LIVING WITHOUT SOCIAL MEDIA

By The Dreamer - Desember 17, 2019

Apakah aku tidak salah baca dengan judulnya? Tidak! Sama sekali tidak! Judulnya betul kok yaitu "Living without social media" alias "hidup tanpa sosial media". "Hah! Yang bener aja! Masa jaman sekarang nggak punya sosial media? Mustahil!"




Hidup tanpa sosial media di jaman sekarang ini kayaknya susah banget. Semua orang berlomba-lomba untuk membagikan keseharian hidup mereka di sosial media, berlomba-lomba mendapat "likes" yang banyak, "followers" yang banyak, berlomba-lomba untuk menjadi paling up-to-date, pokoknya berusaha untuk menjadi menonjol di sosial media. 

Sudah 7 bulan lebih, tepatnya dimulai dari Mei 2019 dimana aku memutuskan untuk hidup tanpa sosial media. Aku menghapus akun Twitter dan Instagramku, 2 sosial media yang sangat bikin candu dalam keseharianku terutama Instagram. Bagaimana dengan Facebook? Aku masih punya akun di Facebook tapi aku jarang sekali buka Facebook secara milenial pasti lebih aktif di Instagram ketimbang Facebook. Jadi selama 7 bulan ini, aku hanya punya akun Youtube yang biasanya aku gunakan untuk menonton hal-hal yang lebih menginspirasi menurutku.

Orang-orang yang mendengar bahwa aku sudah nggak punya akun sosial media khususnya Instagram pasti kaget dan bilang "kenapa?" "kok kamu bisa hidup tanpa sosial media khususnya Instagram? Aku sih nggak bisa lho". Kebanyakan orang akan bilang seperti itu karena punya akun sosial media terutama Instagram sudah seperti memiliki KTP bagi sebagian orang. Kalau nggak punya KTP, nggak mungkin kan? Demikian juga sama halnya dengan akun sosial media.

Kenapa aku memutuskan menghapus akun sosial media terutama Instagramku?
Ini semua dimulai ketika beberapa bulan sebelumnya aku mulai detox dari sosial media karena aku lelah, mentalku lelah melihat hal-hal yang ada di sosial media (dalam hal ini konteksnya adalah Instagram). Fyi, aku tidak menyalahkan aplikasinya karena Instagram dan sosial media lainnya hanyalah sebuah platform. 

Mentalku lelah, di sosial media banyak drama bertebaran dimana-mana, dan dari sudut pandangku, sosial media malah menjadi tempat untuk pamer padahal sebenarnya sosial media adalah platform yang sangat positif bagi orang-orang salah satunya pekerja seni, mereka bisa gunakan sosial media seperti Instagram sebagai tempat portofolionya. 

Lalu, kalau bukan pekerja seni, sosial media jadi tempat untuk apa? Kebanyakan mempergunakannya untuk pamer dan itu yang membuatku lelah untuk melihatnya, contohnya : Berlomba-lomba datang ke cafe kekinian, begitu datang harus dibagikan dulu ke sosial media biar nggak kalah dari teman lainnya. Pesan makanan, harus share dulu. Punya barang baru, harus share dulu. Apapun yang dilakukan harus diupdate dulu di sosial media.

Masalah lainnya, kalau ada teman yang kita unfollow atau tidak kita follow back, pasti menimbulkan amarah bahkan bisa memicu permusuhan hanya karena hal tersebut.

Maka dari itu, aku memutuskan untuk keluar dari lingkaran hidup yang seperti itu daripada membuat mentalku makin nggak sehat.


Kok kamu bisa tahan hidup tanpa sosial media khususnya Instagram?
Aku akui awalnya nggak mudah. Awal-awal aku detox (sebelum hapus akun), pasti masih ada keinginan untuk ngecek sosial media khususnya Instagram, tetapi setiap keinginan itu muncul, aku langsung tinggalin hp dan ngelakuin hal lain atau langsung alihkan pikiranku ke yang lain sehingga aku lupa sama keinginan awalku untuk buka Instagram. 

Lama-lama keinginan itu hilang sendiri sampai akhirnya suatu hari aku kembali aktif di sosial media selama beberapa hari tapi kemudian satu kalimat muncul di benakku "apa sih faedahnya punya sosial media seperti ini? Apa kegunaannya bagiku?" bahwa aku nggak menemukan faedah buatku mempunyai akun sosial media, ditambah lagi, beberapa Youtuber yang aku ikuti, mereka nggak punya akun sosial media dan mereka tetap bisa hidup. Dari semua itu membuatku memutuskan untuk benar-benar menutup akun sosial mediaku dan akhirnya aku lakukan demikian. 

Sampai sekarang, keinginan untuk membuka sosial media kembalipun hilang dengan sendirinya. Sudah nggak kecanduan seperti dahulu yang sebentar-sebentar harus buka sosial media.


Sampai sekarang, bulan ke-7 hidup tanpa sosial media, gimana rasanya? 
SUPER DUPER FANTASTIS! ENAK BANGET HATI INI, BENERAN! 
Sehari-hari aku jadi bisa lebih produktif, nggak terpaku buat ngecek sosial media terus. Aku juga jadi nggak tahu soal gosip-gosip terkini dan kehidupan teman-temanku, dan ternyata menjadi nggak tahu itu lebih enak dan lebih baik! Jadi nggak julid sama orang 😂
Ketika berpergian, aku bisa lebih menikmati momen dibanding dulu yang sibuk harus update di sosial media.
Pokoknya, aku ngerasa lebih sehat hidupku yang sekarang ini dibanding dulu waktu aku aktif di sosial media.

Demikian pengalamanku hidup tanpa sosial media selama 7 bulan ini. Kedepannya, aku belum tahu apakah aku akan membuat akun sosial media lagi atau tidak, tapi sejauh ini, hidup tanpa sosial media jauh lebih nyaman bagiku. Mungkin suatu hari kalau aku sudah ngerasa siap memulai kembali dan sudah menemukan faedah positif untukku mempunyai akun sosial media, aku akan aktif kembali. Tapi aku nggak tahu kapan karena rasa untuk memulainya ditutupi oleh rasa malas dan tidak sejahtera untuk membuka akun sosial media kembali.

Catatan :
Cara pandang dan cara berfikir setiap manusia berbeda. Tulisan di atas adalah berdasarkan opiniku. Jika opinimu berbeda atau kamu tidak setuju dengan apa yang aku tuliskan, aku mohon untuk kamu mengerti dan tidak memaksakan opinimu karena aku juga tidak memaksamu untuk berfikir seperti diriku. Aku hanya membagikan kisahku, jadi tolong dimaklumi ya. 

Terima kasih buat yang sudah membaca sampai sejauh ini!

See you!
With love,
The dreamer.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar