Eps.6 : 2 Girls, 1 Thriller Book.

Nggak kerasa udah akhir bulan Februari aja, yak πŸ˜‚. Apalah arti akhir bulan tanpa ditemani oleh postingan JanexLia? Hiya hiya 🀣.

 

Di bulan Januari kemarin secara nggak sengaja, aku dan Ci Jane membaca 2 buku bergenre thriller yang sama di waktu yang berdekatan πŸ˜‚. Entah ini yang dinamakan koneksi batin atau memang semesta sedang mendukung aja, sebab biasanya genre bacaan kami sangat berbeda bagaikan dua kutub magnet 🀣. Buku thriller yang kami baca kali ini berjudul Rumah Lebah dan Penance. Terima kasih kepada Kak Reka yang udah meracuniku dengan buku Rumah Lebah 😘. Aku sukaaaa banget sama bukunya πŸ˜†. Di tulisan JanexLia kali ini, selain membahas buku thriller yang telah kami baca, kami juga menambahkan semacam QnA dengan jawaban yang diambil dari perspektif kami. Hal ini teinspirasi dari label Perspektif Majemuk di blog Rahul 😁. Terima kasih udah menjadi inspirasi kami, Hul πŸ™πŸ»


Nah, buku yang akan aku bahas kali ini berjudul Penance yang ditulis oleh Minato Kanae. Yang katanya buku psychological thiller yang sadis πŸ™ˆ, sedangkan untuk Rumah Lebah akan dibahas di tulisan Ci Jane. Jangan lupa meluncur ke sana, ya! 😘


✨🧚‍♀️🀸🏻‍♀️



Penance sendiri jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Penebusan Dosa, which is memang isi dari buku ini adalah cerita tentang penebusan dosa dari 4 orang anak yang menjadi saksi pembunuhan teman sepermainan mereka.

 

Diceritakan sekitar 15 tahun lalu, saat 5 orang anak perempuan bernama Emily, Sae, Maki, Akiko dan Yuka sedang bermain di lapangan sekolah saat hari libur. Tiba-tiba seorang lelaki dewasa yang asing datang menghampiri dan mengaku sebagai tukang service yang ingin memperbaiki kipas di gedung belakang sekolah. Lelaki tsb meminta tolong bantuan salah satu dari 5 anak perempuan itu untuk naik ke pundaknya dan bantu melihat kondisi kipas yang tinggi. 

 

Saat 4 orang anak lainnya memberi diri untuk membantu, namun si lelaki dewasa malah memilih Emily yang tidak mengajukan diri sama sekali. Lalu, si lelaki membawa Emily ke gedung tsb dan menyuruh ke-4 anak lainnya menunggu di lapangan dan dijanjikan akan dibelikan es krim nantinya. Setelah lama sang lelaki dan Emily tidak kunjung kembali, akhirnya ke-4 anak lainnya datang menghampiri gedung tsb. Sayangnya, mereka menemukan Emily udah rebah di lantai dalam kondisi meninggal dunia 😱. Dan ternyata, Emily menjadi korban kekerasan seksual dari lelaki asing tsb 😭. Sayangnya, ke-4 anak lainnya yang menjadi saksi kunci dari kejadian ini mengaku bahwa tidak mengingat sama sekali muka dari sang pelaku dan hal ini membuat ibunda Emily marah besar serta mengultimatum ke-4 anak yang berumur 10 tahun itu untuk segera menemukan pelakunya atau ganti rugi dengan cara yang bisa diterimanya, atau sang ibu akan melakukan balas dendam.

 

Buku ini kemudian dibagi menjadi beberapa bab yang masing-masing bab-nya diceritakan dari sudut pandang setiap anak yang menjadi saksi mata kejadian, serta diakhiri dengan cerita dari sudut pandang ibunda Emily. Akibat dari peristiwa tersebut, ternyata secara tidak langsung meninggalkan bekas yang begitu dalam pada psikis ke-4 anak itu hingga mereka dewasa 😭. Dan, luka psikis yang mereka miliki itu mendorong mereka melakukan hal-hal sadis berdasarkan halusinasi mereka akan pelaku pembunuhan dan halusinasi ingin menolong Emily 😭.

