Senin, 25 Mei 2020




Ketika berada di atas gunung atau di tepi pantai yang indah, hal pertama yang kita lakukan biasanya adalah mengambil foto. Entah tujuannya untuk apa, yang penting kita mempunyai bukti bahwa kita pernah berada di tempat yang indah tersebut.

Seringkali, seperti sudah kebiasaan, hal seperti ini terus-menerus terulang, sadar atau tidak sadar. Kita jadi tidak punya cukup waktu atau bahkan lupa untuk menikmati momen yang ada.

Sebenarnya, apa tujuan kita untuk mengambil foto akan kejadian tersebut?
Apakah untuk kenang-kenangan agar bisa dilihat kembali suatu hari nanti?
Atau hanya sebagai bukti untuk orang lain bahwa kita pernah berada di tempat tersebut?

Jika jawabanmu adalah untuk menjadikannya sebagai bukti yang dapat kita tunjukan ke orang lain, sebaiknya kamu segera urungkan niatmu dan pikirkan kembali.

Apakah kamu tahu bahwa hidup ini cukup singkat? Usia rata-rata manusia hanya mencapai umur 70 tahun, lebih daripada itu, berarti Tuhan memberi bonus.

Ketika kita hidup hanya fokus untuk mengejar apresiasi dan sanjungan dari orang lain, sebenarnya kita tidak benar-benar sedang menikmati hidup kita.

Sanjungan, apresiasi bahkan harta milik kita, semua hal itu pada akhirnya adalah kesia-siaan belaka.

Kenapa tidak kita mengisi hari-hari kita dengan lebih bijak?
Ketika suatu saat nanti, kita sedang berada di puncak gunung tertinggi, atau di pantai yang sungguh indah, cobalah untuk benar-benar menikmati momen yang ada, tanpa mengambil foto, tanpa memikirkan masa depan, hanya hadir pada masa kini. Mencoba untuk mensyukuri atas apa yang sudah kita miliki dan kita capai sambil menikmati pemandangan dan momen yang ada.

Aku mau belajar dan akan terus belajar untuk bisa melakukan hal tersebut—menikmati momen yang ada tanpa harus mengabadikannya lewat foto.

Memang foto tidak dapat pudar dan memori otak bisa pudar, tapi kebahagiaan yang didapatkan ketika kita "hadir" dan "sadar penuh" tidak dapat tergantikan.

Kita tidak perlu membuktikan kepada siapapun jika kita sedang berada di atas puncak gunung.


The dreamer.


Sabtu, 23 Mei 2020

You may want to start declutter your things right now, but you don't know where to starts.






Last year, when I first knew about minimalism and decluttering, the first thing that I got rid of was my clothes. It was so easy for me to declutter my clothes because I don't really have too much stuff and before, I always make groups of my clothes which are group of daily or usually use items and group of I don't really want to use it soon. At the end, the last group is always being the one which I never wore and ended up in donation box.

This year, I declutter my sentimental items. This was huge for me because I have a lot of sentimental items such as my old toys, old notes, girl items, old books and digital memories. It took me 1 day to declutter my toys and girl items, 1 day for books and another 1 day to declutter my digital memories. It's really different rather when I declutter my clothes because I just need around 1 hour to finish it.

I realize it was easy for me to get rid of my clothes at the first place because I'm not too attached to those items. I'm not a person who likes to buy clothes every time, I just buy it once or twice a year and only 1 or 2 pieces. That's why I don't have many clothing items and I'm relieved about it now.

Yes, I'm too attached to my sentimental items because they have lot of memory in it. Next time, I will tell you how I can finally let them go.

In my opinion, when it's your first time to declutter, choose a part that you are not too attached to because it's easier to let them go. It may your books that you haven't read for years, or your make-up tools that you didn't use for few months or already expired. Well, it may vary for every person. Remember, you don't need rush. Good luck!

The dreamer.

Jumat, 22 Mei 2020





I know there is something wrong, when my right hand was hurts and my eyes got blurry vision. Then, I realize this thing happened after I spend too much time on my phone.

My phone is like a tool that can do anything for me. Phone is my notes, my camera, my TV, my way to communicate, my game board, I can do anything with my phone and I write—almost—all my blog post on my phone, too.

After I spend over a month at home because of this pandemic, I notice about my screen time on phone is increasing a lot. I can spend 7-10 more hours on phone, No, I didn't do anything useful on it. I'm just surfing on the internet or watching Netflix or playing games, that's how I kill my time on my phone. Nothing useful, as I said.

So, this past few days—actually 4 days—I decided to limit my screen time. I read some essay from The Minimalists and it inspired me to do the same. Honestly, I can't. I can't getting rid of my phone as he did, but I know I can reduce to use it as much as I want.

I tried to check my phone once per one hour, and what I did on phone just for reply some text, sometimes to read a chapter of e-book, and sometimes to play about three races on Kart Rider game. Mostly that's all. I did limit to reply messages because I found out if my hand was hurts when I typed on my phone too much.

