The Numbers.

Selasa, 18 Agustus 2020




Setelah 2 hari meliburkan diri dari dunia blogging dan menghabiskan waktu dengan membaca buku—siapa yang nanya sih, Akhirnya hari untuk aku kembali menulis udah tiba. 

Padahal tangan udah gatel mau nulis dari kemarin-marin, tapi buku Supernova 2 bikin aku nggak bisa berhenti baca sampai selesai 🀣.

✨✨✨

Belakangan ini, aku lagi dibayang-bayangi oleh "angka".

Sedari lahir, manusia udah dihadapkan dengan angka yang dianggap sebagai alat penilaian atau tolak ukur.

Waktu kecil, kita udah diajarkan untuk memanggil orang yang lebih tua umurnya dengan sebutan opa/oma, om/tante, dan kakak/mbak. Di sini, angka sebagai tolak ukur bahwa seseorang harus lebih dihormati jika angka pada umurnya lebih besar dari kita πŸ‘΄πŸ»πŸ‘΅πŸ»πŸ§”πŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ‘¦πŸ»πŸ‘§πŸ».

Memasuki bangku sekolah, kita dihadapkan kembali dengan angka. Angka 100 pada nilai ujian dan rapor adalah angka sempurna, angka yang bagus. Angka yang menandakan seorang anak dikatakan "pintar/jenius", jika nilai ujian dan nilai rapornya lebih banyak angka 100. Sebaliknya, angka 60-0 adalah angka yang buruk. Jika nilai ujian dan rapor lebih banyak diisi dengan angka-angka tersebut, maka seorang anak akan dinilai sebagai "anak malas/bodoh" πŸ˜”.

Memasuki dunia kerja, angka menjadi penentu atas nilai diri kita. Jika kita berasal dari kampus terpandang atau kuliah di luar negeri, maka angka yang kita terima kemungkinan lebih besar dari awal. Dan, angka tersebut akan bertambah seiring dengan kinerja diri di tempat kita bekerja tersebut. Angka di dunia kerja ini yang kemudian disebut dengan gaji πŸ’°

Media sosial juga salah satu tempat dimana kita dihadapkan kembali dengan angka-angka. Bahkan, keberadaan angka pada media sosial ini yang kemudian semakin merusak mental manusia. Angka pada Likes, Comments, Following, dan Followers. Karena sedari kecil kita diajarkan bahwa semakin besar angka maka semakin bagus, maka kemudian ketika muncul media sosial beserta angka-angkanya, hal itu membuat kita terpicu untuk mendapatkan angka yang lebih, lebih dan lebih besar ΰ²₯‿ΰ²₯.

Apalagi ketika kita mendapat angka yang kecil, baik waktu ujian, nilai rapor, gaji, bahkan angka pada media sosial-pun mampu membuat kita merasa bahwa nilai diri kita kecil, jadi membanding-bandingkan diri, dan semakin merasa rendah diri.

Kenapa tiba-tiba aku jadi kepikiran soal "angka"? Karena ada bagian dari blog ini yang berkaitan dengan angka dan cukup mengganggu pikiranku. Angka ini adalah angka pada widget "pengikut" πŸ˜‚.

Waktu pertama kali aku memasang widget ini di blogku, aku nggak sadar bahwa lama-lama hal ini akan membawa pengaruh yang sama seperti kehidupanku di media sosial lain πŸ˜”. Saat angka pada kolom pengikut bertambah, dari 1..3..5..dst, hal itu malah membuatku menjadi rajin mengecek, udah berapa angka hari ini πŸ™„πŸ˜«πŸ€¦πŸ»‍♀️. Sungguh nggak benar. Lama-lama, aku jadi bisa ketergantungan dengan angka-angka ini. Senang ketika angka ini bertambah, sedih ketika angka ini berkurang.

Beruntung, aku segera sadar akan hal ini sebelum terlampau jauh. Sehingga, aku memutuskan untuk menutup kolom tersebut ketika sudah mencapai angka yang udah aku tentukan. Dan, pada hari Minggu kemarin, aku putuskan sebagai hari dimana aku menutup kolom tersebut dari blog ini 😊. Aku tahu, untuk para pembaca, kolom tersebut sangat memudahkan ketika ingin mengikuti suatu blog, hanya tinggal klik-klik dan berhasil lah blog tersebut kita ikuti. Tapi, aku nggak ingin lewat angka ini, di kemudian hari, membuat diriku terfokus dan ketergantungan akan angka sebagai alat penilai bagi blogku dan keberadaan diriku di dunia blogging ini 😊. Aku pun berpikir, para pembaca yang memang ingin keep update dengan tulisan-tulisanku, pasti akan selalu menemukan cara untuk datang kembali ke rumah mayaku ini 😝. So, keputusanku untuk meniadakan widget ini di blogku, aku harap adalah keputusan yang tepat untuk diriku 😁.