 

🀸🏻‍♀️✨

QnA Time!


1. Apa yang paling kamu suka dari novel ini?

 Jane :

Kalau biasanya penulis hanya memakai sebuah sudut pandang tertentu, Minato Kanae memakai sudut pandang masing-masing dari keempat tokoh utama, di mana semuanya adalah perempuan dan yang tertuduh sebagai pembunuh teman main mereka semasa kecil. 

Karena keempat tokoh ini mempunyai latar belakang dan sifat yang berbeda-beda, pembaca bisa merasa lebih memahami apa yang sebetulnya mereka rasakan saat menemukan jasad Emily di kamar mandi dan dampak kematian tersebut pada mereka saat beranjak dewasa. Sedih dan miris banget, mengingat saat peristiwa itu terjadi mereka masih duduk di bangku SD huhuhu.
 
 
Lia : 
penggambilan cerita yang diangkat dari sudut pandang setiap tokoh membuat cerita dari buku ini menarik πŸ˜†. Pembaca jadi bisa ikut merasakan bagaimana perasaan setiap tokoh dan hal apa aja yang telah mereka lalui setelah kejadian pembunuhan tsb sampai bisa membentuk karakter mereka di masa kini.


2. Apakah ada pertanyaan yang tidak terjawab di dalam cerita, yang membuatmu kamu penasaran setengah mati?

Jane :

Apa yaaa... sepertinya nggak ada, deh. Semua misteri terjawab sampai akhir buku kok. Hanya aku sempat berandai-andai kalau aja penulis menambahkan sedikit POV Emily, karena sepertinya kehidupan pribadi anak ini juga ‘spesial’. Mamanya aja kayak gitu, penasaran anaknya tuh ada pemikiran apa nggak ya? *buat yang paham dan udah baca bukunya aja*
 

Lia : 

karena tidak dijabarkan di dalam buku, aku jadi penasaran bagaimana bisa pelaku pada akhirnya tertangkap, lalu apakah pelaku tahu mengenai asal-usul korban, lalu bagaimana dengan nasib semua tokoh pada akhirnya. Aaaak, tolong bantu aku menjawab ini semuaaa 🀣.

 

3. Tiga kata untuk mendeskripsikan novel ini.

Jane : 

Dark, sad, tragic. Jangan terkecoh dengan sampul bukunya yang colorful dan ada penampakan boneka teddy bear, ya. Btw, itu merupakan simbol. Kalian akan paham saat membaca bukunya.
 
 

Lia : 

emosional, sadis, menarik. Menarik karena penyuguhan cerita yang diambil dari setiap sudut pandang membuat pembaca jadi bisa menyelami bagaimana perasaan setiap karakter yang ada.


4. Apakah kamu terkejut setelah membaca akhir ceritanya? Kenapa? 

Jane :
Iya dan tidak HAHAHA. Nggak terlalu terkejut, karena sejak awal udah curiga dengan salah satu tokoh yang ternyata berhubungan dengan pelaku. Cukup terkejut karena aku kira pelakunya random people, ternyata nggak.

Lia : 
Agak terkejut mengetahui fakta siapa sebenarnya sang pembunuh Emily 😱. Dan setelah mengetahui fakta ini, aku jadi semakin merasa kasihan dengan Emily 😭.
 
 

5. Berapa rating yang kamu berikan untuk buku ini? 

Jane :  
4/5 deh! Meski nggak sekeren, se-mindblowing, se-sakitjiwa Rumah Lebah 
yang kubaca sebelumnya, Penance adalah sebuah karya thriller yang cukup 
memuaskan.

Lia :  
3.5/5 ✨. 
Mungkin karena aku udah baca Rumah Lebah terlebih dahulu, jadi buku Penance ini kurang berasa gregetnya πŸ˜‚. Namun, meskipun demikian, aku tetap masih menikmati ceritanya 😁.

