On Being Left Behind.



Aku nggak terbiasa menulis hal seperti ini, tapi aku rasa seenggaknya beberapa orang mungkin ada yang pernah atau sedang merasa seperti ini. Semoga sehabis membaca tulisanku ini, kalian jadi merasa tidak sendirian :')

Sampai pada usiaku saat ini, aku pernah beberapa kali merasa "tertinggal". Sewaktu sekolah, ada satu masa di mana teman-teman se-geng semuanya punya pacar dan aku sendiri yang nggak punya. Waktu itu, aku merasa "sendiri", "tertinggal", bahkan bikin insecure, merasa apa aku sejelek itu sampai nggak punya pacar? Apa aku begini begitu dan segala pemikiran lainnya yang lama-lama bikin minder.

Nggak cuma itu, perasaan "tertinggal" ini akhirnya bercabang kemana-mana dan yang paling fatal, tanpa sadar, di alam bawah sadarku jadi tertanam pemikiran bahwa kalau aku tertinggal = aku kalah. Well, this is so bad 😣

Baru-baru ini pun aku kembali merasa "tertinggal". Di saat teman-temanku mulai banyak yang menikah, punya anak, anak kedua, ketiga, while I'm here watching them. Meski otak ini masih bisa berpikir logic, tapi deep down inside rasanya sedih karena "tertinggal". And I believe banyak yang pernah merasa seperti ini πŸ₯²

One day, aku tulis semua keresahanku ini dan mulai mencari akar permasalahannya. Ternyata kalau dipikir ulang, sedikit banyak ada penyebabnya dengan masa kecilku, yang membuatku secara tidak sadar mempunyai mindset bahwa hidup ini adalah kompetisi yang kita harus selalu jadi pemenangnya. 

Lalu, saat momen merenung (sambil cuci baju 🀣), aku mendapat pencerahan bahwa selama ini aku salah banget punya pemikiran seperti itu.

Hidup itu komunitas. We are here to help each other grow and there will always be something that we can learn.

When I'm aware of that, I realize there are also so many privileges of being left behind 🀩. 

Waktu momen teman-temanku punya pacar dan aku nggak. Aku jadi bisa melihat dan mempelajari pasangan seperti apa yang aku suka/nggak suka, gimana cara treat pasangan dengan baik, tempat mana yang asik buat date, dan masih banyak hal lainnya!

Begitu juga dengan momen dimana teman-temanku menikah dan mulai punya anak. Aku jadi punya banyak info tentang proses mengurus pernikahan, info vendor yang recommended, info dokter anak yang bagus sampai melihat sendiri gimana gaya parenting teman-temanku sehingga aku bisa membayangkan gaya parenting mana yang kelak akan aku ikuti πŸ˜†. The good side is bebanku nanti jadi lebih ringan karena aku sudah mengantongi banyak rekomendasi terbaik lewat pengalaman teman-temanku πŸ₯Ί.

Semua hal-hal terbaik bisa aku dapatkan lewat pengalaman yang teman-temanku bagikan. Karena mereka udah "nyemplung" duluan, jadi mereka mencegahku untuk "nyemplung" ke jalan yang salah. Kalau dulu ada istilah orang yang mencotek dari banyak orang, biasanya akan mendapat nilai yang lebih bagus daripada orang yang dicontek (yang mana dulu bikin kesel banget karena aku sering jadi korban yang dicontekin wk). Sekarang, lewat menjadi yang "tertinggal", aku jadi bisa belajar banyak hal dari sana-sini sehingga aku bisa belajar dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik πŸ˜†.

Kalau sekarang kamu sedang merasa "tertinggal", that's okay, you are not alone, aku pernah mengalaminya juga. Just remember that life is not a competition, life is a community and remember, there are so many privileges of being left behind 😊.