✨✨✨

Pada akhirnya, aku hanya ingin mengingatkan bahwa nilai diri kita yang sesungguhnya bukan didasarkan dari angka-angka tersebut. Biarlah orang lain yang menilai diri kita menggunakan angka-angka, tapi kita pribadi harus sadar bahwa nilai diri kita yang sebenarnya itu lebih besar dari apa yang orang lain pikirkan. Kita harus percaya pada kemampuan diri kita, dan kalau boleh mengutip kata-kata kak Karen/kak Eno/Creameno "stay true to yourself" πŸ’ͺ🏻πŸ”₯.


The dreamer.

64 komentar

  1. Kakak dari awal buat blog nggak ada kolom followers, Lia πŸ˜‚ alasannya lebih ke mau minimalis saja blognya. Alhasil nggak banyak blog yang follow kakak πŸ™ˆ hahahahaha. Tapi nggak masalah, kalau memang suka, pembaca akan cari cara sendiri untuk baca karena kakak sendiri always cari cara untuk baca tulisan teman-teman yang kakak suka πŸ˜„

    Bicara soal angka, kita nggak bisa menampik kalau dalam hidup segala sesuatunya diukur dengan angka 😁 namun, sebisa mungkin jangan sampai hidup kita dikendalikan olehnya. Dalam dunia blog sendiri pun ada banyak angka berseliweran. Dari mulai angka followers seperti yang Lia ceritakan di atas, sampai angka komentar, angka viewers, angka DA/PA, spamscore, alexa rank dan angka-angka lainnya. Well, gunakan itu sebagai tolak ukur, tapi jangan digunakan untuk menggantungkan mood dan hidup kita. So, terlepas hasilnya baik atau buruk, kita bisa tetap berkarya 😍 semangat, sayang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malahan sekarang juga ingin mengikuti jejak kak Eno, mau blognya lebih terlihat minimalis juga biar orang-orang lebih fokus ke tulisan dan biar loading pagenya nggak berat >.<

      Ah, benar banget kak Eno! Dan, aku bersyukur juga sih karena angka-angka lain yang kak Eno sebutkan itu tidak langsung muncul di blog, harus diakses dari website lain dulu, sehingga kegiatan untuk "memantau"nya jadi berkurang dibanding jika terpampang secara gamblang di blog kita. Btw, aku selalu berterima kasih karena kak Eno selalu mengingatkan aku untuk menjadi pribadi yang lebih baik <3

      Hapus
    2. Kak Enooo! Padahal aku selalu cari mana sih tombol buat pencet follow blognya kaka! Tapi ga ada dan yes, emg slalu ada cara untuk kembali ke blog yang disukai untuk dibacaa ^^

      Hapus
    3. Betul sekali, mau follow mbak Eno tidak ada tombol followernya, untungnya masih bisa pakai cara lain tapi kadang tetap saja aku ketinggalan karena jarang lihat daftar bacaan di dashboard blogger.πŸ˜‚

      Hapus
  2. Nilai diri kita yang sebenarnya itu lebih besar dari apa yang orang lain pikirkan, aku setuju banget dengan pernyataan ini. Emang tanpa disadari terlalu fokus sama angka like dan pengikut. Jangankan itu, berapa orang yg lihat status ajah sampai dilihat bener-bener. Salah satu cara, aku mematikan mode bacaku di whatsapp supaya nggak fokus saja sama hal-hal yang menurtku kadang malah jadi penyakit hii....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanpa disadari kita jadi terbuai oleh angka-angka tersebut ya kak. Syukur jika bisa menemukan cara untuk mengendalikannya :D
      Selagi kita punya kendali untuk mengendalikan diri membatasi melihat angka-angka tersebut, baiklah kita gunakan sebaik mungkin ya hihihi.

      Hapus
  3. Oh..jadi emang sengaja diilangin ya mbak...?
    Saya pikir kemarin internet saya yang error..tapi emang bener mbak, hidup ini terlalu dipengaruhi sama angka. Ya bagus kita jadi bisa tahu ukuran sesuatu dari angka tapi jika terlalu berlebihan dimana angka jadi sarana untuk membandingan diri dengan orang lain, membandingakan segala hal.rasanya nggak bagus juga.

    Saya inget dulu pernah dicap bodoh gara-gara nilai pelajaran saya sewaktu sd banyakan ndok dadarnyaπŸ˜‚ karena saya kebanyakan baca buku cerita bukannya buku pelajaran. Dan saya bertekad bakalan jadi pinter pas smp nanti. Alhamdulilah lumayan πŸ˜‚

    Saya juga sebel waktu nimbang berat badan dan angkanya 42 yang lain 40. Padahal itu kan nggak gemuk-gemuk amat tapi katanya saya gemuk.. Akhirnya saya coba diet dan itu nyebelin. Begitu juga dengan followers medsos. Sekarang mah saya cuek. Terserah, berat bedan naik, yowis band, followers nggak nambah yowis band juga.

    Yang penting tetep nulis ya mbak lia, saya mampir ke sini tiap hari buat lihat yang baru😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang sengaja aku hilangkan kak Tria >.< Maaf membuat panik *lho
      Benar kak. Aku setuju banget dengan pernyatan kak Tria karena itu juga yang ada dipikiran aku beberapa hari ini.