 

✨🧚‍♀️🀸🏻‍♀️


Secara keseluruhan, konsep cerita buku ini menarik karena pembaca diajak untuk menyelami perasaan setiap karakter yang ada, bagaimana sebuah kejadian pembunuhan dapat meninggalkan bekas yang begitu dalam bahkan sampai belasan tahun kemudian 😭 dan bahkan trauma masa lalu itu mampu membuat para saksi mata jadi kalap melakukan sesuatu karena terbayang-bayang akan kejadian itu 😭.

 

Kalau dipikir-pikir, memang ngeri banget jadi saksi mata suatu kejadian, apalagi dalam cerita ini, para saksi mata adalah anak kecil berumur 10 tahun. Kebayang nggak sih betapa besar dan dalam luka psikis yang dialami mereka? Pasti besar dan dalam sekali 😭. Bahkan sebenarnya, luka psikis anak-anak ini juga bisa terjadi ketika mereka melihat papi dan mami-nya berantem di depan mata mereka huhu. So, please, jangan pernah berantem di depan mata anak-anak ya, gaes 😭.


Jika teman-teman penyuka genre buku psychological thriller, boleh banget dipertimbangkan untuk membaca buku ini, lho~ tapiii, kalau bisa sih baca buku Penance dulu sebelum Rumah Lebah agar rasa gregetnya tetap dapat πŸ˜‚ sebab Rumah Lebah itu terlalu intense gregetnya, jadi kalau baca Rumah Lebah duluan, Penance jadi rasanya biasa aja, gaes πŸ˜‚. Oiya, pertanyaan-pertanyaan di atas, diambil dari sini.



Teman-teman, ada yang udah baca Penance?
Atau ada yang berminat untuk baca Penance?
Let me know!
 

50 komentar

  1. Wkwkwk iya yaa bacaan kita yang biasanya berseberangan, bisa-bisanya kali ini kita baca buku yang sama. Nggak satu, dua malah hihi. Thanks to Liaaa yang udah minjemin buku Penance juga! 😘

    Makasih juga sama Mas Rahul yang sudah memberikan inspirasi :D

    Sebetulnya kalau dipikir ulang, Penance dan Rumah Lebah sama-sama dark, karena perspektifnya dari anak kecil. Bedanya di Penance diceritakan saat anak-anak tersebut beranjak dewasa. Tapi tetep ajaa, waktu mereka menceritakan kisah masa kecil pasca pembunuhan Emily, rasanya nyessss banget 😭 bener deh yang kamu bilang, luka masa kecil itu sulit disembuhkan kalau udah terlanjur 'dalam' hiks

    Rating kamu buat Penance jauh bangettt sama Rumah Lebah, Lii wkwkwk 🀣 but after all, dua novel ini sangat memuaskan lah yaa πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga nggak nyangka ternyata kita dipersatukan lewat genre psychology thriller seperti dua buku ini, Ci 🀭. Sama-samaaa, aku senang kalau Cici suka dengan ceritanyaaa.
      Dan yes, terima kasih dengan Rahul yang telah menjadi inspirasi kita πŸ€­πŸ™πŸ»

      Ah,iya juga ya! Sebenarnya cerita ini sama-sama dark cuma bedanya intense dan nggak intense aja ketegangannya. Isinya sama-sama dark dan bikin miris 😒

      Huahahaha Rumah Lebah terlalu banget, Ci 🀣. Overall semuanya bagus kok! Ceritanya menarik semua 😍. Aku jadi pengin baca Confession nih 🀭

      Hapus
    2. Bisa aja kak Jane dan kak Lia. Saya jadi malu. Ha ha ha

      Hapus
    3. Jiahaha Rahul masih bisa malu toh :p

      Hapus
  2. Pas baca judul dan pas pula pengarangnya orang Jepang, aku langsung keinget kayaknya dulu ada dorama yang diangkat dr novel ini, deh...