25 komentar

  1. Aiih..jadi agak gimana baca postingan Lia yg ini...πŸ₯Ί.antara terharu apa gimana ya...udah enggak apa Lii..manusiawi banget koq punya perasaan kayak gitu, jangankan kamu Lii..saya aja yg sudah berumah tangga, sudah emak"masih ada koq perasaan kalah atau tertinggal dari temen"..koq mereka begini,koq mereka begitu, koq anaknya berhasil, koq kenapa aku enggk kayak mereka, tapi bener kata Lia tadi, hidup itu bukan kompetisi siapa duluan dia yg menang,kalau terlalu di rasa "atau kelewat di pikiran malahan jadi bumerang buat diri sendiri,kayak ngerasa gagal, tapi ya udah lah..namanya hidup memang begitu,ada aja kerikil",ga mulus melulu,biar ada warna"nyaπŸ˜„, ya di jadiin renungan aja,di ambil positifnya nya aja, peluk dari jauhπŸ€—

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Heni, terima kasih banyak untuk supportnya πŸ₯Ί. Ternyata setiap fase kehidupan akan ada aja perasaan tertinggal ini yaa πŸ₯², tapi aku harap kita bisa melalu fase tersebut dengan lebih nerimo dan legowo. Betul kata Kakak, namanya juga hidup, ada aja kerikilnya, nggak mulus, biar kita bisa bertumbuh juga lewat masalah yang ada kan πŸ˜†. Terima kasih ya, Kak Heni! Komentarnya menenangkan hati banget πŸ₯Ί. Kirim peluk juga untuk Kakak πŸ«‚

      Hapus
  2. Iya Liii .sama"...saling support aja yaaπŸ˜„

    BalasHapus
  3. Halo Lia. Aku nggak sengaja nemu blog ini. Pas baca seneng banget berasa seumuran meski sebenernya nggak tau juga berapa umurnya haha. Kebanyakan blogger yang aku temui udah berkeluarga atau udah dewasa banget jadi kadang akunya merasa kurang dekat sama keseharian di tulisan mereka dan merasa sangat tertinggal sama pencapaian mereka semua. Kupikir emang perasaan tertinggal kadang muncul but it's okay as long as bisa balik ke track 'jalur timeline' kita dan merasa kalau hidup ini baik-baik aja bahkan pas kita 'kalah'. Semangat terus, ya! Hope you can enjoy every little thing in your life to the fullest hehe. Oh iya, salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Anyelir! Salam kenal ya. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di sini πŸ˜†. Glad to have you here πŸ₯Ί. Mari berteman!~ Hahaha kayaknya kita memang seumuran deh! Meski nggak tahu benar atau tidak, kita anggap aja demikian πŸ˜†.
      Thank you so much for sharing your POV!! Setuju banget~ it's okay to feel what you feel as long bisa kembali ke jalur timeline dan nggak kelamaan terjebak dalam lingkaran gundah gulana πŸ˜‚. Semangat dan sehat terus, Anyelir! Mari lanjutkan komunikasi kita di dunia blog ini πŸ˜†

      Hapus
  4. Sekalipun seandainya kita berfikir bahwa semuanya ini memanglah kompetisi, setidaknya ada satu meme menarik yg pernah saya temukan di fb yg cukup buat memotivasi bagi mereka yg merasa kalah. Kalimat meme tersebut kurang lbh begini:

    "Ketika kamu merasa tak berguna samasekali di dunia ini, percayalah setidaknya kamu pernah menang melawan jutaan pesaing."

    Di meme tersebut ada gambar jutaan zigot, maksudnya adalah setiap yg lahir adalah pemenang, karena hanya pemenang yg berhasil lahir kedunia ini. Meme lucu yg menghibur meskipun dgn cara nyeleneh bawa2 zigot segala.

    Semua ini ttg mindset sama halnya dgn meme zigot itu.. juga sama dgn anjuran berkata pada diri sendiri "aku lbh baik hari ini" ini sdh terbukti secara sains bahwa berhasil mempengaruhi alam bawah sadar dan benar2 menjadikan si pengucapnya menjadi lbh baik.

    Soal mencontek di sekolah, ini perumpamaan keren yg pernah saya baca dan membuat gemas sama si pembuat perumpamaan ini, gemas pengen nyubit pakai tang, tang plastik berupa jepitan jemuran tentunya yg tdk bikin sakit, wkwk. Masalahnya adalah bagaimana jika misalnya orang tdk tau cara mencontek? maka jika begitu, dia akan kalah forever?

    Sayangnya hidup ini memang kompetisi Kak, dlm perspektif tertentu, kita di dunia ini sedang berlomba utk mengejar surga dunia dan surga akhir(at).