      Beruntung kakak adalah tipe orang yang ingin memperbaiki diri ya, jadi walaupun dicap seperti itu, nggak mematahkan semangat untuk menjadi lebih baik. Bahkan, beneran bisa memberi pembuktian. Hebat! Pertahankan terus kak sifat "selalu ingin memperbaiki diri" ini :D

      Akhirnya memang kita harus belajar bodo amat, yowis band dan cuek bebek, tutup kuping dengan segala yang buruk ya kak hihihi. Terima kasih udah berbagi kak Tria <3

      Terus menulis juga ya kak, aku juga suka memantau rumah kakak #lho

      Btw, endok dadar pakai bawang merah dan cabai pas dikocoknya, jadi enak lho ya :p

      Hapus
  4. Saya mah, ngga kepikiran ke arah sana. Meskipun saya tutup, tetap saya lihat juga di dasbor blog saya. Jadi mending saya buka saja, selagi widgetnya fungsional yah ngga masalah. Sayapun pernah berada pada fase seperti itu, tapi saya lebih kepada pengunjung. Sekarang, saya menghindari hal yang tidak sehat itu. Saya cuma menulis, mengedit, mempublish, dan sesekali berkunjung ke blog orang dan membalas respon mereka.

    Meski begitu, saya juga tidak naif untuk mengatakan blog tidak mesti dari adsense. Saya merasa, adsense sepertinya lebih baik untuk saya ketimbang endorsment atau tulisan berbayar. Saya punya kebebasan untuk menulis, tanpa mengkhawatirkan ada klien yang tak puas. Setidaknya, saya masih mencari cara agar bisa tembus adsense untuk menutupi biaya domain tahunan saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Rahul, terima kasih sudah berbagi cerita dan insight baru untukku :)

      Aku pun sekarang sudah memasuki tahap awal dari fase Rahul, dimana hanya fokus menulis dan berkunjung. Melupakan semua angka-angka dibalik blog ini. Sesekali ditengok nggak masalah, tapi aku nggak ingin angka tersebut menjadi fokusku. Jadi, semenjak beberapa hari ini, aku mulai tidak melihat dasbor statistikku lagi :D

      Untuk bisa tembus adsense, katanya para master, isi konten itu pengaruh utama. Semoga Rahul bisa segera tembus Adsense ya :)

      Hapus
  5. Ohhhh.... gitu yah.... :-P

    Setidaknya, dengan hilangnya widget follower, loading blog akan lebih cepat sepersekian detik... wakakakaka...

    Memang benar Li, kadang manusia kecanduan statistik. Jadi moodnya mudah terpengaruh oleh naik turunnya angka yang berhubungan dengan dia.

    Kalau saya sendiri, widget follower, statistik memang tidak pernah dipasang di blog manapun. Saya tidak melihat fungsinya. Mungkin saya idealis, sejak awal saya mikir tanpa widget itupun, kalau memang ada yang suka dengan tulisan saya, dia akan mencari dan menemukan.

    Buat saya, langkah Lia bagus dan jujur saja.. blognya lebih enak dilihat, sederhana, tidak banyak pernak pernik yang tidak perlu...hahahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyiahahha kak Anton iseng bangettt sih!

      Iya lho, aku merasakan loading blog aku jadi hampir secepat superhero Flash yang larinya kencang itu, tapi ujung-ujungnya tetap tergantung pada kecepatan internet juga sih >.<

      Tumben sekali kak Anton sepakat dengan apa yang aku ungkap. Boleh aku foto komentar ini sebagai kenang-kenangan? Wkwkwk.

      Aku-pun dari awal tidak ada niat memasang statistik di blog, walaupun tetap ngecek di dashbor #plakk. Namun, sekarang, perihal sering ngecek di dashbor-pun ingin aku tinggalkan. Semoga bisa konsisten kedepannya.

      Asik!! Udah lebih bagus ya tampilannya. Terima kasih banget atas pujiannya kak :P
      Fix banget komentar ini mau di screenshot rasanya, karena jarang-jarang dipuji kak Anton nyiahahaha.

      Hapus
    2. Udah discreenshot belum...? wkwkwkwkw

      #Cuma mau nanya itu..

      Hapus
    3. Belummmmm. Aku menunggu tanggapan dari kak Anton dulu, baru akan aku screenshot xD
      Soalnya aku takut kena UU ITE kalau screenshot diam-diam wkwkwk

      Hapus
    4. Sono screenshot buruan... hahahaha.... yang banyak yah, jangan cuma satu.... kalau bisa 1000..

      Hapus
    5. Siap bosss! Kalau sampai 1000 sih nanti memoriku penuh kak :p

      Hapus
  6. aku dulu juga gini hahahah tahun berapa ya sekitar 2015-2016 deh, habis gitu stres sendiri dan akhirnya yaudah sih bodo amat sama angka-angka followers, like, subscribers, views, dll.
    yang masih sering dipikirin sih angka nominal gaji ya HEHEHEHEHEHEHE.

