The Wind-Up Bird Chronicle.

Kamis, 08 April 2021

Review The Wind-Up Bird Chronicle

Informasi Buku


Judul: The Wind-Up Bird Chronicle (Kronik Burung Pegas)

Jumlah halaman Isi: 607 hal.

Penerbit: Vintage. Penguin Random House UK.

ISBN: 978-0-099-44879-2

✨๐Ÿคธ๐Ÿป‍♀️


Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang seorang pria bernama Toru Okada yang mempunyai seorang istri bernama Kumiko. Awalnya, Okada ingin mencari kucing peliharaan mereka yang hilang entah kemana, tapi dalam perjalanannya mencari sang kucing, istrinya tiba-tiba pergi meninggalkannya tanpa Okada tahu penyebabnya. 

Tujuan awal untuk mencari kucing, berganti menjadi mencari keberadaan sang istri. Dalam perjalanan Okada mencari informasi keberadaan sang istri, Okada bertemu dengan orang-orang "unik" dan Okada sendiri juga mengalami kejadian-kejadian "aneh" yang sulit dijelaskan oleh akal sehat. 

✨๐Ÿงš๐Ÿป‍♀️

My Thought For This Book


Buku ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama berisi 13 bab, bagian kedua berisi 16 bab, bagian ketiga berisi 39 bab. Alur buku ini lambat, bukan tipe buku yang page turner deh ๐Ÿ˜‚. Aku sendiri sempat stuck lama sekali di bagian pertama buku ๐Ÿ˜‚, tapi setelah masuk ke bagian kedua, aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan apa yang disuguhkan dari buku ini.

Aku membaca buku ini dalam Bahasa Inggris. Di awal-awal, memang terasa berat, tapi begitu udah klik dengan bukunya, membacanya jadi mengalir begitu aja ๐Ÿ™ˆ. Buku ini juga tersedia dalam terjemahan Bahasa Indonesia, jadi bagi teman-teman yang ingin baca, nggak perlu khawatir ๐Ÿ˜.

Genre buku ini mengusung Magical Realm, jadi memang ada kisah yang nggak bisa dijelaskan dengan akal sehat, bahkan semakin dipikirin malah semakin pusing ๐Ÿคฃ. Namun, begitu masuk ke sesi "magical realm" inilah yang seru, menurutku ๐Ÿ˜†. Apalagi di bagian akhir yang bisa dibilang bagian "klimaks"nya.

Yang membuat aku suka dengan buku ini adalah Pak Murakami menulis setiap kisah dengan sangat detil. Ada 1 bab yang kisahnya sampai membuatku terbayang-bayang terus dengan adegan yang diceritakan ๐Ÿคฃ. Juga, di buku ini, kita nggak bisa berekspetasi apa-apa karena sulit untuk menebak akan ada kejadian apa sehabis ini ๐Ÿ˜‚. Kita seperti diminta untuk enjoy the rides sambil mengikuti arah langkah kaki Toru Okada mencapai tujuannya yaitu menemukan istrinya.

Setiap tokoh yang muncul mendapatkan porsi cerita tentang kehidupan mereka di dalam buku ini, dan ini salah satu penyebab kenapa buku ini beralur lambat. Tapi akhirnya, aku malah ngerasa "attach" dengan para tokoh yang ada di dalam buku, mungkin karena durasi membaca buku ini yang cukup lama, sehingga sewaktu menuju lembar-lembar terakhir, aku malah merasa sedih karena harus berpisah dengan para tokoh ini ๐Ÿคฃ.

Yang aku sayangkan dari buku ini, sebagian cerita seharusnya nggak perlu diceritakan karena nggak terlalu berkesinambungan dengan kisah utama ๐Ÿ˜‚, juga disayangkan adanya tokoh-tokoh yang tiba-tiba menghilang begitu aja tanpa ada kejelasan ceritanya, padahal aku cukup penasaran sama kisah hidup para tokoh ini ๐Ÿ˜‚.

Namun secara keseluruhan, aku menikmati jalannya cerita hingga akhir dan menikmati momen ketika dibawa pergi ke "magical realm"nya Toru Okada ๐Ÿคญ. 

Oiya, untuk teman-teman yang mungkin baru ingin mulai membaca buku Haruki Murakami, lebih baik jangan memulai dari buku ini ๐Ÿ˜‚. Aku lebih menyarankan untuk membaca Kafka on The Shore terlebih dahulu untuk bisa mendapat gregetnya "magical realm" Haruki Murakami ๐Ÿคญ.