    Google to the rescue, ternyata beneran, dong... πŸ˜†

    Tapi aku sendiri kayaknya belum nonton doramanya. Hmm... merasa kecele, ngaku2 penggemar drama misteri tapi malah belum nontonπŸ™ˆ

    Btw, dorama2 Jepang itu banyak yang diangkat dari novel lho, li... dan untuk yang genre misteri rata2 pada mind blowing plot twist-nya. 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. *langsung cek Google dan nonton Trailernya*
      Benar kata Kak Hicha, ternyata Penance ada doramanya yang rilis beberapa tahun lalu hahaha. Kelihatannya sih jalan ceritanya sama persis dengan yang ada di buku 🀭. Barangkali Penance ini bisa dimasukkan ke wishlist dorama yang akan ditonton Kak Hicha nanti hahaha.

      Oyaaa? Aku baru tahu lho πŸ™ˆ. Yang aku tahu Keajaiban Toko Kelontong Namiya dan Penance ada bentuk doramanya 🀭. Kak Hicha biasanya nonton dorama di web apa?

      Hapus
    2. Aku rekomen Ryusei no Kizuna (Meteor Bonds/Ties of Shooting Star) dari novel yang penulisnya sama dgn Toko Kelontong Namiya dan Reverse

      Biasanya nonton di dramacool atau kissasian

      Kalau di Netflix, I’m Home juga lumayan IMO. Misteri keluarga. Tapi lupa juga ini endingnya gimana, kalau ga salah sih rada nyebelin πŸ˜‚*spoiler yg nyebelin juga ya? 😝*

      Hapus
    3. Btw, baca Penance di mana ya, Li?
      Di GD aku cuma nemu Rumah Lebah, nih...
      *dan langsung teracuni buat baca 🀣*

      Hapus
    4. Spoilernya cukup nyebelin, Kak Hicha :p
      But thank you untuk rekomendasinya! Nanti aku lihat-lihat di website yang Kakak kasih ya :D

      Btw, Penance harus beli buku fisiknya. Di Tokped atau Shopee ada kok, atau kalau Kak Hicha memang mau baca, aku pinjamkan aja, mau nggak? :D Let me know kalau Kak Hicha mau ya ^^

      Hapus
  3. Gelap banget ceritanya astaga...😨 nggak kebayang gimana trauma melekat sampai dewasa ya ampun mana anak-anak umur 10 tahun kan ingatannya pasti melekat ya. Aduh gak sanggup deh kayaknya baca huhu (nonton film thriller bisa, kalo baca buku thriller mikir-mikirπŸ˜… masih terngiang-ngiang Bird Box), apalagi ini tokohnya anak-anak yang dibunuh😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hasil dari trauma yang terpendamnya itu lebih mengerikan, Kak Endah T__T Kalau baca thriller gini, lebih ngeri dibanding nonton ya, soalnya tergantung pada imajinasi kita. Kak Endah baca Bird Box? Waw, berani ya wkwkwk

      Hapus
    2. Iyaaa😭 dan imajinasi kita kadang liar ya kan huhu, berani baca Birdbox karena udah nonton filmnyaπŸ˜‚ yang nggak berani baca walaupun udah nonton adalah...Pet Sematary, just in case kalo kamu tertarik baca itu Li.

      Hapus
    3. Aku mau baca Pet Sematary tapi takut, Kak Endah wkwk
      Katanya ini horror banget? Ada hantunya gitu nggak sih? Aku takut jadi parno sendiri gitu :')

      Hapus
    4. Kalau dari filmnya ya Li, Pet Sematary ini menurutku horor banget😭 mencekam, yang meninggal bangkit lagi tapi bukan jadi zombie, kalau dari review Kanaya Sophia bukunya bikin mual.

      Hapus
  4. Aku udah keburu baca Rumah Lebah duluan Liii..mungkin tipikal thriller Jepang kali ya, dari yang kubaca tulisan Lia diatas, kayaknya Penance ini lebih berfokus bagaimana pengaruh trauma pada 4 anak itu ya. Aku sempat nonton film yg diadaptasi dari bukunya Minato kanae judulnya Confession, Lia sama kak Jane kayaknya pernah denger juga Confession ini. Film ini adalah salah satu film thriller yg bikin aku gak mau nonton ulang. Karena suram banget, depresinya sangat terasa. Mengingat penance juga dari Minato, baca tulisanmu jadi langsung keinget sama Confession yang segitu kelamnya.

    Kok jadi kepo juga ya sama Penance πŸ˜…, kepo pas baca jawaban kak Jane yang ternyata pelaku nya bukan orang random, berarti masih punya hubungan sama Emily atau teman2nya?

    Betewe format kali ini seru juga Liii, bisa nih dipake buat ulasan buku segmen JanexLia berikutnya 😁😁, Maaci ya Liii untuk ulasannya, Tumpukkan bacaan sepertinya bertambah nih wkk 😌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak apa, Kak Reka kan baca Rumah Lebahnya udah agak lama jadi kayaknya masih bisa menikmati Penance nanti kalau baca :D
      Yes, buku Penance ini lebih fokus dengan pengaruh dan akibat dari trauma yang dialami oleh ke-4 anak yang menjadi saksi tsb, yang bikin tercengang karena segitu dalamnya luka mental mereka >.<
      Karena Kak Reka mention Confession dan bilang cukup dark, aku jadi penasaran ingin baca bukunya. Kayaknya lebih bagus dari Penance nih hahaha

      Ahay, jadi penasaran kan dengan pelaku pembunuhan Emily :p Pokoknya Kak Reka harus baca kalau penasaran wkwkw #maksa

      Huuuu terima kasih atas feedback dan dukungan dari Kak Reka <3
      Formaat seperti ini mungkin akan dipakai kembali ke depannya, ditunggu yaw hihihi. Sama-sama Kak Reka! Saling meracuni ya kita :p

      Hapus
  5. Serem juga ya kak, baru baca ulasannya saja sudah kebayang ngerinya apalagi yang baca novelnya langsung. Novel Jepang bagus bagus ya dan biasanya plotnya tak terduga.

    Memang anak kecil itu kalo ada sesuatu yang membekas terutama yang bikin trauma itu tidak bisa hilang seumur hidup. Kasihan anaknya, sampai dewasa masih dibayangi trauma.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Kak Agus. Novel Jepang kalau yang suram tuh suramm banget dan plotnya sering nggak ketebak sama sekali. Atau mungkin aku yang cupu jadi nggak bisa nebak plotnya akan dibawa kemana wkwkwk

      Iya, aku ngerasain banget punya kenangan masa kecil yang buruk dan masih teringat sampai sekarang. Apalagi kisah mereka yang menjadi saksi mata pembunuhan ya, nggak kebayang suramnya gimana :(

      Hapus
  6. Aku belum baca kak, tapi diliat dari resensi novel dari mbak sepertinya bagus..

    Covernya cakep bener ya, ga nyangka juga ni buku thriller T.T
    Eh tapi selama ini belum pernah baca novel thriller selain detektip konan.
    eh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Covernya menipu banget, Kak Andie. Aku kira ini buku romance menye-menye gitu tau wkwkwk

      Huahaha Kak Andie memang nggak suka genre thriller kah? Detektif Conan mah udah kurang greget, Kak :p #songong

      Hapus
  7. Asiik kalimat pembukanya, apalah artinya akhir bulan tanpa ditemani JanexLia πŸ˜‚πŸ‘πŸ‘

    Liaaa aku merinding baca sinopsisnya. Paling ga tega sumpah kalau cerita anak kecil mengalami kekerasan astaga 😭😭 Ga kebayang jadi teman-temannya Emily gimana, masih 10 tahun udah dituntut mengungkap kematian teman sendiri, ya pasti laah kebawa sampai dewasa 😭😭

    Btw covernya sungguh mengecoh yaa? Ini kalau di toko buku ga disimpan di rak semestinya, orang ga bakal mikir kalau ini cerita thriller kayaknya (kalau ga ngeh sama arti judulnya juga). Imut banget covernya astaga wkwkwk.