    Sesuai yg posting ini katakan, "kita bisa belajar dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik", saya tambahi ujungnya: "untuk menjadi pemenang".

    Jika "kita tidak tau cara belajar dan tidak tau cara mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik", cara paling praktis mengatasinya adalah dgn menghayal, dgn menghayal kita juga bisa menjadi pemenang, menghayal sdh nikah misalnya, huahaha.. ya sesuai dgn anjuran sains yg menganjurkan berkata pada diri sendiri "aku lbh baik hari ini..". Dgn mengatakan pada diri bahwa "saya sdh menikah.." maka kita akan tersugesti dan merasa bahwa kita sdh menikah, jika sdh begitu, kita akan merasa selalu menang dan semuanya akan terasa indah dan nyata meski cuma hayalan, wkwk..

    Jadi maukah Kak Lia menghayal bersamaku? Tenang gak bakalan gila kok, paling cuma ketawa2 sendiri, haha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Jaey, terima kasih banyak untuk sharing opininya πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

      Hapus
  5. Kalau sedang kayak gini biasanya aku melakukan penghiburan terhadap diri sendiri. Dihibur agar ga perlu iri dengan pencapaian orang lain. Setiap orang punya fase, waktu, dan jalannya masing-masing. Kalau hal itu bagus tidak ada salahnya untuk dipelajari dan ditiru.

    Fase iri dengan pencapaian orang lain bagiku itu wajar kok. Khan kita hidup sebagai komunitas yang tidak hanya dihuni satu orang. Jadi terbaisa melihat, merasakan dan merespon dengan apa yang didapatkan orang lain.

    Kalau ga merasakan nanti dibilang malah ga peka..wkwkkw

    Semangaat lia. Siapa tahu waktumu untuk bersinar itu sebentar lagi. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk agak serba salah karena kalau nggak merasa apa-apa malah dibilang nggak peka 🀣. Terima kasih untuk sharing opininya, Kak Rivai!
      Amiiin πŸ˜†. Nanti kalau matahari jadi ada 2 jangan kaget ya, barangkali 1 nya lagi itu aku yang bersinar 🀣

      Hapus
  6. SINI PELUKKKK πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

    Waktu di usia kamu, aku juga ngerasain persis, Lii. Bedanya kondisi kita kebalik; aku ngerasa tertinggal secara karir dan pencapaian mimpi. Kok temen-temenku seumuranku saat itu karirnya gemilang, sampe bs promosi jabatan, ada yg ngejer nonton konser idolnya sampai ke LN, dll. Sementara aku berkutat di rumah, jaga anak, kok kayaknya pengen jg hidup seruuu kayak mereka. Tapi yang kamu bilang bener banget, secara gak sadar society "ngajak" kita untuk selalu berkompetisi. Padahal "lomba" kehidupan ya lawan diri sendiri, bukan sama orang lain. Nggak ada yang lebih baik satu dan lainnya, because we walk on different paths (ini nambahin dari yg di DM, wkwkwk).

    Aaaaah suka deh sama tulisan kamu yang ini. Thank you for sharing another side of you, dan jangan sedih karena kamu yang sekarang udah more than enough. Peluk! πŸ«ΆπŸΌπŸ€—

    BalasHapus
  7. ibarat sebuah kata bijak pernah aku dgr, "Jangan pernah memikirkan hidup seserius mungkin, karena sebenarnya tdk ada satu org pun yg akan dibiarkan hidup."

    Awalnya aku gak ngerti kata2 itu, tp setidaknya aku bisa mengambil sedikit makna, bahwa semua org pasti akan mati, jd jgn memikirkan hidup terlalu serius, lakukan apa yg terbaik menurutmu itu sudah lebih dari cukup. Karena sebenarnya perjalanan panjang kita nanti adalah saat kita sudah tdk di dunia ini lagi.

    BalasHapus
  8. Setuju bangeeet liii kalo semua punya jalan dan waktunya masing-masing. Aku pun mengalami di saat adik-adik kelasku sudah punya anak dan aku masih berkompromi dengan kedukaan. Sempat mikir kok mereka bisa sebegitu siapnya yaa jadi ibu dan punya anak, sedangkan aku malah ga siap-siap. Namun di saat menjalani hari-hari jadi sadar kalau aku masih diberikan waktu serta kesempatan untuk melakukan banyak hal. Mungkin ketika sudah punya anak, hal-hal tersebut semakin tertunda untuk dilakukan, tapi kini aku bisa melakukannya perlahan.