Aku beri rating 4/5 untuk buku ini ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ.

May the life you lead be a good one, a life free of regrets. - The Wind-Up Bird Chronicle, page 564.

✨๐Ÿงš๐Ÿป‍♀️๐Ÿคธ๐Ÿป‍♀️

Teman-teman ada yang pernah baca buku ini? Atau buku ini ada di wishlist kalian? ๐Ÿ˜
Apa judul buku Haruki Murakami pertama yang kalian baca?

69 komentar

  1. Kemarin sih abis ceki2 postingan terdahulu Mba Reka buku judul The Perfect world of miwako sumida (buku misteri)... baru tak masukin keranjang belum check out dan aku tertarik juga sama yg ini, mau sekalian.. hahaha ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ

    Kafka on the shore.. kalau langsung The Wind Up Bird agak berat yah Li? Apa mereka berdua ada hubungannyaa? Atau mending checkout dua2nya.. hahah *berasa sultan..๐Ÿคฃ

    Kemarin 2 dari 3 buku rekomendasi dari Mba Jane udh mendarat walaupun belum tak baca. ๐Ÿ˜ Mau ngumpulin beberapa buku dlu buat stok baca 2021..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bayu, The Perfect World of Miwako itu bagusss! Tapi baca juga Rainbirds, buku pertamanya Clarissa Goenawan karena mereka itu 1 universe walaupun ceritanya nggak nyambung sih hahaha.

      Kalau langsung The Wind-Up Bird ini untuk awal permulaan, menurutku sih berat ๐Ÿ˜‚. Kalau Kafka, alurnya lebih seruuu. Cobain baca Kafka dulu, kalau suka, baru pertimbangkan beli The Wind-Up Bird ini sambil nunggu diskonan di Kinokuniya, Bay ๐Ÿคฃ

      Widihhh, borong banyak ya! Kepo dong beli apa aja ๐Ÿ‘€ *dasar ciwik kerjaannya kepo mulu*

      Hapus
  2. Tapi bentar.. ini halamannya 607 halaman..??? ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ๐Ÿคฃ terus font-nya kecil + marginnya tipis ๐Ÿคฃ. Kata temanku, kalau versi Jepangnya dibagi dalam 3 buku, waktu diterjemahkan ke Bahasa Inggris dijadiin hanya 1 buku, makanya font+marginnya tipis ๐Ÿ˜‚

      Hapus
    2. Dut, lu baca yang ada asma lu kambuh. Udah mah tinggal sendirian berabe ntar. wk!

      Hapus
    3. Okeee dehh.. noted Li ๐Ÿคฉ. Jadi miwako sama rainbirds terus sama kafka. Oke takk masukin keranjang dulu.. terimikicih ๐Ÿ˜…

      Oploy, udah nih, tolong digesek yakk? ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

      Hapus
    4. Tunggu, aku titip sekalian dong, Bay ๐Ÿคช. Andrew yang gesekin kan? ๐Ÿคฃ #kabur

      Hapus
  3. Bukunya tebel banget yaaa ๐Ÿ˜†
    Selesainya berapa lama nih baca buku setebal ini ๐Ÿ˜
    Soalnya kalau butuh waktu lama barangkali udah lupa duluan sama cerita awalnya...

    Lia mantap banget bacanya yang bahasa inggris ๐Ÿ˜๐Ÿ‘๐Ÿ‘


    Kalo premisnya nyari istrinya yang hilang jadi inget sama film searching yang ceritanya seorang ayah nyari anaknya yang hilang juga.

    Btw bukunya sebenernya bikin penasaran, tapi jumlah halamannya bikin putus asa duluan ๐Ÿ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selesainya 4 bulan, Kak Edot ๐Ÿ˜‚ sampai capek sendiri bacanya, tapi penasaran gimana akhirannya wkwk
      Iya~ kalau jeda kelamaan, bisa keburu lupa sama ceritanya ๐Ÿคฃ. Kalau aku, bacanya dicicil 1 hari 1 chapter gitu sih ๐Ÿคฃ

      Film Searching itu yang film Korea kan ya, Kak? Yang kalau nggak salah, berhubungan sama internet?

      HAHAHA BENAR BANGET! Akupun di awal juga putus asa melihat jumlah halamannya, cuma karena kata temanku bagus, aku jadi coba untuk baca ๐Ÿ˜‚. Ternyata setelah baca beberapa bab, jadi makin putus asa ๐Ÿคฃ tapi lama-lama jadi semangat lagi sih wkwk

      Hapus
  4. Sejujurnya aku belum pernah baca buku karya Haruki Murakami sama sekali ๐Ÿ˜† ini juga karena aku belum tertarik baca aja sih.

