FOR THEM!

Gambar
Seminggu belakangan, aku sedang menyibukkan diri dengan membereskan dan memilah barang-barangku. Barang-barang yang aku bereskan adalah barang-barang sentimental berupa boneka, pernak-pernik, foto-foto dalam bentuk digital dan beberapa buku koleksiku.
Ada boneka-boneka yang aku miliki sejak aku masih kecil, bahkan ada yang belum pernah aku mainkan, hanya terpampang manis di lemari kaca.



Ada pernak-pernik lucu yang biasa dikoleksi oleh para gadis kecil pada jamanku, semua terpampang rapih di dalam satu kardus khusus yang aku siapkan.
Ada foto-foto digital dari jaman aku sekolah, dari mulai foto makanan, benda dan hal-hal random lainnya, semua ada di dalam laptop dan Google Drive-ku.



Ada beberapa koleksi buku bacaan seperti komik, novel, bahkan buku pelajaran semenjak aku SD, semua masih tersimpan di dalam gudang.

Dan, kali ini, aku merapihkan semuanya. Memilah mana yang masih akan aku gunakan dan mana yang akan aku donasikan, dan mana yang sama sekali tidak bisa digunakan kembali.
Nggak disa…

BEING POSITIVE.

Ada beberapa hal yang di luar kendali kita, contohnya cuaca panas di siang hari, kondisi jalan yang macet, perasaan orang lain, unggahan di sosial media milik orang lain, tindakan dan ucapan orang lain.
Namun, ada juga hal-hal yang bisa kita kendalikan. Kata-kata kita, perasaan kita, sikap dan tindakan kita.
Maka dari itu, apa yang bisa kita kendalikan, kendalikanlah dengan sebaik mungkin. Salah satunya, perasaan dan pikiran kita. Perasaan dan pikiran kita terbatas, maka penuhilah itu dengan hal-hal positif.
Juga perlu diingat bahwa kita tidak bertanggung jawab atas apa yang dirasakan oleh orang lain, karena mereka sendiri lah yang memutuskan untuk merasa demikian.

The dreamer.

HOW MANY CLOTHES DO YOU HAVE?

Gambar
Pernah nggak terlintas dipikiran kita untuk sebuah pakaian seharga 50ribu, berapa harga modal bahan, proses dan gaji karyawan yang dikeluarkan? Kadang aku terpikirkan beberapa hal tersebut ketika sedang melihat-lihat pakaian dengan harga yang murah, "wow harga pakaian ini murah banget! Modalnya berapa ya bisa semurah ini?"
Kebanyakan dari kita hanya terpikirkan akan permukaannya saja, tapi sebenarnya dibalik itu semua terdapat banyak hal yang kurang mendapat perhatian.
Gaji karyawan bahkan limbah yang dihasilkan dari pembuatan pakaian merupakan suatu hal yang sangat berdampak besar bagi kehidupan, namun sering terlupakan bahkan tidak pernah terpikirkan sedikitpun.
Banyak karyawan dari perusahaan pakaian besar ternama yang hidupnya tidak sejahtera karena jam kerja yang berlebihan dan gaji yang sangat kecil.
Limbah-limbah pewarna pakaian yang berbahan dasar kimia juga dibuang secara sembarang di perairan terdekat dari pabrik mereka, yang hasilnya merusak ekosistem perairan di se…

HOW TO FIND HAPPINESS.

Gambar
Sering aku mendengar bahwa perasaan manusia itu mudah sekali beradaptasi.


Ketika kita memiliki gadget terbaru, rasanya senang sekali sampai tidurpun nggak nyenyak, berharap cepat-cepat malam berganti pagi agar kita bisa memiliki waktu untuk mengulik gadget baru tersebut. Tapi, perasaan itu hanya bertahan selama beberapa saat, bahkan hilang dalam hitungan hari.
Ketika ada seseorang yang dekat dengan kita, pergi meninggalkan kita untuk selamanya, rasanya sedih, sakit sekali hati ini, berharap agar hari-hari kelam ini cepat berlalu, dan sesuai dengan harapan kita, rasa sakit itu pun akan menghilang setelah beberapa saat.
Perasaan senang maupun sedih, mereka bukan menghilang, hanya saja kita yang sudah beradaptasi dengan rasa tersebut.
Kita menjadi terbiasa dengan rasa memiliki gadget baru, juga rasa kehilangan yang amat menyakitkan itu. Ya, kita sudah beradaptasi dengan perasaan-perasaan tersebut.
Lalu, sampai suatu titik, kita berpikir bahwa ternyata kesenangan itu semu. Dan ketika kesenanga…

COMPETITION

"Cepat tidak selalu tepat, dan lambat bukan berarti kalah" -Mengejar Ujung Pelangi, Lucia Priandarini.Dulu, aku selalu merasa bahwa hidup adalah sebuah kompetisi. Aku senang ketika aku menjadi yang paling bisa dalam suatu kegiatan, senang ketika aku lebih dulu mencapai titik tertentu, senang ketika aku lebih unggul. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh sebagian orang, ada kesenangan dalam menjadi lebih unggul dibanding yang lain.
Namun, beberapa waktu lalu, aku serasa dipukul oleh sebuah kalimat yang diungkapkan oleh seorang Youtuber kesukaanku, katanya: "hidup bukanlah kompetisi, hidup adalah komunitas"Saat itu aku langsung teringat oleh perbuatanku di masa lalu, dimana jiwa kompetisiku tinggi, dimana aku selalu ingin menjadi lebih unggul, lebih mampu, lebih bisa diandalkan, lebih, lebih dan lebih.
Tanpa sadar, rasa ini menimbulkan rasa lainnya yaitu iri. Iri ketika melihat orang lain lebih unggul dibanding diriku dan marah ketika orang lain lebih berhasil. Hasilnya …