    Btw mungkin bisa dijeda ga sih antara baca ini atau Rumah Lebah, jadi ga terlalu mempengaruhi? Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, jangan lupa coblos no.3 ya *disangka pemilu* wkwk

      Ngeri banget ngebayangin jadi teman-teman Emily, Kak Eya :( Mana mereka punya momennya sendiri-sendiri saat melihat Emily dan momennya itu yang bikin deep pas baca dan bayangin. Covernya ngecoh banget :( Aku bahkan nggak sangka kalau ini buku thriller begini. Kalau bukunya ditaruh di rak anak-anak sih, bisa disangka buku cerita anak-anak kali hahaha.

      Betul! Lebih baik kalau mau baca buku ini dan Rumah Lebah dikasih jeda yang agak lama, Kak. Soalnya aku jeda 1 mingguan tapi masih ngerasa Rumah Lebah terlalu mendominasi wkwk

      Hapus
  8. Pas lihat cover-nya dan review awal dari kamu, aku tertarik sama ceritanya. Sepertinya penuh warna. Tapi giliran ada cerita pembunuhan, yang dibunuh anak kecil, saksinya anak kecil, dan aku dapet feeling kalo yang bunung si Emily sepertinya juga orang dekat yang kenal baik dengan Emily. Duh, aku jadi mikir deh buat baca buku ini. Takut ikutan depresi.

    Tapiii,, cara kamu review buku ini menarik. Aku suka bagian tanya jawab di bawah. Apalagi yang jawab nggak cuma Lia, tapi ada Jane juga. Menarik!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau takut jadi depresi, lebih baik jangan baca buku ini, Kak Dini >.<
      Soalnya ceritanya sendiri, kalau menurutku memang nggak cocok untuk semua orang.

      Hihihi thank you atas feedbacknya, Kak Dini! Akupun menulisnya juga excited karena konsep baru ini :D

      Hapus
  9. Wawawaw asik juga nih ada tulisan kolaborasi gini. Kita jadi dapat dua sudut pandang yang berbeda dan menarik untuk dibaca setiap pendapatnya. Genre psychological thriller, kayaknya menarik walaupun aku lebih suka buku dengan genre komedi sih. Tapi dari review sedikit tadi aku masukin ke catatan dulu deh. 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you atas feedbacknya, Kak Nanda :D
      Kalau mau coba baca thriller, mungkin buku ini bisa sebagai starter :D
      Buku zaman sekarang kayaknya jarang ada yang comedy. Jadi kangen buku Radit :(

      Hapus
  10. Oke fix rumah lebah 🀣🀣.. btw Li.. kalau di internet atau aplikasi apa gitu. Ada nggk sih yg nyediainn bacaan buku membership macam netflix gtu.. hahaha.. πŸ˜‚ I mean kaya semisal kita berlangganan setiap bulan biar bisa baca buku2 apa aja yg kita mau dan lengkap..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, Bayu. Maaf baru balas, udah basi banget ya >.<
      Ada dong! Gramedia Digital itu konsepnya membership seperti Netflix. Bayarannya 45rb/bulan untuk membership fiksi. Lumayan banget menghemat pengeluaran wkwk

      Hapus
  11. Kok bisa ya, dua orang yg katanya seleranya bersebrangan soal buku tapi dalam waktu yg berdekatan baca buku yg genrenya sama. apakah ikatan batin itu nyata adanya? hmm.. bisa jadi!

    hmmm... aku ga akan muncul keinginan baca buku lain kalo buku yang lagi dihadapanku jg blm beres kubaca, hahahaha...

    (><)v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi! Bisa jadi! *kayak di kuiz Siapa Berani* wkwk

      Gimana gimana, Kak Ady udah selesai baca Aroma Karsanya belum? :p

      Hapus
  12. Eh eh, kok seruuu bgd sih janexlia bulan ini, ada QnA nya gitu 😍 Suka deh, kreatif2 bgd memang nih berdua πŸ’–πŸ’–

    Berarti lbh oke rumah Lebah yaa dibanding ini? Tp dr semua penjelasan, yg paling aku pensaran buat baca krna konklusinya spertinya jelas yaa. Setidaknya siapa pembunuhnya terungkap πŸ˜†πŸ˜† Abis paling kesel baca buku yg udag dibikin pusing n nebak2, eh akhirnya malah dikasi question ending πŸ˜‚πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa Kak Thessa, thank you so much untuk feedbacknya <3 Sedikit banyak terinspirasi dari teman-teman blogger juga :p