    Lia, buku ini ada 3 bagian dan menceritakan tokoh yang sama ya sepanjang buku? Kalo dilihat babnya banyak banget tapi emang bukunya tebel banget sih ya.

    Aku tertarik karena ada Magical Realmnya tapi Lia malah lebih nyaranin yang Kafka ya? Hahaha nanti aku coba baca yang Kafka dulu deh kalo udah ada niatannya ๐Ÿ™ˆ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha nggak apa Kak Tikaa. Aku rasa buku-buku Murakami bukan bacaan untuk semua orang karena cenderung beralur lambat dan pastinya untuk kita yang lebih suka alur cepat, butuh menguatkan mental lebih dulu sebelum mulai baca ๐Ÿคฃ

      Beda-beda, Kak Tikaa. Nanti cerita si A, terus B, terus balik lagi ke A, nanti ke C tapi sudut pandangnya tetap dari si A hahaha. Jadi ceritanya memang beragam banget, mungkin karena itu judulnya "kronik"

      Wkwkwk mending coba Kafka dulu karena menurutku lebih ringan dan alurnya sedang~ nggak selambat ini ๐Ÿคฃ. Boleh dicoba saat Kak Tika mempunyai minat baca Murakami ๐Ÿคญ

      Hapus
  5. Finally! Setelah perjalanan panjang ya Liaa. Baca buku beliau emang membutuhkan kesabaran๐Ÿ˜…

    Oh dan dalam buku ini seorang perempuan juga menghilang, aku masih penasaran kenapa ya tulisan beliau selalu identik dengan hilangnya tokoh perempuan. Apa beliau pernah punya pengalaman di masa lalunya haha.

    Adanya tokoh yang hilang tiba-tiba, ciri khasnya Haruki juga ya, mungkin hilangnya orang itu salah satu kiasan aja Lii *okemulaisoktau*, yang hilang ini tokoh terdekatnya dari MC bukan? Kok kayaknya bapak Haruki suka banget ngilangin orang ya ๐Ÿ˜‚

    Quotesnya dalem juga..bentuk penyesalan dalam bukunya beliau juga sering di bahas ya biasanya lewat mimpi dari tokoh utamanya. Ah jadi kangen aku baca bukunya..tapi belom ada tenaga buat baca tulisannya wkwkwk. Mungkin nanti..

    Anyway thankyousomuch untuk ulasannya! Aku suka cara Lia ngereview bukunya ๐Ÿ˜๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
    Balasan
    1. Finally, Kak Rekaa! Lega banget saat berhasil menyelesaikan buku ini ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

      Oiyaaa, 3 buku Murakami lainnya yang pernah aku baca juga ada bau-bau perempuan menghilangnya. Terus aku jadi mikir pernyataan Kak Reka nih ๐Ÿคฃ mungkin benar ada sangkut pautnya sama kehidupan beliau atau mungkin cuma kiasan *ikutan sok tau*. MC ini maksudnya siapa Kak? Aku lagi nggak konek nih ๐Ÿคฃ #plakk.

      Wkwk benar!! Kak Reka benar sekali, sering banget emang kayak gitu. Di buku ini juga banyak adegan di dunia mimpi gitu ๐Ÿคฃ. Kalau quotes di atas, diambil dari salah satu isi surat dari tokoh lain ke tokoh utama.

      Siapin mental yang kuat dulu Kak Reka ๐Ÿคฃ. Mungkin bisa mulai baca yang ringan-ringan dulu ajaa, kalau Wind-Up Bird sih berat menurutku wkwkw

      Huwaaa thank you so much, Kak Reka ๐Ÿค— It means a lot ๐Ÿ˜ณ

      Hapus
    2. MC itu loh Lii tokoh utamanya, wkwkwk. Gara-gara baca bukunya kah? Tapi masih untung 600an halaman ya, kalo beli yang versi indonesia kayaknya sih bakalan berbulan-bulan ๐Ÿ˜‚

      Sama-sama Lia. Aku suka karena ulasannya singkat, buatku sendiri bikin ulasan yang agak pendek gitu susah banget Lol