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHAHAHA kalau nominal gaji sepertinya sulit untuk di-bodo-amat-kan kak Endah 🀣

      Hapus
  7. Hi mba Lia, setelah beberapa kali diam-diam baca postingan di sini, akhirnya saya beranikan diri buat komen, hehe.

    Ngomongin soal angka di medsos, saya tidak terlalu main medsos mba, saya jarang main IG dan saya juga tidak main Twitter. Jadi, saya tidak begitu peduli sama followers di medsos saya.

    Trus ngomongin pengikut di blog, saya baru tahu kalau namanya widget. Niat awal saya ngeblog itu memang untuk suka-suka, nulisin apapun yang saya mau kalau ada sesuatu yang ganggu bnget di otak. Awal mula saya dapat komen di blog itu gara-gara ninggalin sebuah komen di blog seseorang, padahal selama ini saya mati-matian jaga blog saya biar cuman saya doang yang baca, haha.

    Saya nggak tahu kalau itu namanya ternyata blogwalking, hal itu juga yang membuat saya jadi silent reader di kebanyakan blog, karena takut kalau ninggalin komen nanti di kunjungi balek, maluuuu, haha. Apalagi bloggers senior. Kok saya jadi curhat sih.

    Betewe salam kenal mbaa Lia πŸ˜‡πŸ˜‡

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo kak Sovia, terima kasih karena udah memutuskan untuk meninggalkan jejak di sini. Pilihan yang tepat sekali 😝 salam kenal ya πŸ‘‹πŸ»

      Widget itu sebutan untuk elemennya kak 😁
      Nggak apa banget kalau mau curhat dimari, aku sangat welcome karena bisa jadi insight baru buat aku dari sudut pandang yang berbeda 😍
      Btw, kalau suka overthinking memang lebih bagus untuk dicurahkan apa yang ada dipikiran dan biasanya lewat tulisan itu sangat membantu πŸ€—
      Nggak usah khawatir dan malu, toh tulisanku juga nggak bagus-bagus amat dibanding senior lainnya huahahah. Tapi, aku ingat kata salah satu master, sebut saja namanya kak Anton 🀭 kalau menulis, menulis aja, cuek aja, blog-blog gue ini 🀣

      Semoga kak Sovia jadi lebih percaya diri juga dengan tulisannya 😁πŸ’ͺ🏻

      Hapus
  8. Kalo di wp ini emang nggak nggak kayaknya kolom pengikut gitu, cuma statistik yg muncul itu aku juga sembunyiin. Acuannya nanti ngelihatnya ke kuantitas diri, kenaikan jumlah pembawa, dan bandingin sama statnya orang lain. Kerasa sih, kita buat kompetisi lewat angka2 itu sendiri, kita yg ribet jadinya yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak Ghina. Aku takutnya nanti cenderung mengarah ke arah sana, malah ngerasa berkompetisi dan jadi bahan perbandingan sana sini. Jadi, segala angka yang bisa dilihat oleh publik, lebih baik aku matikan. Sedangkan yang ada di dashbor, nggak akan sering-sering aku tengok. Biarlah semua yang terjadi, terjadilah~ 😝🀣

      Hapus
  9. Mirip juga sepertiku mbak
    Ketika di blog, sering ngecek udah berapa yang baca, udah berapa yang komen.
    Pun di IG juga seperti itu. Sering lihat udah berapa yg like, komen and share.. kwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahaha selama nggak membawa kesan negatif atau mempengaruhi mental, nggak masalah kalau sering dilihat. Yang masalah, kalau hal tersebut malah jadi alat pembanding dll yang membuat diri merasa rendah dan kecil 😫
      Semoga kak Dodo nggak mengalaminya ya πŸ™πŸ»

      Hapus
    2. Siappp mbakk πŸ˜€πŸ™

      Hapus
  10. Suka sekali pemikiran Lia yang ini. Aku termasuk ‘korban angka’ banget dan asli itu gak enak. Bikin mikirin orang lain terus. Makanya aku juga udah gak main instagram sama gak pernah cek daily visitor di blog hihihi. Terima kasih remindernya ya Lia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaaa terima kasih kak Justin, jadi malu 🀭
      Btw, aku juga nggak main instagram. Toss dulu lah 🀣
      Sama-sama kak! Semoga kita tidak lagi menjadi korban angka dan korban dalam hal-hal lainnya πŸ€­πŸ™πŸ»

      Hapus
  11. Wah, sampai hapus widget follow. Dulu saya sering juga bermasalah dengan angka. Sejak SD-SMP saya sering juara 1 di kelas, dan sombongnya minta ampun. Tapi pas SMA saya mulai tidak peduli lagi mengejar angka, soalnya kurang penting buat dikejar. Kalaupun dapat angka bagus, ya anggap saja bonus.