      Kalau Kak Thessa lebih suka yang menegangkan, Rumah Lebah lebih oke :D
      Kedua buku ini sama-sama memberikan akhiran yang jelas, tapi Rumah Lebah kayak banyak hal-hal yang bikin bertanya-tanya deh. Mungkin otakku yang nggak sampai wkwk

      Hapus
  13. Waaah Penance udah jadi inceran buat dibaca juga nih karena katanya emang se-tragis itu tapi masih maju mundur buat baca karena ini thriller dan terakhir kali aku baca thriller itu bikin merinding yang beda banget dan malah jadi takut hahaha πŸ˜† Tapi dengan episode terbaru JanexLia ini sukses bikin aku penasaran gara2 QnA nya bilang pada gak nyangka sama endingnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Tikaa, kalau Penance nggak sampai bikin merinding di aku dibanding Rumah Lebah >.< Kak Tika udah baca Rumah Lebah belum? Menegangkan nggak kalau menurut Kakak?
      Huahahah endingnya nggak ketebak aja gitu sama pelakunya dan bingung mau ekspetasi apa dengan akhiran bukunya karena konsep yang diusung benar-benar baru buatku, jadi aku ngikutin aja ceritanya mau dibawa kemana wkwkwk

      Hapus
  14. Genre thriller itu apa yaa mbak. Jujur aku bingung. Apakah itu sama dengan horor atau tidak yaa?

    Setelah googling. Ternyata agak beda.
    Menurut IDN Times nih, Genre film ini memang masih memiliki benang merah dengan film horror, namun tak semua film bergenre thriller maka akan bernuansa menakutkan. Film jenis ini lebih memfokuskan kepada ketegangan para penonton, sehingga saat kalian menikmati film tersebut kalian tak akan hanya berdiam diri saja. Kalian akan dibuat deg - degan sepanjang film, sampai mungkin membuat kalian bingung dengan ending dari film tersebut.

    Intinya apa?
    Aku rasanya blm pernah baca buku / nonton film dengan genre thriller nih πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thriller dan Horror beda, Do :D
      Kalau Horror biasanya kan ada hantu-hantunya, kalau thriller lebih ke menegangkan gitu, tapi nggak ada hantunya.
      Biasanya film action gitu termasuk genre thriller juga lho. Dodo suka nonton film action nggak? Kalau iya, berarti kemungkinan udah pernah nonton genre thriller :D

      Hapus
  15. Horor juga yaa ceritanya meski pada akhirnya misteri itu juga terungkap..

    Emang seru sih kalau menurutku jika membaca novel mistery atau pembunuhan ceritanya langsung habis, Meski novel itu sangat tebal..😊😊


    Yang nggak enak itu novel bersambung edisi terbitnya lagi nunggu 6 bulan..πŸ™„πŸ˜³πŸ˜³πŸ€¦‍♀️🀦‍♀️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hedehhh, setuju banget Kak Satrie >.<
      Aku lagi ngalamin nih sekarang! Buku yang aku baca, bersambung dan baru akan dirilis beberapa bulan lagi. Mana digantung pas lagi mulai seru, kzl ihhh *jadi curhat*

      Hapus
  16. beneran deh Lia sama mbak Jane bisa punya kebatinan yang sama hehehe
    aku abis baca review yang rumah lebah nya mbak Jane menurutku itu cukup serem juga
    yang penance ini masih agak dibawah si rumah lebah kadarnya kayaknya.
    tapi kalau berbau thriller menurutku semua tetep serem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha dari reviewnya aja, Kak Inun udah bisa lihat kalau Penance lebih rendah kadarnya. Keren banget Kak Inun >.<
      Tapi memang benar sih, kadarnya lebih kalem daripada Rumah Lebah wkwk

      Hapus
  17. Wah senang sekali mendengar segmen saya diadaptasi dalam segmen JaneXLia ini. Jadi lebih fresh dan menarik. Seru bacanya.