      Hapus
    3. Oalah! Aku baru ngeh! Maksudnya Main Character ya ๐Ÿคฃ #plakk. Efek tadi pagi pas balas baru bangun, jadi otak belum nyambung ๐Ÿ˜‚.
      Yess, yang hilang istrinya MC ๐Ÿ˜‚. Kalau di Norwegian Wood, yang hilang itu crush-nya MC, di Kafka itu ibu dan anak yang terpisah. Semua hubungannya dekat-dekat ๐Ÿ˜‚

      Kalau baca yang versi Indonesia, kayaknya bisa lebih dari setengah tahun ๐Ÿคฃ. Apa kabar buku 1Q84 yang ada 3 jilid ya ๐Ÿ˜ญ

      Wkwk kok kita kebalikan Kak ๐Ÿคฃ, aku bikin yang panjang malah susah ๐Ÿคฃ. Bisa panjang kalau ditambah sinopsis, cuma khawatirnya kalau aku jabarin sinopsisnya di sini, pembaca udah keburu pusing duluan ๐Ÿคฃ

      Hapus
  6. aku belum pernah selesai baca haruki,banyak yg bilang bagus. tapi kenapa saya ngantuk banget ya mbakk kalo bacanya hikssss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha kebanyakan buku Murakami alurnya lambat, Kak. Jadi memang bikin ngantuk kalau belum ketemu bagian gregetnya ๐Ÿคฃ

      Hapus
  7. Wait Li. Izinkan menjabarkan teori yang saya punya .

    607 halaman dibagi 2 = 303.5 lembar ๐Ÿค”. Kemarin nulis artikel PIK kira2 selembar selesai 3 hari. Total estimasi waktu yg diperlukan semisal saya baca buku ini adalah 303.5 lmbar dikali 3 hari = 910 hari. Wedjaaannn HAMPIR 3 TAHUN ๐Ÿคฏ

    Mundur Ton, MUNDUR!! Nggak cocok kita dimari. ๐Ÿคซ Jangan ditemenin, mereka pecinta buku ternyata..! We don't belong here.. wkwk

    Mending lanjut main PS aja kita Ton.. ๐Ÿคฃ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk atuh lama banget 3 tahun, apa nggak keburu lupa Drew? ๐Ÿคฃ. Tapi aku rasa, nggak mungkin lah baca 1 lembar sampai 3 hari, 1 lembar 1 hari lah, eh tapi itu juga masih hampir 2 tahun ya kalau 1 lembar sehari ๐Ÿคฃ #plakk

      Sok lah kita main PS bareng aja. Mau main apa? Fifa? ๐Ÿคฃ

      Hapus
    2. Apaan nih, gue dibawa2? Kelar gue mah Poy, 607 halaman doang!!. Kalau Lia bisa selesai dalam waktu 4 bulan. Gue selesai dalam waktu 4 minggu. *baca kata pengantarnya doang. Wkwk

      Main CTR aja gimana Li.?
      Coba Li kasih tau kita motivasi dan tips biar lancar menjalin hubungan dengan buku? Haha

      Hapus
    3. Wkwk kata pengantarnya di-skip aja atuh, Toni ๐Ÿคฃ. Langsung gaspol ke ending aja, 4 minggu mah akan berlebih ๐Ÿคญ

      CTR nih game balapan yak? Kalau iya, hayukkk! Aku lebih suka game balapan atau pukul-pukulan kayak Street Fighter wkwk.

      Waduh, apa ya ๐Ÿ˜‚. Yang paling utama sih, dimulai dari genre yang kira-kira disuka ajaa. Kalau baca buku sulit, baca komik atau webtoon aja. Sama aja kok menurutku, sama-sama "baca" wkwk.

      Kalau komik/webtoon, suka nggak?

      Hapus
    4. Masalahnya mereka tuh nggk suka baca Li ๐Ÿ˜›๐Ÿ˜Ž brosur PIK kemarin aja malah dibuat pesawat terbang ๐Ÿ˜’๐Ÿ˜๐Ÿคญ wkwkwkwk hohoho

      Btw game Lia agak barbar yah. Street fighter ๐Ÿ˜…. Main PUBG juga nggak Li? Si Stark udah hatam sama game ini.

      Hapus
    5. Wkwkw kebiasaan emang! Kalau bukan pesawat, biasanya jadi kipas ya ๐Ÿคฃ.

      Soalnya kalau Street Fighter gitu yang dibutuhkan hanya kebar-bar-an dalam memencet stik ๐Ÿคฃ. Lebih barbar, lebih tinggi kesempatan menang ๐Ÿคฃ
      Kalau main PUBG, aku cupu Bayu. Kebanyakan ngendognya dibanding nembak wkwk. Main Mobile Legend atau Wild Rift aja yuk kalau mau ๐Ÿ˜‚

      Hapus
    6. Ujung2nya dipungut bayu, terus jadi wadah tulang ayam. Wk!