    Di blog saya views pengunjung juga masih sepi, followersnya juga masih dikit, tapi tetap disyukuri. Ada 1 views juga gak masalah, syukuri aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih baik jadi pribadi yang seperti itu kalau menurutku. Tetap berusaha tapi tetap bersyukur ketika mendapat angka berapapun. Dan ketika mendapat angka yang besar sekali-pun, harus tetap rendah hati 😁

      Hapus
  12. Liaaaa betul sekaliiihhh
    kita slalu dihadapkan dengan angka-angka dan selalu harus berpacu agar dapat angka yang baguuuss. Ga nilai rapot, nilai IP, nilai gaji, like, follower, dll
    Tapi makin ke sini main sosmed, aku pun jadi bodo amat sama follower dan like... Bahkan uda jarang juga ngepost-ngepost di sosmed dan lebih focus ke blog aja buat curahin hati..Cuma memang aku ga bisa bohong saat liat angka pendapatan via ad-sense tuh gregetan ihihihi tapi slalu mikir, ini buat tabungan kecil-kecilan aja kokkk
    bisa dapat uang dari hal yang disukain itu adalah bonuuus
    gitulah supaya menyemangati diri dan bukan focus nulis untuk dapat uang hahaha jadi kalau dapat uang ya itu bonus aja gituuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul ci, aku juga nggak munafik kok, angka pendapatan ad-sense itu lumayan kalau memang diserius-in dan bisa dapat uang dari hal yang disuka itu adalah bonus banget 😁
      Aku juga setuju, memang balik lagi ke tujuan ngeblog bagi masing-masing orang, tapi aku pun sama seperti cici, ingin fokus menulis bukan fokus mencari uang. Kalau memang nantinya bisa dapat, ya bonus 🀭
      Thank you for sharing ci Frisca πŸ€—

      Hapus
    2. yesss! Sama-sama Lia!! Ayo kita rajin nuliissss! Hehehe

      Hapus
  13. Iya loh, padahal cuman sebuah angka yah tapi bisa bikin ketergantungan untuk kita pemakainya. Dalam dunia apapun itu, nilai sekolah, gaji, patokan akreditasi kampus, dan apapun itu.

    Dari awal aku main di dunia blog, dari belum ngerti tentang widget follow sampai akhirnya paham, aku jadi terbawa arus angka dari widget follow di blog, semakin bertambah angkanya aku jadi semakin senang. By the way salam kenal ya ka Lia, aku Nana^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Nana, salam kenal πŸ‘‹πŸ» sering-sering mampir ke sini ya 😝

      Hahaha it's okay, asal jangan sampai mental jadi terpengaruh melihat pertumbuhan angka yang naik turun. Takutnya nanti kalau angkanya turun, malah jadi sedih, kecewa dan uring-uringan πŸ˜‚

      Hapus
  14. Aku jadi salfok, mba Eno itu nama aslinya Karen? 😬

    Kalau ngomongin soal angka, mungkin sebenarnya buat mempermudah juga kali, ya...

    Kalau ga ada angka, ntar ribet kalau mau belanja, ga ada tolak ukur yg pas buat harga dan ukuran. Mau janjian pun jadi ribet, karena ga ada ukuran waktu. Gitu juga dengan kerjaan, deelel, deesbe

    Pada akhirnya, angka itu cuma alat bantu. Yang penting gimana kita menggunakannya aja, IMO 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyiahahaha bukan kak Hicha. Nama Karen itu nama pena yang dikasih sama kak Satria 🀭
      Nama asli kak Eno masih misteri kok 😝

      Yes, benar banget! Terima kasih atas insightnya kak Hicha 😍
      Memang intinya kembali lagi kepada pribadi masing-masing tentang bagaimana cara menyikapinya dan mengendalikan diri 😁

      Hapus
  15. Untung udah follow Lia duluan sebelum dihapus widget follow nya. Jadi aku tetep bisa gampang lihat update terbaru Lia lewat daftar bacaan deh. Hehehe.

    Aku sebenarnya gak terlalu berfikir sejauh itu sih, Li. Soalnya menurutku widget follow penting banget buatku kalau aku ingin tau update terbaru blog yang aku sukai. Jadi aku tetap mempertahankan widget follow itu juga untuk mempermudah viewer buat tau update terbaru blogku. Walaupun sebenarnya gak ada yang ngepoin blogku juga sihπŸ˜…πŸ€£πŸ€£πŸ€£.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahaha terima kasih udah follow aku lho kak Roem, sangat berarti buatku 😍

      Besok-besok kalau nggak nemu tombol follow di blog orang lain, bisa input url blognya secara manual di dashbor reading list kak Roem jadi masih tetap bisa ikutin blog tersebut 😁
      Btw, aku memang merasakan kemudahan karena adanya widget pengikut ini pada suatu blog tapi untuk blogku, aku bikin susah dikit deh kalau mau ikutin post aku. Biar ada tantangannya gitu bagi para pembaca eaaa wkwkwk

      Hapus
  16. Lia seperti biasa yaaa insight-nya menarik :D

    Memang sih bener, walaupun kita emang ga niat buat mikirin angka follower tapi kayaknya kalo berkurang tetep bikin kepikiran "yaah kok ada yang unfollow sih, blog aku ga menarik apa gimana" gitu kan yaa? Ahahaha... Dulu aku suka nge-list blog-blog yang aku suka tapi enggak bisa difollow atau pakai platform sebelah haha, sekarang ga serajin itu tapi yaa kalo bener sih, kalo memang kita suka pasti ada alasan buat nyari blognya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Eya, bisaan aja :p Terima kasih ya!