    Dari situ jadi sadar dan lebih menikmati hidup, soalnya selama ini sama seperti kamu merasa jadi berkompetisi dan membanding-bandingkan dengan orang lain. Sekarang lebih pengen hidup sehat dan bersyukur serta happy atas apapun yang dialami.

    Semangaat liaaa, waktu kita itu belum tentu yg terbaik menurut waktu Tuhan 😊

    BalasHapus
  9. relate banget ini
    Temen temen kuliah aku udah punya anak 3 atau 2, dan aku masih gini gini aja, berpikir positif pastinya. Waktunya memang bukan kemarin.
    Atau mungkin tertinggal melihat temen aku bisa wujudin mimpinya buat kerja di jakarta, tapi aku dulu kayak ga yakin, dan akhirnya terdampat disini. Dan aku baik-baik aja. Banyak cara untuk mengejar ketertinggalan

    Memang aku seneng berkompetisi, kayak ikutan lomba atau sejenisnya. Tapi sebenernya, aku berkompetisi ya untuk mengukur kemampuan diri .

    BalasHapus
  10. bisa-bisanya aku baca ini sambil nyeruput Manggo Thai sisa semalam 🀣 bruakakak.

    Ini pikiran aku banget deh kayanya saban hari Lii.. Jadi mari kita bertepuk dengan riang gembira. Sbnernya mau yang bomat-bomat gtu tuh. Tapi ya gimana, kadang udah bomat juga tetiba kepikiran πŸ˜† Lagi asik-asik nonton film atau apa ehh tetiba bengong kepikiran sesuatu yg mengkhawatirkan 🀣

    Sebenernya kalau boleh jujur mah, ya aku khawatir kalau ada yang nanya "Kok kamu nggak nikah-nikah sih Bay??" Udah gtu mah ditambah umur makin nambah juga kan, terus porsi single di kantor udah makin dikit juga 🀣 Lahh aku masih sibuk pulang kerja, beli jajan, main sama kucing πŸ˜‚

    dibilang Nggak mau kompetisi tapi tetep aja perasaan khawatir mah ada.. wkwkw Tapi yaudahh, aku mikirnya kayanya semua manusia memang akan selalu khawatir. Mungkin levelnya aja yang beda. kan yang terpenting bagaimana cara kita menjalani hari saat ini agar bisa berjalan maksimal.. 😁

    BalasHapus
  11. Liaa, chin up! everyone has their own timeline and battle to fight.. You did your best this far young lady! You've learnt a lot from ppl running ahead of you and thats great! I guess its better to not rush things, let them falls into place. Up til now I don't have kid(s) either and sometimes that'll make friends my age somewhat envious haha. sending you virtual hug :)

    BalasHapus
  12. Agree! Life is not a competition with other people but with ourselves. Kalo saingan sama orang lain bener-bener bikin capek dan merasa diri kurang terus. Dulu pernah ada di masa-masa membandingkan diri dengan teman-teman yang karirnya lebih cemerlang, gajinya lebih gede, bisa traveling dengan mudah dan cepat, tapi lama-lama malah stres dan menyakiti diri sendiri, wkwkwkwkw. Sekarang udah bisa lebih bomat daripada sebelumnya. Every one has their own path and different start. We're enough. LIII MARI BERPELUKAAAAN!!! <3

    BalasHapus
  13. Emang bener banget tuh Lia, banyak juga yang ngerasain kayak yang Lia alamin. Ngerasa minder kalo kita sendiri nggak kayak temen-temen. Dan semakin kesini, kita pasti sadar ... kalau hidup nggak melulu soal persaingan. Kayak misal nikah pun, itu bukan masalah sekedar cepet-cepetan. Karena nikah itu sebuah pilihan yang paling menentukan buat hidup ke depannya, karena kita bakal ngejalanin sisa hidup bareng orang pilihan kita. Jadi bukan cuma asal cepet nikah, tapi yang penting akhirnya kita nikah sama orang yang tepat.