      Hiburan banget baca komen kaya gini. "Ngendogg" smpe guling-guling saya Li. Setipe brrti sama si gendut kalau main PUBG. Yang lain sibuk nyari musuh, dia malah sibuk nyari tempat ngumpet. Lah, disangka main petak umpet.

      Hapus
    7. Wkwk lebih parah lagi! ๐Ÿคฃ

      IYA ITU AKU BANGET DONG! Udah sibuk sendiri nyari tempat ngumpet, terus pas ketemu musuh bukannya nembak malah teriak duluan + kabur ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ. Hedehh, jantungan pokoknya kalau main PUBG ๐Ÿ˜‚.

      Hapus
    8. Toss dulu lahh Li.. ๐Ÿ˜… main PUBG tuh udah berasa kaya merjuangin hidup sendiri ya... haha๐Ÿ˜‚
      Btw, Ini kenapa dari pembahasan buku jadi melipir ke game coba.. ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ uis lahh, mau berangkat gawe dlu.

      Hapus
    9. wkwkwk sama gw juga gitu kalo main pubg ato ff, kalo ada musuh gw tinggal kabur sambil nembak gaje :D

      Hapus
    10. @Bayu: Wkwk iya jadi melenceng jauh ya ๐Ÿคฃ tapi nggak apa, seru kok bahasnya ๐Ÿคฃ. Semangat kerjanya, Bayu!

      @Khanif: ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ sama persis dong! Udah gitu nembaknya brutal tak terarah pula ๐Ÿคฃ yang kayak kita gini biasanya jadi santapan lezat para musuh wkwk

      Hapus
  8. 600an dan bahasa inggris, kayany aku klo baca ini bakal lamaaaa bgd deh ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜…
    Aku suka buku yg bikin kebayang2 gt. Krna mnrt aku buku yg bagus ga melulu yg mind blowing, tp buku yg feel ny lama tertinggal di hati dan kepala.
    Makasii buat reviewny Lia. Aku udah lama panasaran sama buku2ny Murakami. Tp nanti mau beli yg terjemahannya aja lah ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Thessa, terjemahan Indonya lebih ngeri lho jumlah halamannya ๐Ÿคช. Nggak mau baca yang versi Inggris aja? ๐Ÿคช
      Betulll! Setuju banget sama Kak Thessa. Nggak melulu mesti mind blowing atau plot twist, cukup bisa meninggalkan kesan mendalam aja udah bagus menurutku ๐Ÿ˜ karena susah kan untuk bisa mencapai titik itu.

      Hapus
  9. Liaaaa, tebel banget buku yang dirimu baca...
    607 halaman, emejing. Sejujurnya, k'Ike belum pernah baca buku setebal itu..
    dan blm pernah membaca buku Murakami ini. Seandainya pun k'Ike baca buku ini, mungkin selesainya bertahun :D

    Terima kasih Lia ats info bukunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Ike, nggak akan sampai bertahun-tahun deh bacanya, soalnya ceritanya seru ๐Ÿคญ. Aku sendiri lebih suka buku yang tipis-tipis Kak ๐Ÿคฃ kalau baca buku yang tebel suka ngos-ngos-an di jalan wkwk

      Hapus
  10. Kalo jadi pembaca bukunya Murakami tuh kesannya kayak jadi pembaca level diataas gitu ya, hehe.. soalnya semua yang pernah baca murakami tuh senada kalo bukunya terbilang berat tapi terasa keren... gimana ya ngejelasinnya? hahaha

    Makanya, demi ingin terlihat keren juga akunya, aku pengen punya satu buku murakami tapi isinya yg light, jadi kafka on the shore ini bisakah kunikmati?

    Tapi murakami juga bikin buku yg kumpulan cerpen itu kan? baguskah? Lia pernah baca?

    oia, keren banget sih Lia ngereviewnyaaa.... sedepppp, asik aja gitu ngebacanya...