      Ah! Benar banget! Itu yang aku takutkan terjadi di masa depan. Takut ketika melihat "angka" itu menurun, aku jadi sedih dan kecewa sendiri >.<
      Betul sekali. Bisa dengan berbagai cara yang ditempuh untuk kembali ke blog yang disuka, seperti kata pepatah "banyak jalan menuju Roma" eaa :p

      Hapus
  17. Untung aku udah follow kamu Mbak Lia..
    Soalnya di aku ini sangat membantu kalau teman-teman blogger update, jadi nggak ketinggalan cerita-cerita seru kalian.

    Tapi di satu sisi aku salut Mbak sama keputusanmu, karena aku akui aku sampai saat ini, secara psikologis masih agak terpaku dengan angka. Btw, ini nggak hanya berlaku di blog tapi media sosial juga. Cuman kalau sekarang nggak parah, karena udah main solo, suka-suka hati aja khususnya ngeblog. Karena masih bisa ditoleransi olehku, I'm OK

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi terima kasih ya kak Pipit :D
      Oiya, ada cara lain buat ikuti teman-teman yang tidak menyediakan widget pengikut pada blognya lho. Caranya manual, masukin url blog teman tsb pada dashbor "daftar bacaan". Siapa tahu cara ini membantu jika sewaktu-waktu mau follow blog tertentu yang tidak ada tombol follownya hihihi.

      Jangan sampai angka-angka ini memberi dampak negatif bagi mental ya kak. Semoga kita bisa selalu mengendalikan diri terhadap dampak dari angka-angka ini ya kak :D

      Hapus
  18. Ya ampun bener banget mbak, saya jadi teringat diri sendiri sih. Jangankan angka di followers blog, angka yang komen saja kadang sring menghantui. "Ada yg komen gk ya?"

    Pas angka followers naik, kayak ajaib gitu, langsung deh senyum-2. Terus mikir, siapa ya yang follow. Tapi yaudahlah, seiring dengan berjalannya waktu saya kadang lupa. Kadang inget juga sih wkkwk

    Ah terserah bodo deh :(
    Hidup kita selalu terikat angka yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi kak Reskia!
      Hahaha memang benar sih, kalau lihat angkanya bertambah pasti senang dan senyum-senyum sendiri :P

      Betul. Hidup kita terlalu dikelilingi dengan angka-angka >.<
      Jangan sampai aja angka-angka ini membawa dampak negatif bagi mental kita :D

      Hapus
  19. Sepakat bangeeeet nih. Hidup kita, bahagia kita nggak ditentukan dr angka2 tersebut. Aku juga pernah begitu mbak, sering mengecek pengikut, udh berapa, dll. Tp makin kesini makin bodo amat, toh niat ngblog memang cuma untuk suka2 hhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukur banget kak kalau udah bisa lebih bodo amat dengan hal-hal ini :D
      Memang semua kembali lagi ke niat dan tujuan awal kita khususnya dalam hal ngeblog ya. Kalau memang untuk senang-senang, rasanya nggak harus terlalu memperdulikan angka-angka ini ya. Dan, hati pun jadi lebih tenang ketika kita bodo amat hihihi.

      Hapus
  20. Betul liii, kadang angka jadi tolak ukur pencapaian diri. Merasa banyak yg follow kesannya "wah" gituu. Padahal kuantitas belum tentu menunjukkan kualitasnyaa.

    Makasih atas insightnyaaa li ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi ciiii. Betul sekali. 1 kalimat komentar dari cici, merangkum keseluruhan isi tulisan aku nih, "kuantitas belum tentu menunjukan kualitasnya"
      Terima kasih banyak ci Devinaa :DD

      Hapus
  21. Kalo angka2 yg terkait dengan blog , jujurnya aku ga terlalu paham, dan ga pengen juga cari tahu :D. Makanya waktu temen2 blogger banyak bahasa DA, PA, Alexa dll itu, aku jujur cengok ga ngerti. Ngerasa kok blogging jd ga nyaman kalo ditentuin Ama itu semua. Apa nulis dan update blog bakal bisa sesantai dulu :D.

    Aku pgn ttp menulis sesuai hati dan opiniku. Makanya ga terlalu mampu terikat Ama semua angka2 td. Blog temen2 yg ada bagian follow blog, jujurnya ga prnh aku liat, Krn patokanku, kalo udah suka dengan blog seseorang, aku pasti slalu balik kok mba :D. Ga perlu follow2 blognya segala. Toh aku BW tiap hari, dan srg ngecekin ke blog2 kesayangan apa ada update an di hari itu :D.

    Eh tp kalo mayoritas di beberapa bidang, semakin besar angka, artinya semakin bagus, di kantorku dulu malah sebaliknya Li :D.performance staff dinilai dari angka juga, tp angka terbaik itu angka 1 :D.