At first, it's really hard to do. As you know, we usually check out our phone without awareness, I mean, checking out our phone is like breathing for us, and we will feel anxious when we can't check our phone, even there's no notification at that time. So, when the thought of need to check out my phone was out, I tried to get rid of it with leave my phone on a table that far from me and I did anything else, like read a pyshical book or have a conversation with my parents or other family member. Now, for 4 days, my screen time is on 3 hours average. It decreased—a lot.

With this, I realize when I was too attached to my phone, I didn’t have enough time to listening about my family member stories, to help them and to do anything else off screen.

When we put the screen down, we will get some new and good experience that off of screen.


Kamis, 14 Mei 2020

Seminggu belakangan, aku sedang menyibukkan diri dengan membereskan dan memilah barang-barangku. Barang-barang yang aku bereskan adalah barang-barang sentimental berupa boneka, pernak-pernik, foto-foto dalam bentuk digital dan beberapa buku koleksiku.

Ada boneka-boneka yang aku miliki sejak aku masih kecil, bahkan ada yang belum pernah aku mainkan, hanya terpampang manis di lemari kaca.





Ada pernak-pernik lucu yang biasa dikoleksi oleh para gadis kecil pada jamanku, semua terpampang rapih di dalam satu kardus khusus yang aku siapkan.

Ada foto-foto digital dari jaman aku sekolah, dari mulai foto makanan, benda dan hal-hal random lainnya, semua ada di dalam laptop dan Google Drive-ku.





Ada beberapa koleksi buku bacaan seperti komik, novel, bahkan buku pelajaran semenjak aku SD, semua masih tersimpan di dalam gudang.

Dan, kali ini, aku merapihkan semuanya. Memilah mana yang masih akan aku gunakan dan mana yang akan aku donasikan, dan mana yang sama sekali tidak bisa digunakan kembali.

Nggak disangka, begitu banyak barang yang nilainya sudah tidak aku temukan lagi untuk hidupku saat ini tetapi mereka masih ada di rumahku dan memenuhi tempat yang seharusnya bisa aku gunakan untuk hal lain. Dalam hal bentuk digital, ternyata banyak juga foto-foto yang sama, atau bahkan foto yang nggak jelas atau tidak fokus. Hal ini tentunya hanya memenuhi memori penyimpananku saja. Akhirnya, barang-barang tersebut aku pilih untuk donasikan, beberapa aku buang karena sudah tak layak pakai, juga aku hapus dari memori penyimpananku.

Untuk boneka-boneka dan pernak-pernik, aku berikan ke anak tukang sayur keliling di komplek perumahanku, dan aku berikan buku-buku ke tukang jual beli barang bekas dan tempat donasi barang.

Setelah menerima pemberianku, tukang sayur langgananku bercerita bahwa anaknya merasa senang sekali akan boneka dan barang lainnya, sampai nggak mau makan karena mau main terus hahaha. 

Sehabis mendengar kata-katanya tersebut, aku jadi senang sekali dan lega. Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain melalui hal ini. Aku pun senang dan lega karena aku tahu bahwa anak yang menerima pemberianku begitu senang, dan di sisi lain, aku-pun telah memperpanjang masa hidup barang-barang tersebut dengan memberikannya ke orang yang lebih mendapatkan nilai atas kehadirannya.

Aku sadar bahwa barang-barang kita yang sudah tidak kita temukan nilainya untuk menopang kehidupan kita di masa sekarang, ternyata masih bisa bermanfaat bagi orang lain. 

Dibanding hanya terpampang di lemari kaca sampai benda tersebut usang tertelan zaman, kenapa tidak kita berikan ke orang lain yang lebih mendapatkan manfaat dari benda tersebut? Karena ternyata hal tersebut dapat mendatangkan sesuatu yang kita sebut dengan kebahagiaan.


The dreamer.

Selasa, 12 Mei 2020




Pernah nggak terlintas dipikiran kita untuk sebuah pakaian seharga 50ribu, berapa harga modal bahan, proses dan gaji karyawan yang dikeluarkan? Kadang aku terpikirkan beberapa hal tersebut ketika sedang melihat-lihat pakaian dengan harga yang murah, "wow harga pakaian ini murah banget! Modalnya berapa ya bisa semurah ini?"

Kebanyakan dari kita hanya terpikirkan akan permukaannya saja, tapi sebenarnya dibalik itu semua terdapat banyak hal yang kurang mendapat perhatian.

Gaji karyawan bahkan limbah yang dihasilkan dari pembuatan pakaian merupakan suatu hal yang sangat berdampak besar bagi kehidupan, namun sering terlupakan bahkan tidak pernah terpikirkan sedikitpun.

Banyak karyawan dari perusahaan pakaian besar ternama yang hidupnya tidak sejahtera karena jam kerja yang berlebihan dan gaji yang sangat kecil.