    Oke deh, itu aja dulu yang mau aku komentari
    have a lovely weekend Liaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk aku ngerti Kak Ady, tapi nggak lah, nggak bisa dibilang kelas atas atau kelas berat. Menurutku buku Hujan Bulan Juni baru bisa dibilang kelas berat ๐Ÿคญ. Itu berat banget... Diksinya ๐Ÿ˜‚

      Mudah-mudahan bisaa, lebih seru kalau Kafka menurutku. Buku cerpen Murakami yang Men Without Women ya? Aku belum baca Kak ๐Ÿ˜‚ but udah ada di rak, jadi hopefully soon bisa dibaca ๐Ÿ™ˆ. Nanti kalau aku udah baca, aku review di blog deh hihihi

      Aaah Kak Ady bisaan aja muji mulu wkwk, but thank you anyway atas apresiasinya ๐Ÿ˜. Have an awesome weekend, Kak! ๐Ÿ˜

      Hapus
    2. Jadi kapan mau fotoin tumpukan buku-bukunya, pengen tahu udah sebanyak apa :D

      Hapus
    3. Wkwk sedikit Kak Adyy, cuma 30an paling ๐Ÿ˜‚ nggak sebanyak itu kok, percaya deh ๐Ÿคฃ
      Harus nyari background yang oke dulu nih buat foto ๐Ÿคฃ

      Hapus
    4. kok baru 30an? jadi masih lebih banyak baca yang versi digital berarti ya?
      iya gpp lia, i'm just kidding... tapi tetep penasaran. 30an buku fisik itu apa aja ya? pasti semuanya worth to keep, collectible item. hehe

      Hapus
    5. Karena beberapa buku yang dulu aku punya udah aku jual/kasih ke orang Kak hahaha. Terus awal tahun 2020 hanya sisa 13 buku, sampai sekarang bisa 30an itu kebanyakan buku-buku hasil timbunan yang dibeli dan belum kebaca ๐Ÿคฃ. Pastinya buku-buku yang nggak akan aku baca ulang, nggak akan aku simpan soalnya tempat penyimpanan di rumahku nggak besar ๐Ÿ˜‚
      30-an itu buku fisik ajaaa, digitalnya ada beberapa aja, juga ada yang aku baca dengan sistem pinjam seperti di Gramedia Digital, itu belum masuk hitungan ๐Ÿคฃ

      Hapus
  11. rating nya 4 dari dari 5 berarti bagus dong mbak, cuma kalo baca buku agak tebalan gitu rada males ya, apalagi yang orang super sibuk seperti gw heheheh.. sok menyibukan diri ah padahal isinya di rumah tidur :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk tidur juga suatu kesibukkan lho ๐Ÿคฃ. Mungkin Khanif bisa coba baca bukunya lewat audiobook? Jadi sambil tiduran, sambil denger didongengin gitu ๐Ÿคญ. Tapi kuat nggak kalau begini? Takutnya baru 5 menit, Khanif udah melayang wkwk

      Hapus
    2. ya boleh juga sih, cuma feelnya lebih enak kalo baca hohoho :D..

      Hapus
  12. Terima kasih ulasannya, Lia! Glad you enjoy the book.

    Aku sempat coba baca buku Murakami dulu (novel IQ84), tapi sayang kurang cocok dengan gaya penulisannya jadi belum coba lagi. Mungkin aku akan coba dari memoar beliau dulu karena karya fiksinya kurang cocok :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Kak Farah, thank you for coming! ๐Ÿ˜. Menurutku memang nggak semua orang bisa cocok dengan buku-buku Murakami hahaha, tapi Kak Farah hebat, pertama kali baca langsung yang 1Q84 ๐Ÿ˜ณ itu kan tuebel sekali~

      Hapus
  13. Ini buku Murakami pertama yg ku baca (ongoing), makanya baca blog post ini rada cepet takut kena spoilerrrr ๐Ÿคฃ

    Tapi sejauh ini aku enjoy dgn gaya kepenulisannya walaupun terkesan sangaaat lambat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk Intan, aku nggak nulis spoiler sama sekali kok, tenang aja, jadi bisa bacanya pelan-pelan ๐Ÿคฃ

      Semangat membacanya, Intan! Semakin akhir, semakin magical ๐Ÿ˜

      Hapus
  14. Aku belum pernah baca bukunya Haruki Murakami. Tapi sepertinya aku kurang tertarik kak, bisa lama banget baca buku ini selesainya. Atau sekedar baca diawal dan nggak selesai akhirnya :D
    Tapi entah nanti ya kak, siapa tau berubah pikiran hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Kak Zakia ๐Ÿ˜. Hahaha nggak apa kalau belum tertarik, mungkin suatu hari nanti akan tertarik ๐Ÿคญ, soalnya kalau dipaksakan malah nanti jadinya nggak kebaca sama sekali, sayang uangnya ๐Ÿคฃ

      Hapus
  15. Ulasan yang bagus, ngga ada spoiler nya. Sambil baca saya malah mau nanya, ini happy ending atau sad ending, wkwk.