    Trus level posisi karyawan juga dinilai dari angka. Yg tertinggi kalo sudah mencapai band 1. :D. So, ga semua yg besar itu berarti bagus kalo di kantorku hihihi.. ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha aku akan ikutan cengok juga sama kak Fanny karena nggak ngerti juga akan hal itu. Sesekali pernah lihat tapi bingung juga karena banyak banget istilahnya kak >.<

      Betul. Menurutku juga demikian kak, menulis nggak bisa sesantai dan se-menyenangkan ini jika terpaku dengan angka-angka tersebut.
      Mungkin kak Fanny bisa berbagi tips, bagaimana cara kak Fanny ngelist blog teman-teman yang akan di BW :D
      Jadi, teman-teman bisa dapat rekomendasi cara "follow" selain mengklik tombol follow pada widget pengikut.

      Wih, jarang-jarang ada yang menerapkan angka kecil sebagai yang terbaik ya kak :D
      Tapi rasanya malah lebih menantang pasti, karena mungkin semakin sedikit yang bisa mencapai angka tersebut ya.

      Hapus
    2. Kalo caraku, yg pasti semua yg komen di aku, bakal aku buka dulu blognya, jd aku ga bakal lupa BW ke situ :D. Makanya tujuan aku moderasi komen, sbnrnya supaya bisa klik blog temen2 yg udh mau repot2 komen di aku :D

      Kalo liat dr email siapa aja yg komen, jujurnya pusing, aku LBH suka caraku td.

      Trus tiap hari aku slalu cek juga temen2 yg update blognya di beberapa komunitas FB. Kalo memang aku tertarik Ama temanya, pasti aku klik suka, dan baca blognya. Jd kalo blm aku klik jempol, berarti blm aku liat :p.

      Kalo utk cek blog2 kesukaanku apa udh update ato blm, itu mah udh apaaal hahahaha. Pasti lama2 jd tau link blog2 fav , tanpa harus aku follow lagi :D. Maklum Li, apalagi aku skr di rumah saja, jd waktu luang makin banyak untuk begini hihihi..

      Hapus
    3. Wiiihhh, terima kasih banyak kak Fanny atas sharingnya πŸ˜πŸ™πŸ»πŸ€—
      Ada beberapa cara yang sama seperti yang aku tempuh juga nih, contohnya yang BW dari kolom komentar. Aku juga gitu 🀭 toss dulu ah kak πŸ™ŒπŸ»πŸ˜‰

      Hapus
  22. Iya lho, kadang angka2 itu memang bikin kepayahan mengejarnya. Memang tidak bisa dihindari sepenuhnyaku juga sih, misalnya angka di rekening bank hahaha.

    Sejak awal di blogku, aku bikin sesimpel mungkin, Lia. Karena aku juga suka pusing kalau mampir ke blog yang ramai banget. Jadi pengennya blog aku yg bersih aja. Gampang dibaca. Gampang dicari menunya. Semoga udah begitu ya blogku hihihi.

    Dan terbukti kan, aku selalu cari blognya Lia lho kalo lagi BW 😎 Soalnya suka, topiknya sederhana tapi bikin pengen komentar ☺ bukan maksudnya area julid ya hahaha, maksudnya topiknya menarik untuk dikomentari πŸ€—




    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha kalau angka rekening di bank lebih bikin mood naik turun kak!

      Jika itu niat kakak, maka sudah tercapai, karena menurutku semua aspek yang kak Tika sebutkan di atas, sudah terpenuhi semua di dalam blog kakak yang ada sekarang ini :D

      Nyiahaha terima kasih banyak kak Tika <3 Aku terharu lho bacanya :') Jangan pernah bosan untuk mampir ke sini ya kak! :)

      Hapus
  23. Dari kecil memang sudah dikenal sama angka angka ya. Misalnya dikasih duit sekian, terus nilai raport nya sekian. Aku sering dimarahi kalo dapatnya nilai 40.πŸ˜‚πŸ€£

    Oh tombol follow nya dihilangkan biar ngga terlalu terbebani ya mbak, jadi mau naik ataupun turun kita ngga terlalu pusing. Tapi kalo tambah banyak kan senang.πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau waktu kecil sekali, malah selalu senang ketika dikasih duit apapun, iya nggak kak? 🀣
      Huahaha abis dimarahi, masih suka dapat jelek nggak?

      Betul sekali. Aku lebih senang kalau lihat kehadiran kak Agus dan teman-teman lainnya di blogku 🀭

      Hapus
  24. Kak Liaaa, kayaknya persoalan angka ini relate untuk semua org deh, minimal untuk persoalan nilai di sekolah😒. Sejujurnya alasan aku berhenti main medsos dan buka bener2 seperlunya aja (itupun sekadar lewat web), karena si angka ini. Terbiasa dapet angka yg lumayan besar bikin aku seringkali kecewa kalau insightnya makin kesini makin kecil. Makanya memutuskan buat caw! Eh setelah main di blog, lama kelamaan jadi terpengaruh sama angka juga setelah dipikir-pikir, padahal awalnya blog ini jd salah satu self-healing aku dari medsos☹️. Benar2 hidup kita gak bisa lepas dari angka ya. Kayaknya aku harus stop buat bolak balik cek statistik deh mulai dari skrg, walaupun cuma reflek:(