    Dan satu lagi, ini salah satu fungsi blog yang sulit buat ditinggalin. Di sini kita bisa nulis apa yang kita pengeng ungkapin tanpa ngrepotin orang lain buat disuruh dengerin.

    Semangat terus ya, Liaaa~

    BalasHapus
  14. Pesan dari seorang yang sudah berusia setengah abad lebih yaa... Hidup itu bukan kompetisi. Jadi, sebenarnya tidak ada yang namanya "Left Behind" ... Masing masing manusia punya jalannya sendiri dan mengejar kebahagiaannya sendiri.

    Tidak juga perlu merasa berkompetisi dan terpaksa melakukan sesuatu demi mengejar "bayang-bayang" tidak jelas, selama kamu merasa nyaman dan bahagia dengan apa yang kamu jalani, itu seharusnya sudah cukup.

    Masalahnya adalah karena kita hidup bermasyarakat, maka suka atau tidak suka, seringkali kita "mengkompetisikan" diri sendiri, tanpa diminta dan tanpa disadari. Kalau sudah begini, yang namanya perasaan tertinggal akan hadir.. Padahal sebenarnya tidak perlu demikian.

    Cukup fokus pada "hidup kita adalah milik kita" yang harus dijalani sesuai dengan apa yang kita mau dan tuju. Tidak perlu membandingkan diri dengan siapapun dan menciptakan "kompetisi" semu dan bisa menekan diri sendiri.

    Just enjoy your life.. Kalau orang lain "berhasil" dan "bahagia" di jalan mereka, tidak berarti Lia gagal atau tertinggal karena jalan yang kalian tempuh berbeda. Tidak sama.

    Karena pada dasarnya, tidak ada yang namanya LEFT BEHIND dalam kehidupan karena HIDUP BUKANLAH KOMPETISI...

    BalasHapus
  15. Iya, namanya hidup itu ga harus segitunya berkompetisi. Aku ngerasain banget sih, dulu sering banget yang namanya sedih pas ngejomblo. Pusing sendiri. Pas udah pasangan, ditanya terus kapan nikah. Pusing sendiri. udah nikah, ditanya kapan punya anak. Sekarang udah ada anak juga sama, tetep pusing sendiri. Yah, gitulah. Intinya mending nikmati aja momen sekarang. Gausah terlalu mikirin apa kata orang, dan gimana nasib orang.

    BalasHapus
  16. Oot dikit, tadi pas baca komen paling atas dr mba mreneyoo, ntah kenapa aku mikirnya mba menocrea 🀣🀣🀣🀣. Langsung kayak, 'uwaah mba Eno balik ngeblog' 🀣. Trus sadar, oh iyaa ini mba Heni 🀣🀣

    Bicara ttg left behind, aku seriiiing pastinya ngerasain ini Li ☺️. Pas kecil trutama. Waktu itu temen2 udah pada sering diajakin ortunya ke LN tiap kali liburan sekolah. Sementara aku, boro2 πŸ˜‚πŸ˜‚. Krn papaku itu ga suka jalan. Sekalinya jalan, dia cuma ngajakin ke Sibolga doang 🀣🀣, kampungnya. Jadi tiap balik liburan dan masuk sekolah, temen2 pada cerita serunya ke jepang, Paris , US, dll, aku cuma diem aja πŸ˜„πŸ˜…. Ngerasa tertinggal pastinya.

    Dan itu ngaruh ke aku yg sekarang ini. Mungkin Krn masa kecilku ga kemana2, pas udh gede, punya duit sendiri, langsung kayak balas dendam traveling kemana2.

    Masih merasa tertinggal? Masih pastinya πŸ˜‚πŸ˜‚

    Krn di usia sekarang kalo temen2ku yg dulu sering bepergian, skr ini mereka makin mapan lah. Ada yg punya rumah di pondok indah, ada yg kerja di Dubai, kerja di Qatar dll. Sementara aku cuma ngabisin duit traveling 🀣🀣🀣🀣. Asetku kalah jauh dibanding mereka hahahah. Jadi lagi2 pernah banget ngerasa tertinggal lagi dengan mereka.