    Belum pernah baca buku pengarang ini, tapi jadi nambah wawasan setelah baca reviewnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku bahkan bingung buku ini bisa dibilang happy atau sad ending, Kak Nisa ๐Ÿคฃ.

      Hapus
  16. wah, seru juga nih buku... udh lama jg sih aku gak baca buku.. coz lg demen nonton filem skrg..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah berubah interestnya ya, Kak ๐Ÿ˜. Suka nonton film genre apa?

      Hapus
  17. 1-1 nya novel Jepang yang pernah aku baca itu judulnya: Out, penulis natsuo kirino.

    Tp ini ttg thriller Li :D. 4 wanita, kehidupannya miris dan banyak masalah, ga sengaja salah satunya membunuh Suami ato pacarnya yg suka kdrt. Supaya ga ketahuan dia minta bantuan dgn iming2 uang, utk memutilasi suaminya, dan potongannya disebar kemana2. Tp ternyata ketahuan juga :D.

    Yg aku suka dr penulis Jepang, dia itu bisa detiiiiiiil banget kalo menjelaskan sesuatu. Bagian mutilasi sampe dijelasin ada bagian2 tubuh yg susah dipotong. Baunya kayak apa dll. Aku jujur lgs mual hahahahaha. Tp memang kan thriller begini yg aku suka dr dulu Li :D.

    Blm prnh baca sih buku penulis Jepang yg lain. Aku ga masalah kalo alurnya lambat, asal bisa dapet feel-nya makin lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Fanny, bukunya sadis banget ๐Ÿคฃ kayaknya kalau habis baca buku itu, aku bisa nggak nafsu makan karena sekarang baca cerita Kakak aja, aku udah eneg ๐Ÿคฃ. Tapi aku lihat, buku ini bintangnya cukup tinggi di Goodreads, hampir 4, wow!

      Nah ituu, yang aku suka juga sama seperti yang Kakak bilang. Mereka bisa jelasin detil banget, nggak tahu deh pas penelitiannya gimana apalagi masalah potong-memotong ๐Ÿคฃ.

      Sekarang lagi hitz AsianLit nih, Kak. Makin banyak buku-buku penulis Jepang dan Korea yang bermunculan dan rata-rata genre mystery. Kak Fanny mungkin bisa menemukan yang di suka ๐Ÿ˜

      Hapus
  18. aku belum pernah baca :D
    kalau dari cuplikannya boleh juga inti ceritanya, tapi kalau bahasa inggris bakalan luama aku nyelesainnya ini
    dan memang ya kalau aku baca buku bahasa inggris, yang mana awal awal pembahasannya aku merasa berattt dan mikir gitu, tapi kalau udah enjoy baca jagi nge-gas aja bacanya :D

    duhh kira kira si nenek kemana ya hahaha, ga ada bocoran kunci jawaban gitu kah ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Inun, ada versi terjemahannya juga, tapi jumlah halamannya lebih banyak, 900an ๐Ÿคฃ. Jadi kalau dihadapkan dengan dua pilihan gini, Kak Inun akan lebih memilih yang mana? Wkwk.

      Betul bingit. Kalau baca Bahasa Inggris, awal-awal butuh adaptasi jadi terasa berat, kalau udah klik langsung bisa gaspol huahaha

      Hapus
  19. Kalau baca nama Haruki Murakaminya sudah nggak asing, tapi aku belum pernah nyobain baca bukunya. Palingan begini baca ulasan dari orang-orang yang sudah baca, lumayan lah ya ��

    Tapi liat halaman buku ini jadi ngosngosan duluan, hahaha...

    Sementara aku baca ulasan dari blog teman-teman aja dulu, sampai terkumpul energi buat baca lagi. Entah kapan ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk Kak Pipit mungkin bisa mulai dari bukunya yang tipis-tipis dulu. Aku lebih rekomendasiin baca Norwegian Wood/Kafka On The Shore duluan, atau coba baca kumcernya yang disukai lebih banyak orang ๐Ÿ˜