    Kemarin kayaknya pernah baca rekomendasi buku ini di JaneXLia juga, atau ditulisan lain yah? Lupa saya. Tapi dari situ memang sudah tertarik dengan novel ini, premisnta menarik.

    Saya cek di Ipusnas ternyata ngga ada, saya catat dulu deh. Mumpung masih berkutat dengan dunia Harry. Ha ha ha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Rahul telah menjadi inspirasi kami :D
      Ide Rahul kreatif banget deh, beneran hahaha.

      Mungkin Rahul pernah lihat di blog lain hihihi. Iyaa, sayangnya nggak ada di iPusnas, harus beli buku fisiknya >.<
      Kalau Rahul benar mau baca, aku kirimin bukuku aja, mau nggak? Untuk Rahul adopsi :D

      Hapus
  18. wadoh... ini nih tema buku yang paling berat buatku. Karena psycho thriller tuh biasanya paling menguras emosi. Iya nggak? Kalau aku biasanya suka kalah sama rasa penasaran, jadinya skip ke ending duluan. Wkwkwk tolong jangan ditiru ya, mak.

    Apakah perpindahan POV itu nggak bikin pusing, li? Soalnya aku tuh berhenti baca bukunya Ruta Sepetys (Salt to The Sea) karena pusing pindah-pindah POV ini. Apalagi kalau temanya berat. Tapi sepertinya menarik sih ya... iya lah.. kapan sih misteri gak bikin penasaran... Meskipun seringnya aku kalah sama godaan skip πŸ™ƒ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk Kak Mega! Justru kan seru di perjalanan menuju endingnya, masa langsung diskip ke ending? Kalau aku kayak begini khusus buku romance *jiah*. Kalau psycho thriller menurutku seru karena bikin deg-degan Kak :p

      Agak pusing di awal, tapi Penance ini 1 bab full 1 POV, jadi lebih santai. Kalau Salt to The Sea, aku pernah baca, kayaknya lebih cepat perpindahan POVnya karena hampir tiap chapter selalu berubah ya. Jadi, Kak Mega udah nggak lanjutin lagi baca Salt to The Sea-nya?

      Hapus
  19. Setelah baca kiriman Lia ini, jadi sadar kalau sudah lama nggak baca buku thriller. Buku thriller terakhir yang aku baca itu buku karya penulis Korea Selatan berjudul The Good Son. Sepertinya thriller karya penulis Jepang menjanjikan juga ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Farah, Kakak baca The Good Son versi Bahasa Inggris ya? Bagus nggak? Panjang nggak alurnya? Kalau nggak salah, ini baru diterjemahin ke Indonesia deh hahaha.

      Hapus
    2. Aku baca edisi terjemahan bahasa Inggris, Lia :D Lebih dulu keluar dari edisi terjemahan Bahasa Indonesia soalnya. Ada teman yang menyarankan untuk bahasa edisi bahasa Indonesia aja sebenarnya, karena ada bagian novel yang hilang dalam edisi terjemahan bahasa Inggris. The Good Son ini salah satu novel favorit Reka juga kalau nggak salah ^^

      Hapus
    3. Oyaaa? Oke, aku coba ceki-ceki novel The Good Son ini ah. Terima kasih atas rekomendasinya, Kak Farah 😘

      Hapus
  20. Aku auto nyari Penance di Playbook dan yess...ketemu. murah yang versi terbitan Hachett. Meski sampulnya masih kecean punya kak Lia. Huhu..rasanya mupeng sama sampul itu. Etapi, aku lebih penasaran kaya apa ceritanya karena kena racun dari obrolan dengan kak Jane juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eee, ada ya di Playbook? Versi Bahasa Inggris ya, Kak Ipeh? 😁
      Sampul yang versi Indonesia terlalu gemesin πŸ˜‚ kalau dilihat malah nggak sesuai sama isi ceritanya wkwk
      Semoga Kak Ipeh suka dengan Penancenya ya 😁

      Hapus

Words of The Dreamer. Theme by STS.