    Cuma skr aku udh capek ngerasa begitu. Udahlaah, nikmatin hidup aja Li. Mungkin memang aku ditakdirin tertinggal dan ga kayak temrn2 yg mapan banget. Tapi setidaknya suamiku ga pernah keberatan aku traveling Ama temen, selalu mau biayain dan at least kami bisa ngajakin anak2 setahun sekali liburan. Ga kayak aku dulu zaman kecil πŸ˜„. Udahlaah syukurin aja.

    Capeeek kan mikirin kapan bisa ngejar temen2 yg udh mapan begitu .. apalagi di usia segini, udh ga mungkin terkejar kecuali dapat lotre 🀣🀣🀣

    BalasHapus
  17. Liaaaaaaa πŸ₯° walaupun awalnya sempet merasa insecure dll, tapi Alhamdulillah akhirnya bisa mengambil sisi positivenya yaaa. Kayaknya hampir semua orang pernah sih merasa diposisi left out ini. Even orang orang yang terlihat lebih dari kita dalam bbrp hal, at some point juga ada dititik dimana merasa left out. Mgkn lia merasa tertinggal liat temen lia pada nikah, sedangkan temen lia yang udah nikah dan punya anak merindukan masa masa masih single. Kalo orang bilang hidup itu wang sinawang πŸ˜…

    BalasHapus
  18. gimana ya, kita-kita ini dari kecil udah "terbiasa" dan "terdidik" untuk berkompetisi. dari sekolah, dengan sistem ranking, membuat kita-kita "terpaksa" untuk harus selalu jadi yang terbaik.

    ujungnya masyarakat pun jadi berpemikiran seperti ini. pertanyaan "kapan xxx?" menjadi hal yang "lumrah" yang sebenarnya merupakan bukti dari penerapan "kompetisi"..

    wajar juga jika akhirnya banyak merasa terbebani.. tapi seperti yang kamu bilang, hidup bukanlah kompetisi. memang jalan dan timing setiap orang beda-beda. tinggal kita yang perlu menikmatinya.

    BalasHapus
  19. Halo Lia, aku pun pernah merasa begitu :)
    Tertinggal lulus kuliahnya, tertinggal nikahnya, dan sekarang kalau sedang di posisi paling down merasa tertinggal punya anak :D
    Hal seperti ini seringkali terbentuk karena lingkungan sekitar kita berada, dihantui pertanyaan "kapan" ya gak sih :D
    Tapi seringkali bersyukur perasaan "tertinggal" ini membuat kita belajar banyak dari orang lain yang sudah melalui fase itu. Di lain sisi, dinikmati saja lah :)
    Semangat Lia :)

    BalasHapus
  20. Kakak-kakak dan teman-teman sekalian, terima kasih banyak untuk cerita dan semangat yang diberikan pada tulisan ini πŸ₯Ί. Aku menulis ini dalam keadaan sudah berdamai dengan kondisi saat itu, jadi aku tak sedang sedih, aman ✌🏻. Sekali lagi terima kasih banyak untuk komentar-komentar Kakak-kakak dan teman-teman semua, aku jadi merasa tak sendirian juga merasa dipeyuk 😭. Suatu hari nanti kalau aku sedang masuk ke momen ini lagi, aku akan baca kembali komentar-komentar di sini untuk penyemangatku πŸ₯Ί.

    BalasHapus
  21. Aku belajar dari pengalaman tidak ada orang yang tertinggal di semua aspek kehidupannya. Pasti ada yang dilebihkan tinggal kita mau melihat ke kelebihan itu atau nggak. Ketinggalan asal punya kerajinan lebih nanti akan menyusul orang yang duluan tapi santai. Kayak di film kelinci vs kura-kura itu lho. Jadi menurutku saat aku merasa teringgal better fokus ke dua hal ; kelebihan2ku atau kudu rajin menambal kelemahan setiap hari. Misal kalau bela diri aku lemah di pukulan atas, aku fokus di pukulan samping yang aku gampang dapat. Kalau fisik gak kuat, harus latihan lebih banyak daripada yang lain. Kesimpulan, enakan fokus ke diri sendiri saja, udahlah cape kalau patokannya liat orang lain wkwk..

    BalasHapus

Words of The Dreamer. Theme by STS.