      Hapus
  20. Enan ratus tujuh halaman tuh kayak buku sejarah yang masuk ke reading listku tahun ini tapi belum kesentuh sama sekali๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    Aku belum pernah baca satu pun karya Harumi Murakami Li, temenku ada yang suka sama bukunya dia. Kayaknya tipe buku yang mikir semua ya tulisan Harumi Murakami ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 607 halaman buku sejarah?! Ampun Kak Endah, aku nggak kuat wkwk. Untuk novel yang menyentuh 600-an halaman aja, aku udah engap bacanya, terus bayangin 600 halaman buku sejarah, aku pengin jadiin bantal aja ๐Ÿคฃ. Judul bukunya apa itu Kak? *tetep kepo*

      Iya, bikin mikir tapi kalau dipikirin malah jadi pusing sendiri karena nggak masuk diakal. Nah lho, jadi gimana lho? ๐Ÿคฃ

      Hapus
    2. ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ judulnya Gun, Germs, and Steel, kamu pasti pernah denger judul itu. Apa jangan-jangan malah udah pernah baca?

      Lhah...berat dan abstrak dong maksud tulisannya๐Ÿ˜ฎ

      Hapus
    3. Belum pernah baca, Kak Endah ๐Ÿคฃ. Tolong kalau Kakak udah selesai baca, bikin reviewnya di blog ya wkwk

      Hapus
  21. Karena merasa familiar sama nama pak haruki murakami saya searching dulu dan ternyata penulis norwegian wood ya. Saya nggak baca bukunya tapi nonton filmnya๐Ÿ™ˆ
    Dari review mbak lia di atas udah kedengaran menarik sih, walaupun halamannya lumanyan banyak ya. Malahan kalau genrenya agak nggak masuk akal tuh jadinya seru menurut saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Kak Triaa, apa kabarnya? ๐Ÿ˜. Iyaa, Murakami itu yang menulis Norwegian Wood. Aku ingat Kak Tria pernah bilang udah nonton filmnya waktu itu ๐Ÿคญ
      Kalau yang ini, aku nggak tahu udah dijadikan film atau belum, tapi kalau jadi film kayaknya nggak terlalu greget karena nggak banyak adegan actionnya ๐Ÿคฃ
      Wkwk seru karena jadi disuruh mikir ya, Kak?

      Hapus
  22. Belum pernah baca, Li. Tapi menurutku dari sinopsis yang kamu bawakan itu menarik banget. Dari awalnya mencari kucing, berakhir dengan mencari istrinya sendiri. Apakah kucing yang hilang adalah suatu suasana yang dibangun si istri untuk bisa melarikan diri? Ataukah si istri diculik oleh orang yang kebetulan nyolong kucingnya terlebih dahulu? Sumpah, baca sinopsisnya aja udah bikin aku penasaran cerita ini bakal di bawa kemana. ๐Ÿ˜†

    Tapi entah kenapa baca bagian2 dan bab2nya, sepertinya ini buku halamannya buanyak banget. Dan sepertinya aku bakal butuh banyak niat buat bacanya ๐Ÿคฃ. Kayaknya aku tandai dulu, deh. Kalau niat udah terkumpul, baru beli atau cari2 buku ini dulu di perpustakaan. ๐Ÿคญ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayoo hayoo jadi penasaran kan Kak Roem? ๐Ÿ˜œ. Memang kalau lihat jumlah halamannya bikin jiper duluan ๐Ÿคฃ harus ada niat yang besar untuk bacanya. Iya dicatet dulu aja, siapa tahu suatu hari nanti Kak Roem mulai merambah ke dunia Murakami, Kakak udah tahu harus baca buku apa aja ๐Ÿคญ

      Hapus
  23. Membaca review ini jadi kangen baca buku lagi hahaha belakangan sibuk nonton deh ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

    Kayaknya sekalipun aku blm pernah baca karyanya Murakami lho ๐Ÿ™ˆ ~a confession to make

    Tapi baca review ini pengen baca bangwt Lia,, genre realm ini selalu menarik sih, karena kita bisa ngayal sengayal2nya pas baca, jadi sewruuu. Keren euy ulasan kamu Lia! Ditunggu ulasan buku berikutnyaaa ๐Ÿค ๐Ÿค 

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk ayo Kak Kartika baca buku lagi ๐Ÿคญ. Nggak apa kalau belum pernah baca Murakami~ aku tetap akan berteman dengan Kak Tika kok ๐Ÿคญ. Kalau Kak Tika suka genre magical realm, kapan-kapan boleh nih baca karya Murakami, siapa tahu Kakak jadi suka hihihi. Terima kasih udah mampir ke sini Kak ๐Ÿ’• Siaap! Nanti pasti akan ada racun buku lainnya hihihih

      Hapus