Limbah-limbah pewarna pakaian yang berbahan dasar kimia juga dibuang secara sembarang di perairan terdekat dari pabrik mereka, yang hasilnya merusak ekosistem perairan di sekitar daerah tersebut.

Belum lagi mengenai limbah-limbah pakaian sisa potong. Sekitar 12-15% adalah limbah sisa potong dari jumlah bahan yang ada. Jadi, misalkan ada 100 meter kain, 12-15 meternya adalah sisa potong yang tidak bisa terpakai atau contoh lainnya adalah sekitar 1 dari 6 baju, yang artinya kita masih bisa membuat sekitar 1 baju lagi dari hasil sisa potong yang ada.

Di satu sisi, ada lagi limbah gas dan jejak karbon akibat tranportasi yang digunakan dari proses pembuatan hingga jual beli pakaian.

Wah, ternyata ada begitu banyak sisi kelam yang terlupakan dalam perjalanan sebuah pakaian, yang bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh diriku, dan sayangnya baru aku sadari baru-baru ini.

Memang, ada yang dinamakan sustainable fashion, eco fashion, ethical fashion yang dalam proses pembuatan pakaian, mereka menggunakan bahan yang berkualitas terbaik, pewarna alami dan karyawannya pun hidup sejahtera karena digaji dengan layak dan jam kerja yang layak. Tapi, jujur saja menurutku, untuk itu semua harganya tidak murah. Harga 1 buah baju bisa di atas 500 ribu rupiah, bahkan ada yang jutaan rupiah.




Oleh karena itu, aku mau mengajak teman-teman semua untuk lebih berkesadaran ketika membeli sebuah pakaian. Kita boleh saja tetap membeli pakaian di toko tempat biasa kita beli, tapi kita harus pastikan bahwa kita benar-benar membutuhkannya dan memakaianya paling tidak sebanyak 30x, juga dirawat secara baik sehingga masa hidup pakaian tersebut jadi lebih panjang. Jika ada pakaian yang sudah tidak kita sukai, bisa kita donasikan ke orang yang lebih membutuhkan, atau bisa juga di jual di toko jual beli barang bekas online. Oh iya, kita juga bisa beli pakaian bekas lewat toko online untuk memperpanjang masa hidup pakaian tersebut, lho.

Jadi, mari kita lebih berkesadaran dalam membeli pakaian. Hal terkecil sekalipun akan berdampak besar bagi lingkungan.


The dreamer.

Jumat, 08 Mei 2020

Sering aku mendengar bahwa perasaan manusia itu mudah sekali beradaptasi.




Ketika kita memiliki gadget terbaru, rasanya senang sekali sampai tidurpun nggak nyenyak, berharap cepat-cepat malam berganti pagi agar kita bisa memiliki waktu untuk mengulik gadget baru tersebut. Tapi, perasaan itu hanya bertahan selama beberapa saat, bahkan hilang dalam hitungan hari.

Ketika ada seseorang yang dekat dengan kita, pergi meninggalkan kita untuk selamanya, rasanya sedih, sakit sekali hati ini, berharap agar hari-hari kelam ini cepat berlalu, dan sesuai dengan harapan kita, rasa sakit itu pun akan menghilang setelah beberapa saat.

Perasaan senang maupun sedih, mereka bukan menghilang, hanya saja kita yang sudah beradaptasi dengan rasa tersebut.

Kita menjadi terbiasa dengan rasa memiliki gadget baru, juga rasa kehilangan yang amat menyakitkan itu. Ya, kita sudah beradaptasi dengan perasaan-perasaan tersebut.

Lalu, sampai suatu titik, kita berpikir bahwa ternyata kesenangan itu semu.
Dan ketika kesenangan itu semu, maka apa yang kita cari dari dunia ini?

Perasaan senang saat memiliki semua hal yang terbaru, terkeren, terkini itu hanya perasaan senang sementara. Setelah fase itu lewat, kita akan mencari hal-hal lain untuk membuat kita senang dan fase ini menjadi berulang-ulang terjadi dalam kehidupan kita.

Namun ternyata, ada satu perasaan yang bisa mengubah semuanya, yaitu dengan rasa CUKUP.

Merasa cukup dengan yang apa yang kita miliki saat ini.
Merasa cukup dengan apa yang telah kita dapatkan.
Merasa cukup atas kehidupan kita.

Rasa cukup membuat kita menemukan suatu hal baru yang disebut KEBAHAGIAAN, dan ternyata kebahagiaan ini bukan sesuatu yang semu, yang artinya mampu kita rasakan pada saat ini, esok dan beberapa bulan hingga tahun kemudian.

Ternyata menemukan kebahagiaan bukan hal yang sulit, hanya dengan merasa cukup saja, maka kebahagiaan itu akan dapat kita rasakan.

Jadi, sudahkah kamu merasa cukup saat ini?



The dreamer.
Words of The Dreamer. Theme by STS.