    Thx untuk remindernya lho kaaakπŸ€— xx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa Awl, semoga bisa terlepas dari ketergantungan mengecek angka-angka ini ya. Kalau sampai mempengaruhi mood begitu, rasanya udah nggak benar deh. Untuk keputusan Awl mengendalikan penggunaan medsos sebutuhnya saja itu adalah tindakan yang tepat sekali πŸ‘πŸ»
      Semangat ya Awl! Semoga kedepannya, angka-angka ini nggak mempengaruhi jati diri Awl yang sesungguhnya ☺️πŸ’ͺ🏻

      Hapus
  25. Eh iya juga ya.
    Kok saya nggak nyadar? :D
    Bener banget, angka itu bahkan udah jadi tolok ukur sejak masih jadi janin :D
    Kalau usia segini, besarnya kudu segini, pas lahir beratnya kudu segini.
    Daaann seterusnya sampai mau mati pun, ada lagi angka, sampai usia berapa kita tutup usia hahahaha.

    Dan betul banget Lia, saya dulu tuh yang sering jadi problem adalah pelototin jumlah PV blog sendiri saat saya masih pasang statistik pengunjung, akhirnya saya putuskan dihapus aja. :D

    Kalau follower juga iya ya, sayapun, meski kadang nggak nyadar sih kalau berkurang, setahu saya nggak berkurang, atau saya nggak ngeh kali ya? :D

    Follower medsos juga, saya parno kalau kurang dari 10K, soalnya suip ap nya takut hilang huhuhu.

    Duh ya, pada akhirnya hidup kita kayak dikontrol angka, memang jalan-satu-satunya tetap menjadikan angka-angka tersebut jadi sebuah hal menyemangati kita dan bikin kita selalu terpacu dalam arti yang positif :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, benar juga. Bahkan dari masih berbentuk janin aja, kita udah dihadapkan dengan angka-angka sebagai tolak ukur ya kak πŸ˜‚

      Sepakat sama kak Rey. Pada akhirnya memang kita yang harus mengendalikan diri dengan menjadikan angka-angka tersebut memberi arti yang positif bagi kita. Kalau belum sanggup seperti itu, mending jangan dilihat dulu deh kalau bisa πŸ˜‚

      Hapus
  26. stay true to yourself, setujuuu
    selama aku ngeblog sampai sekarang, aku nggak pernah sampe fokus ke arah angka-angka pv dll, dari dulu nggak aku munculin, karena emang ga begitu paham juga maksudnya waktu itu, dan kalaupun di theme blog aku sekarang muncul, karena codingan otomatisnya sudah begitu dari teknisinya dan aku nggak ikutan utak atik
    yang penting nulis aja di rumah maya masing-masing. ngintip dari pepatah orang orang "apalah arti sebuah angka". tapi kalau soal nilai pelajaran di sekolah dulu, angka jelas berarti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren kak Ainun bisa seperti itu! Tetaplah menulis tanpa terfokus ke angka-angka tersebut ya kak πŸ’ͺ🏻
      Semangat terus menulisnya 😍πŸ’ͺ🏻

      Hapus
  27. Kok aku terlewat postinganmu yang ini yaa, Lii? πŸ€”

    Tau nggak, aku baru menemukan momok angka yang baru setelah menjadi ibu: berat badan anak πŸ™ˆ awalnya aku sibuk mengejar angka ini karena merasa tersaingi dengan ibuk-ibuk yang punya anak montok dipost di sosmed. Sampai akhirnya aku ngerasa perbuatanku nggak bermakna sama sekali, yang ada jadi toxic untuk anakku sendiri 😭 sekarang udah tobat sih, nggak mau lagi kayak gitu. Yang penting Josh sehat dan angka pertumbuhannya sesuai kurva, udah cukup buatku.

    Btw, sejak awal aku suka dengan tampilan blog kamu, Liaa. Minimalis dan bersihhh. Warnanya juga pastel, nggak silau di mata 😍 apapun keputusanmu, yang penting tetap semangat berbagi di sini yaa, Li! πŸ€—

    BalasHapus
    Balasan
    1. It's okay , ci! Reading list blog memang suka nggak up-to-date. Aku-pun suka ketinggalan post teman-teman 😭

      Huaaa aku sering dengar curhatan para mommies mengenai hal ini nih πŸ˜₯ kalau udah masuk jurang ini, aku jadi khawatir juga akan kesehatan mental mommy-nya. Puji Tuhan, ci Jane segera sadar dan kembali ke jalan yang benar ya 😁
      Memang sebenarnya yang terutama adalah kesehatan sang anak, dan kewarasan sang ibu 🀣 Ci Jane, semangat selalu ya πŸ’ͺ🏻

      Terima kasih banyak cici 😍 baca hal seperti ini, jadi lighten up my mood πŸ˜†
      Cici juga jangan pernah lelah berbagi di blog ya - dari bucin Jane From The Blog 🀭

      Hapus